ENERGIK dan ramah. Tak jarang, wanita berjilbab yang mengantar makanan atau minuman ke pemesannya berguyon alias bercanda. Itulah sosok Al Mukaromah Nasir atau kerap disapa Rima.
Laporan: RAHMA AMRI
Sudah sekitar empat bulan dia menjadi pengantar makanan di kantin Mama Eka yang berada di lingkup kantin Pemprov Sulsel.
Jika pemesan menelpon kantin Mama Eka untuk dibawakan makanan atau minuman, maka yang bertugas mengantarkan ke pelanggan adalah Rima. Kendati harus bolak-balik kantin, hingga ke lantai empat kantor gubernur, tak tersirat rasa lelah di wajahnya. Dia selalu ceria.
Anak gadis berusia 18 tahun itu bukan tanpa alasan memilih menjadi pengantar makanan. Ada niat mulia dari aktifitas tersebut.
Dia berharap, dari hasil jerih payahnya, bisa mengumpulkan uang untuk biaya kuliah. Sejak SMA, wanita berjilbab ini memang sangat ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Sejak kecil, nilai pelajaran Rima sangat cemerlang. Dia kerap jadi langganan juara kelas. Namun, sadar karena kondisi ekonomi keluarganya tidak memungkinkan, dia harus bekerja mandiri untuk mengumpulkan uang membiayai kuliah. Kebetulan ada salah seorang staf di kantor gubernur yang juga kerabatnya memberikan tawaran untuk menjadi pengantar makanan di kantin Pemprov Sulsel. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ternyata, ada jalan untuknya agar bisa kuliah. Diapun menerima tawaran itu dengan senang hati. Kendati rumahnya di daerah MoncongloE Kabupaten Maros, namun dia tetap semangat untuk mengubah masa depannya. Karena jarak rumah ke tempat kerja cukup jauh, dia pun kredit motor untuk melancarkan aktifitasnya. Dalam sehari, dia diberi upah Rp40 ribu rupiah. Uang itulah yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Selain untuk membayar cicilan motor, upahnya juga disimpan untuk membayar pendaftaran kuliah.
“Alhamdulillah sudah terkumpul lumayan. Sudah bisa daftat kuliah bulan Mei mendatang,” ungkap Rima kepada BKM di sela-sela kesibukannya mengantar makanan dan minuman, Senin (28/3).
Perempuan lulusan SMAN 8 Mandai itu berencana akan mendaftar di salah satu universitas yang ada di Kabupaten Maros. Dia merasa sangat beruntung karena aktifitasnya sebagai pengantar makanan di kantin sangat fleksibel waktu. Alasannya, dia bisa bekerja Senin hingga Jumat berdasarkan jam kerja pegawai. Sementara Sabtu dan Minggu digunakan untuk kuliah.
“Rencananya nanti begitu kalau saya sudah kuliah,” katanya semangat. (rhm/war)

