MAKASSAR, BKM — Pemerintah pusat bakal menambah armada bus di wilayah Maros, Makassar, Sungguminasa dan Takalar (Mamminasata).
Jumlahnya mencapai 246 unit, dan nantinya akan dibagi dalam beberapa koridor. Bus tersebut nantinya akan masuk menjadi transprotasi utama di Mamminasata menggantikan Teman Bus.
“Itu berdasarkan masterplan untuk konektivitas semua spot, akan ada tambahan armada baru, itu sebanyak 246 bus,” terang Plh Kepala Dinas Perhubungan Sulsel, Aruddini disela sela kunjungan Perdana Menteri Australia di kantor Gubernur Sulsel, Selasa (7/6).
Lebih lanjut bus-bus itu dipastikan memiliki diameter yang jauh lebih besar dengan Teman Bus. Jika sesuai dengan masterplan, maka bus itu akan mulai beroperasi pada awal tahun 2023 mendatang.
“Itu kerjasama RI-Australia dan Kabupaten/Kota,” ungkap dia.
Dia menambahkan, masuknya transportasi massal ini akan membuat pemetaan trasnportasi umum Makassar akan kembali dirombak. Dia mengaku skema itu sudah dikantongi pihaknya. Sisa menunggu pengaplikasian.
Sementara bus baru ini operasionalnya kata dia akan berjalan poin to point antar stasiun, akan berjalan di jalur primer, sedangkan kolektor primer adalah feeder dimana nantinya akan diambil alih oleh teman bus saat ini. Sedangkan kolektor sekunder nantinya akan diisi oleh angkot alias Petepete.
“Jadi nanti teman bus akan bertindak sebagai feeder, tidak lagi utama seperti saat ini,” terangnya.
Dia melanjutkan operasional armada baru ini nantinya akan berpusat di CPI, dan menghubungkan kawasan-kawasan wisata yang banyak dikunjungi hingga Bandara Sultan Hasanuddin.
Sementara untuk mengantisipasi penolakan dari para supir angkot, pihaknya akan membangun skema kerjasama.
“Maka kecil kemungkinan, karena ini dibahas secara runut nanti sebelum berjalan,” terang dia.
Sementara itu pengembalian jalur koridor 2 teman bus trans Mamminasata hingga saat ini masih menggantung.
Pemerintah Provinsi masih belum mendapatkan kepastian dari pusat. Aruddini mengatakan pihaknya telah menjalin komunikasi dengan Kementerian Perhubungan pascakunjungannya ke Sulsel belum lama ini.
“Kita sudah sampaikan support kita dari Pemda. Pemindahannya kembali, itu beberapa titik kan sudah diminta untuk tidak mengambil penumpang, ini belum ada kejelasan,” terang dia.
Pengadaan armada baru sekaligus merombak peta transportasi massal di Makassar dipastikan akan ikut menyelesaikan masalah pemindahan armada koridor dua yang saat ini masih bermasalah.
Pengamat Transportasi Universitas Hasanuddin, Muh Isran Ramli menerangkan, keberadaan armada bus baru ini diproyeksi akan mendapat tantangan serupa dengan Teman Bus.
Bahkan berpotensi jauh lebih rumit. Armada besar umumnya perlu kajian mendalam sebelum mengaspal, terutama karena diameter sangat berpengaruh dengan waktu tempuh. Semakin besar armada itu, maka semakin sulit bergerak di tengah kepadatan jalan-jalan Makassar.
“Ini tergantung dimensi kalau besar, dan kapasitas jalan memadai tidak masalah, ini perlu dikaji, bagaimana sistem manajemen tracinnya, karena saat ini untuk teman bus bercampur tapi diberi prioritas, nah bus baru ini bagaimana,” jelasnya.
Pun jika diberikan jalur khusus sepeti trans Jakarta, ada potensi terjadi antrian dengan kondisi jalan di Makassar yang rata-rata kecil.
Selain itu integrasi juga harus dilakukan dengan baik, jangan sampai masalah penolakan ini kembali terjadi. Perlu ada pemberdayaan di kalangan sopir-sopir Petepete agar mereka tidak merasa disisihkan.
Perlu pula skema subsidi penuh kembali diberlakukan kepada armada-armada ini. Sebagai bentuk pengenalan awal ke masyarakat.
“Saya kira kalau mengacu ke dua percontohan yang sudah berdiri ini, konsep subsidi full seperti model teman bus jauh lebih efektif dan berkelanjutan,” terangnya. (jun)

