JENEPONTO, BKM–Politisi Partai Gerindra yang kini tercatat sebagai anggota Komisi IV DPR RI, Azikin Solthan menjadi juru bicara dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama BUMN klaster pangan di di Kantor Sekretariat Partai Gerindra Jalan Lanto Dg Pasewang Bontosunggu, Rabu (19/5).
Dalam kesempatan itu, Azikin menyampaikan sejumlah persoalan di berbagai daerah, termasuk di Jeneponto. Sejumlah BUMN dalam klaster pangan hadir dalam rapat tersebut diantaranya PT RNI, PT Pertani, Berdikari, Sang Hyeng, PT Garam, Perikanan Nusantara dan Perikanan Indonesia.
Azikin membeberkan sejumlah permasalah yang terkait dengan klaster pangan diantaranya persoalan pupuk yang disampaikan kepada PT Pertani. PT Pertani adalah salah satu BUMN yang memproduksi dan mendistribusikan pupuk di Indonesia.
Dia mendorong agar PT Pertani untuk memikirkan dan mengembangkan pupuk berkualitas di tengah kebijakan pemerintah yang mulai mengurangi pupuk kimia subsidi.
“Saat ini kebanyakan petani enggan untuk menggunakan pupuk organik karena menganggap bahwa pemakaian pupuk organik belum mampu menghasilkan produksi seperti pemakaian pupuk kimia. Untuk itu Fraksi Partai Gerindra meminta PT Pertani untuk serius memikirkan dan mengembangkan pupuk organik yang berkualitas dan dapat digunakan oleh petani secara massif,”jelas Azikin.
Dia juga meminta kepada PT Garam (Persero) untuk ikut membantu pemerintah menekan impor garam. Salah satunya dengan melakukan penyerapan garam rakyat.
Mantan Kepala Inspektorat Sulsel ini menyebut, salah satu masalah utama penyerapan garam rakyat adalah kualitas yang tidak memenuhi standar kebutuhan industri. Pada 2020 sebanyak 738.000 ton garam rakyat tidak terserap industri, dikarenakan stadar kadar Natrium Klorida (NaCl) yang dibutuhkan indusri sekitar 94 persen-96 persen.
Untuk itu, petani garam di Jeneponto, juga merasakan dampak negatif dari impor garam. “Di Dapil saya di Jeneponto, masyarakat di sana menjerit ketika pemerintah impor garam,” kata dia.
Untuk itu, Azikin mengajak kepada PT Garam untuk menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi guna mendorong peningkatan kualitas SDM petani garam. Dengan begitu, hasil produksi garam bisa menjadi lebih meningkat.
“Kebijakan pemerintah harus berpihak kepada petani garam kita. Ini harus segera kita lakukan untuk mendorong peningkatan produksi garam sesuai standar industri,” jelas dia.
Azikin juga meminta kepada Perum Perikanan Indonesia untuk membuka akses bagi nelayan daerah yang memiliki potensi perikanan yang diminati internasional untuk kemudahan akses pasar.
“Sekaligus mempermudah modal untuk sektor swasta terutama pihak swasta yang membantu komunitas perikanan daerah atau petambak lokal,” jelas dia.
Direktur Utama PT RNI, Arief Prasetyo Adi berharap holding ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari DPR RI sampai dengan kementerian terkait. Saat ini progresnya juga sudah dibahas secara intens dengan kementerian terkait.
“Kita mau BUMN holding klaster pangan dapat dukungan, terbentuk maksimal pada kuartal III tahun ini di September. Saat ini kita laporan klaster pangan belum terbentuk holding pangan tapi sudah dibahas pada kementerian terkait dengan intens,”ucap Arief. (krk/rif/c)

