pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Infodemi Justru Lebih Berbahaya dari Virus Korona

Webinar Mafindo Edukasi Penanganan Infodemi

PENANGANAN covid-19 yang gencar dilakukan pemerintah sedikit terhambat dengan banyak hoaks (berita bohong) soal covid-19 dan isu vaksinasi. Bahkan berita hoaks atau infodemi itu dianggap justru lebih berbahaya dibanding virus itu sendiri.

Laporan: FACHRUDDIN PALAPA

Besarnya bahaya infodemi terungkap dalam webinar yang digelar Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) bekerja sama dengan Internews yang berlangsung Sabtu, 21 Agustus. Webinar menghadirkan empat narasumber yakni Firdaus Muhammad, Dr Muji Iswanty, Dr Syamsu Rizal, dan Dedy Helsyanto.
Firdaus mengatakan sangat banyak hoaks yang beredar di masyarakat tentang vaksinasi dan isu covid-19 lainnya. Banyak yang menganggap covid-19 ini konspirasi sehingga sebagian masyarakat masih enggan menerapkan protokol kesehatan.

“Coba jalan-jalan ke utara Makassar, sebagian warga di sana masih enggan menggunakan masker. Bahkan juga enggan melakukan vaksin. Ini terjadi karena beredar hoaks macam-macam soal bahaya vaksin dan segalanya,” katanya.
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar itu menyarankan Mafindo bisa merekrut remaja masjid atau tokoh-tokoh berpengaruh di daerah setempat dalam melawan berita hoaks yang banyak dipercaya sebagian warga.
“Hoaks atau infodemi ini sangat mengganggu program penanganan covid-19 yang dilakukan pemerintah bersama masyarakat. Infodemi ini lebih bahaya dibanding virus itu sendiri,” kata Firdaus lagi.
Hal sama disampaikan Dr Muji. Ketua Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia (MHKI) yang juga pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Makassar ini juga mengakui banyaknya hoaks yang beredar tentang vaksin dan covid. Ia mengatakan ada hoaks yang menyatakan orang tambah sakit jika sudah divaksin. Bahkan ada yang sampai meninggal dunia.
Menurut Muji itu semua tidak benar. Memang, kata dia, setelah melakukan vaksin, kadang-kadang ada reaksinya. Ada yang kadang-kadang demam, pusing, dan lainnya. Bayi saja yang sudah divaksin biasa, kadang-kadang demam.
“Jadi reaksi setelah divaksin itu bermacam-macam. Bergantung kondisi imun tubuh. Banyak juga yang setelah divaksin tidak memiliki reaksi apa-apa,” katanya.

Pengurus Palang Merah Indonesia (PMI) Sulawesi Selatan itu meminta aparat kepolisian meindak tegas pelaku penyebar berita hoaks tentang covid dan vaksin. Ini penting, kata dia, agar ada efek jera bagi pelaku dan masyarakat tidak percaya begitu saja hoaks itu.
Alumni spesial kulit itu mengaku pernah diteror dan diancam oleh oknum yang tidak percaya covid-19. Tetapi ia tidak gentar. Sebagai tenaga kesehatan, ia tetap ikhlas menjalankan tugas merawat siapapun yang sakit.
Ketua PMI Makassar, Syamsu Rizal yang juga menjadi narasumber berbagi pengalaman kepada peserta webinar. Mantan Wakil Walikota Makassar itu mengatakan ribuan relawan PMI terlibat aktif dalam penanganan covid-19 termasuk melakukan donor darah dan donor plasma bagi mantan penderita covid-19.
Pria yang akrab disapa Daeng Ical ini mengapresiasi kegiatan Mafindo yang memberi edukasi infodemi kepada publik. Ia mengatakan edukasi seperti ini penting agar masyarakat tidak terpapar hoaks. Apalagi isu kesehatan termasuk vaksin yang menurut Daeng Ical amat sangat sensitif.
Narasumber lainnya, Dedy Helsyanto mempraktikkan cara memeriksa fakta berita hoaks. Dedy juga menyarankan kepada warga yang menemukan hoaks atau meragukan sebuah berita, bisa melakukan cek fakta atau menghubungi relawan Mafindo.

Webinar diikuti lebih seratus orang. Peserta didominasi mahasiswa dari beberapa kampus di Makassar. Selain mahasiswa, beberapa remaja dan masyarakat juga ikut bergabung. (*)




×


Infodemi Justru Lebih Berbahaya dari Virus Korona

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link