KULINER nasi kuning banyak ditemui di Makassar. Namun, yang memiliki ciri khas tersendiri tidak begitu banyak. Salah satunya adalah usaha Nasi Kuning Cilik.
DUA orang perempuan mengenakan pakaian dengan motif dan warna yang sama. Namanya Darmawati dan Darmayanti. Mereka adalah pemilik usaha Warung Nasi Kuning Cilik. Keduanya menjadi tamu dalam siniar (podcast) untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Jumat (11/2).
Darmawati merupakan sulung dari 10 bersaudara. Sementara Darmayanti anak bungsu. Keduanya bersama-sama mengelola warung nasi kuning yang berlokasi di Jalan Sungai Limboto dan Cenrana, Kota Makassar.
Menurut Darmawati, usaha yang kini digelutinya dirintis oleh neneknya pada tahun 1975. Ketika itu sang nenek menggunakan daun pisang untuk membungkus nasi kuning jualannya. Selain itu, ada pula ciri khas seperti sambal, serudeng, serta telur yang dimasak hitam.
”Waktu pertama buka dulu itu pelanggan nenek saya semuanya anak-anak. Mereka sering datang makan. Nenek saya kemudian berpikir untuk memberikan nama Warung Makan Nasi Kuning Cilik,” tutur Darmawati tentang asal usul nama tempat usahanya.
Warung makan ini tempat berhenti beroperasi karena tidak ada yang melanjutkannya. Barulah pada tahun 2019 Darmawati bersama adiknya Darmayanti kembali membukanya. Awalnya dari Jalan Sungai Limboto. Tiga tahun kemudian menambah satu cabang di Jalan Sungai Cenrdana.
Saat ini anak-anak masih kerap antre untuk membeli nasi kuning di tempat ini. Biasanya mereka membawanya ke sekolah. Ada pula untuk sarapan pagi di rumah.
Harga yang ditawarkan bervariasi. Antara Rp10 ribu hingga Rp25 ribu. Ada banyak pilihan menu. Mulai dari isi ayam, telur, sayur, mi goreng dan serudeng.
Ditanya tentang omzet. Darmawati tidak menyebut secara pasti. Namun biasanya warung kuliner ini menjual nasi kuning sekaligus menerima orderan. Jumlah orderan biasanya dari puluhan hingga ratusan bungkus.
Selain itu, di warung ini juga ada nasi kotak, nasi campur, nasi rawon, dan yang menjadi andalan nasi kuning. Ada pula lontong sayur serta songkolo.
Darmawati yang memiliki sembilan orang adik, mengaku bahwa pandemi tidak berpengaruh terhadap usahanya. Ia mampu bertahan dengan melayani pesanan dari orang yang melaksanakan pengajian, taksiah, ulang tahun, rapat di kantor-kantor serta bank.
Darmawati mengenang, di usia 10 tahun ia sempat membantu neneknya berjualan nasi kuning. Karenanya, dia cukup tahu rahasia dapur dari sang nenek.
Namun, di tahun 2000 ia pindah ke Kendari, Sulawesi Tenggara. Di sana, awalnya ia juga membuka usaha nasi kuning. Namun kemudian menggantinya dengan konro dan pallu basa.
Di tahun 2018 Darma kembali ke Makassar dan membuka usaha warung nasi kuning. Awalnya di Jalan Veteran, lalu pindah lagi ke Monginsidi Baru. Setelah itu ke Sungai Limboto.
Daun pisang yang menjadi ciri khas kemasan, diakui Darma, diperoleh dari penjual yang sudah menjadi langganannya. Dalam sehari ia bisa menghabiskan 60 lipat daun pisang, dengan harga Rp150 ribu. Hasilnya bisa mencapai ratusan bungkus. Artinya, ada ratusan bungkus nasi kuning Cilik dibeli pelanggan. Itu belum termasuk kuliner yang dijual dengan kemasa dos. (*/rus)

