PENGELOLA Perpustakaan Balai Kota terus berbenah dalam meningkatkan minat baca pegawai negeri sipil (PNS) dan masyarakat umum. Salah satunya dengan mengedepankan tata tertib didalam perpustakaan.
Laporan: ARIF AL QADRY
Tata tertib tersebut wajib dipatuhi setiap pengunjung termasuk mereka yang hendak meminjam buku dari perpustakaan kota.
Seperti halnya pengunjung diharuskan terlebih dulu membuat kartu anggota perpustakaan secara gratis dengan menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP). Mereka-pun hanya boleh meminjam buku minimal dua judul buku dalam jangka waktu seminggu.
Selain dapat meminjam buku, anggota perpustakaan juga mendapatkan diskon sebesar 10 persen tiap pembelian buku di toko buku yang telah bekerjasama pihak perpustakaan kota.
Selain itu, jika batas waktu peminjaman buku sudah berakhir dan pembaca belum juga mengembalikan buku yang dipinjamnya, maka pengelola perpustakaan kota akan menyurat kepada anggota pembaca untuk meminta kejelasan terkait buku yang dipinjamnya tanpa mengenakan denda.
Sementara jika anggota menghilangkan buku yang dipinjamnya, maka pengelola perpustakaan menjatuhkan denda dengan meminta pertanggungjawaban anggota dengan cara mengganti buku yang hilang sesuai judul yang sama.
“Memang kadangkala ada anggota yang menghilangkan buku. Mereka secara sadar langsung menggantinya dengan mencari dan membeli buku sendiri dengan judul yang sama,” kata Fungsional Pustakawan, Nurkausiani di depan penulis.
Dia menambahkan, perpustakaan yang berada di lantai dasar Kantor Balai Kota Makassar, Jalan Ahmad Yani, masih saja diramaikan oleh pengunjung baik pegawai maupun masyarakat umum.
Khusus pegawai, mereka lebih menyukai membaca sejumlah media cetak yang sudah tersusun rapi diatas meja baca usai mengikuti apel pagi.
Perpustakaan kota hanya memiliki ukuran panjang ruangan sekitar delapan meter dengan lebar empat meter. Di ruangan tersebut hanya dijaga oleh empat orang staf dari Badan Arsip, Perpustakaan dan Pengolahan Data Kota Makassar yang selalu siap melayani para pengunjung. Beberapa komputer pengolahan data juga nampak terlihat ditiap-tiap meja para staf yang menjaga perpustakaan.
Sementara ribuan literatur buku-buku juga terlihat tersusun rapi didalam etalase baik yang terbuat dari kayu ataupun yang tebuat dari kaca. Setiap rak buku ditempelkan judul buku yang dapat memudahkan para pengunjung mencari buku yang dibutuhkan.
Di dalam perpustakaan kota juga terdapat sebuah meja yang burukuran panjang tiga meter dan lebar tiga meter dengan enam buah kursi yang disediakan untuk pengunjung yang ingin duduk sambil membaca buku.
Sebelum meminjam buku untuk dibaca di tempat, para pengunjung terlebih dahulu mengisi daftar tamu di kertas selembar yang telah disedikan oleh penjaga perpustakaan kota. Lembaran kertas sudah terisi nama, pekerjaan, umur, dan paraf.
Menurutnya, selain para pegawai lingkup Pemkot Makassar, para pengunjung perpustakaan kota juga ramai dikunjungi oleh mahasiswa ataupun pelajar SD, SMP dan SMA yang ingin mengerjakan tugas dengan mencari bahan referensi dari buku yang ada di perpustakaan kota.
Dari ribuan buku yang disediakan, buku seni budaya, ekonomi dan administrasi negara yang paling banyak dibaca oleh pelajar mulai dari tingkat SMA sampai mahasiswa. Sedangkan untuk anak SD yang datang kebanyakan hanya mencari buku cerita kisah hidup dan dongeng.
Untuk dapat mempertahankan kualitas kertas buku yang disediakan agar tidak dimakan rayap, tambah Nurkausiani, pihak perpustakaan kota setiap tahun melakukan penyemprotan cairan yang disebut pumigasi didalam rak bukup-buku yang tersimpan, agar tidak mudah rusak.
“Ditahun 2015 kemarin, kami mencatat sebanyak 1.005 orang yang meminjam buku di perpustakaan kota dengan jumlah eksamplar yang keluar sebanyak 2.275. Sementara di tahun 2016 ini data pengunjung yang meminjam buku yang terhitung sejak awal 1 Januari hingga 15 Februari tercatat sebanyak 17 pengunjung dengan jumlah 34 eksamplar yang dipinjam,” ucapnya.
Sementara itu, salah seorang mahasiswi yang mengunjungi perpustakaan, Erni mengatakan, dia berkunjung ke perpustakaan guna mencari referensi buku untuk tugas-tugas kuliahnya. “Kebetulan saya jurusan akuntansi, suka banyak tugas. Makanya sering ke perpustakaan untuk cari referensinya,” kata Erni.
Apa tanggapan Erni mengenai budaya membaca di era digital saat ini?.“Kalau kalangan mahasiswa pasti sadar membaca. Mau tidak mau, namanya mahasiswa harus baca buku. Nah, kalau kalangan masyarakat umum atau pekerja mungkin tidak banyak waktu untuk membaca baca buku, makanya mereka lebih memilih membaca di internet,” jelasnya.(arf/b)

