MAKASSAR, BKM — Komisaris Utama (Komut) Telkom, Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, terus mendorong UMKM di Makassar kembali bangkit. Untuk itu, dibutuhkan kreativitas dari masing-masing UMKM dengan memanfaatkan keunggulan produk yang dihasilkan.
”Di tengah pandemi Covid-19 harus diimbangi dengan keunggulan produk. Karena kreativitas dan talenta UMKM sangat berperan untuk bertahan dalam situasi sulit,” tutur Bambang saat berdialog dengan UMKM Laras Hatiku di pemukiman nelayan, Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sabtu (12/3).
UMKM Laras Hatiku merupakan salah satu mitra binaan Telkom sejak tahun 2019 yang bergerak dibidang kerajinan rotan. Khususnya piring, vas bunga, dan hiasan perahu Pinisi.
Pada kesempatan tersebut, Executive Vice President Telkom Regional 7, Agus Yudha Basuki, Deputy EVP Infrastructure, Abdul Rahman Ansyory, Deputy EVP Marketing, Mohammad Syibli, GM Witel Makassar, Nuryadin Salam, turut menghadiri acara tersebut.
Bambang menambahkan, Telkom berkomitmen untuk terus membantu masyarakat dalam membangkitkan ekonomi masyarakat melalui program Corporate Social Responsibility. Juga dengan memberikan pelatihan pemasaran agar UMKM dapat bersaing dan meningkatkan kualitasnya.
Menurut Bambang, potensi UMKM di Makassar khususnya kerajinan rotan masih sangat dibutuhkan dan sangat berpotensi untuk mendorong kemajuan ekonomi di Makassar.
Dalam dialog dengan pemilik Laras Hatiku, Muh Tahir Efendy menyebutkan, memilih usaha rotan setelah gulung tikar dari usaha sebelumnya. Dia terinspirasi setelah mengunjungi pameran ASEAN Forum dan merasa rotan merupakan salah satu bahan pokok yang mudah didapatkan. Namun pandemi Covid-19 membuat usahanya menurun drastis. Tidak ada lagi kegiatan pameran yang merupakan salah satu peluang produknya terjual.
Sehari sebelumnya, Bambang juga mengunjungi salah satu mitra binaan Telkom, Aspar Acrylic, di Jalan Barawaja Tallo Makassar, Jumat (11/3). Usaha ini bergerak dibidang acrylic dengan merangkai berbagai jenis bunga yang digemari ibu-ibu.
Rahmatia pemilik Aspar Acrylic mengatakan, sebelumnya ia memiliki usaha kelontong. Kemudian bertekad meninggalkan usahanya, karena terinspirasi dari sampah-sampah yang menurutnya bisa didaur ulang dan dijadikan usaha kerajinan sejak tahun 2015. (mir)

