MAKASSAR, BKM– Kondisi saluran drainase di Kota Makassar masih sangat memprihatinkan. Selain ada yang rusak, persoalan sedimentasi juga membuat air tidak bisa mengalir secara maksimal. Olehnya itu, Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto penyoroti penutupan drainase seperti yang dilakukan Toko Agung.
Sesuai data PSDA menunjukkan sepanjang 2020 panjang saluran yang dikeruk capai 116.991,7 meter dengan total kubikasi atau sedimentasi 53.500 meter kubik.
Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) dan Drainase Dinas Pekerjaan Umum (PU) Makassar, Syafar Madjid mengatakan, saat ini kondisi saluran di Makassar tak lagi berfungsi sebagai saluran pembuangan. Banyak area yang di atasnya telah ditutupi. Baik itu untuk aktivitas masyarakat maupun untuk lahan komersialisasi. Salah satu yang menjadi sorotan adalah drainase yang ditutup oleh Toko Agung.
Dia melanjutkan, aktivitas pengerukan menjadi agenda wajib yang mesti dilakukan.
“Jika dibiarkan maka sedimentasi itu cepat memenuhi beberapa saluran. Jadi kita mesti gerak cepat. Tidak harus menunggu musim hujan,” ujarnya.
“Tiap tahun kita memang target di atas 50 ribu meter kubik untuk kubikasinya. Ini standar untuk meminimalisasi adanya penyumbatan. Ini jalan terus dan kita pantau,” katanya.
“Tak ada penyempitan. Cuma itu, biasa tim satgas harus berusaha untuk mengeluarkan sedimentasinya,” ucap dia. Untuk saat ini ada 480 petugas satgas yang dikerahkan. Mereka bekerja melakukan pengerukan tiap hari.
Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto, juga menyayangkan saluran drainase yang tidak terawat. Apalagi yang beralih fungsi.
Secara khusus, dia menyoroti drainase yang ditutup oleh Toko Agung di Jalan Ratulangi yang dijadikan lahan parkir.
Danny mengatakan dalam waktu dekat akan melakukan pertemuan dengan sejumlah pihak terkait untuk menyelesaikan persoalan ini. (rhm)

