SEBAGAI pembaca doa di kuburan hanya dibutuhkan kemahiran kita membaca doa-doa dalam Al Quran termasuk menghayatinya. Biasanya pembaca doa yang sering dijumpai di lokasi perkuburan rata-rata berusia senja, seperti Daeng Ambo Saleng.
Laporan:RIDHO HUDAYAH-FADLI YUSUF
Sebagai pembaca doa di kuburan, Daeng Ambo sering dipercaya oleh peziarah untuk membacakan doa keluarga mereka yang telah meninggal.
Sebelum menjadi pembaca doa di kuburan sejak tiga tahun lalu, Daeng Ambo sempat bekerja sebagai butuh bangunan dan karyawan di salah satu lokasi pemotongan ayam.
“Saya sudah tiga tahun sebagai pembaca doa di Kuburan Panaikang. Sebelumnya saya bekerja sebagai buruh bangunan dan tempat pemotongan ayam yang berada di Pasar Sentral. Saya tidak bekerja lagi karena kesehatan agak terganggu,” kata Daeng Ambo kepada penulis.
Menurut dia, di masa pandemi covid-19 ini tentunya peziarah merasa waspada beraktivitas di luar rumah sehingga rezeki yang ia dapat bisa dikatakan kurang. Meski begitu tetap disyukuri.
“Harapan saya semoga pandemi ini secepatnya berlalu agar masyarakat atau keluarga kerabat bisa berkunjung tanpa ada kekhawatiran,” jelasnya.
Tidak ada tarif khusus yang dipasang untuk jasa yang ditawarkannya. Setiap warga yang menggunakan jasanya hanya memberi dengan keikhasan.
“Ya namanya kita mencari rezeki, seikhlasnya warga mau memberi berapa. Ada yang ngasih Rp 20.000 ada juga Rp 50.000,” tuturnya dengan enggan menyebut berapa jumlah yang didapatnya dalam sehari.
Ia pun kemudian memimpin pembacaan doa mulai dari Surat Al Fatihah, Surat Yaasin, serta tahlil. Beberapa doa lain juga dilantunkan untuk mendoakan ahli kubur.
Rata-rata ia membaca doa di makam selama 15-20 menit.
Ambo menambahkan, ia hanya menjadi pembaca doa di kuburan tiap jelang Ramadan dan saat lebaran saja.
“Kalau hari biasa saya dirumah aja main sama cucu, kesininya kalau lagi mau puasa dan pas lebaran,” katanya.
Ia juga mengaku, selain jasa membacakan doa, ia juga seringkali dipanggil warga untuk memandikan jenazah dan ikut dalam kegiatan barasanji.(*)

