MENGAWALI sebuah profesi dari yang sebenarnya tidak diinginkan. Itulah yang dilakoni Deasy Widya Hayer. Siapa sangka, kesuksesan kini direngkuhnya. Bagaimakan kisahnya?
MENJADI tamu di podcast untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Senin (17/1), perempuan yang akrab disapa Deasy ini bercerita bahwa ia benar-benar aktif terjun di dunia modeling sejak tahun 2008. Walau ia sempat tak pernah mau masuk ke dunia entertain ini.
”Awalnya kakak saya yang terjuan duluan jadi model. Kalau saya tidak mau, karena tomboy. Model itu tabrakan dengan karakter saya. Justru yang saya ambil olahraga basket dan parkibra. Tidak ada girlinya,” tutur Deasy.
Namun, upaya sang kakak untuk mendorong Deasy mau menjadi model, akhirnya berbuah hasil. ”Saya kemudian coba-coba. Setelah terjun di dalamnya ternyata seru. Pandangan jadi terbuka. Ketika kakak taruh di posisi itu, saya kemudian menikmatinya dan enjoy,” imbuhnya.
Deasy lahir dari bapak yang Ambon dan ibu Gorontalo. Tidak heran jika ia pernah terpilih sebagai Puteri Indonesia Gorontalo 2011 dan
Miss Indonesia Gorontalo 2010
.
”Ini tentu kebanggaan buat saya. Walau waktu itu belum pernah ke Gorontalo, namun mama selalu mengedukasi tentang Gorontalo. Dari situ kemudian saya menjadi tahu seperti apa Gorontalo, walau fisiknya belum lihat langsung. Artinya, tidak kaget,” ujar pemilik tinggi badan 172 sentimeter ini.
Seiring berjalannya waktu, setelah 15 tahun bergelut di dunia modeling, Deasy kemudian mendirikan sekolah modelling di Makassar. Namanya Deacy Hayer Modelling School.
”Mau share pengalaman dan ilmu yang saya dapat selama ini. Kalau hanya untuk diri sendiri, sayang. Banyak yang bisa dibagi,” begitu alasan Deasy mendirikan sekolah modeling.

Sebenarnya, sekolah model ini sudah cukup lama ia dirikan. Namun karena ada kontrak dengan salah satu televisi swasta, akhirnya ia pindah ke Jakarta. Barulah pada Agustus 2021 lalu dibuka, setelah pandemi melandai.
Deasy yang telah berkeluarga, dikaruniai seorang putri yang kini berusia enam tahun. Ia berusaha agar karir dan keluarganya bisa sejalan. Tidak heran, sang putri perlahan mulai mengikuti jejak sang mama yang aktif di modeling.
Selain model, Deasy juga seorang selebgram. Namun untuk endorse, ternyata ia sangat selektif menjatuhkan pilihan. Jika tidak bisa mempertanggungjawabkan ke depannya, Deasy tidak mengambilnya. Kecuali bila ada temannya yang minta tolong dia siap membantu.
”Selebgram itu kan sudah menjadi publik figur. Dilihat dan diikuti oleh yang menontonnya. Karena itu saya mesti selektif kalau ada tawaran endorse,” jelasnya. (*)

