pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Advokasi dan KIE untuk Pengasuhan 1000 HPK Guna Turunkan Stunting

MAKASSAR, BKM — Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulawesi Selatan melaksanakan Advokasi dan KIE tentang Promosi dan KIE Pengasuhan 1000 HPK dalam Rangka Percepatan Penurunan Stunting untuk Mitra Kerja dan Pemangku Kebijakan Daerah. Kegiatan selama dua hari ini, 27-28 Agustus 2022 dilaksanakan di Swissbell-In Hotel, Makassar.

Sebanyak 82 orang peserta mengikuti kegiatan ini. Terdiri dari kepala OPD KB kabupaten/kota, kepala Bappelitbangda kabupaten/kota, kepala Dinas Pemerintahan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, serta mitra kerja provinsi, seperti Dinkes, PKK, IBI, dan IDAI.

Kepala Perwakilan BKKBN Sulsel Dra Hj Andi Ritamariani,MPd mengatakan, advokasi dan KIE ini dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah keluarga dengan baduta yang mendapatkan fasilitasi dan pembinaan 1000 HPK. Juga meningkatkan komitmen pemangku kebijakan dan mitra kerja di tingkat kabupaten/kota.

Sebagai upaya percepatan penurunan stunting, maka diperlukan sinegritas dan kolaborasi lintas sektor yang diwujudkan dalam bentuk dukungan anggaran kegiatan promosi media dan KIE pengasuhan 1000 HPK melalui kelompok BKB

”Intervensi stunting yang dilakukan terbagi menjadi dua, yaitu intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Intervensi gizi spesifik merupakan intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 1000 Hari PertamaKehidupan (HPK) dan berkontribusi pada 30 persen penurunan stunting,” jelas Andi Rita.

Intervensi stunting yang kedua adalah intervensi gizi sensitif. Intervensi ini idealnya dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan dan berkontribusi pada 70 persen intervensi stunting. Sasarannya adalah masyarakat secara umum dan tidak khusus kepada ibu hamil dan balita pada 1000 HPK.

Pemberdayaan keluarga terhadap pengasuhan yang benar dalam 1000 HPK diharapkan dapat meningkatkan kemampuan keluarga terhadap sadar gizi dengan menerapkan prinsip gizi seimbang dan memberikan stimulasi yang tepat, sehingga tumbuh kembang anak optimal. Salah satunya dilaksanakan melalui kelompok kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB).

Kegiatan yang dilakukan melalui penyuluhan oleh kader BKB kepada orang tua dan anggota keluarga lain, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengasuh dan membina tumbuh kembang anak.

Ketua Panitia yang juga Koordinator Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Sulsel Irmawahyuni Bachtiar, mengatakan, kejadian stunting merupakan salah satu masalah gizi yang dialami oleh balita di dunia sampai saat ini. Hal itu disebabkan oleh faktor multidimensi, tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita.

”Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting perlu dilakukan pada 1.000 HPK atau dari anak umur 0-2 tahun,” ujarnya.

Beberapa faktor yang menjadi penyebab stunting adalah praktik pengasuhan yang kurang baik. Termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta setelah melahirkan.

Selainitu, masih terbatasnya layanan kesehatan, termasukpelayanan ANC – Antenatal Care (pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan), Post-Natal Care dan pembelajaran dini yang berkualitas. Masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi. Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi juga menjadi faktor-faktor yang cenderung menyebabkan stunting. (*/rus)

 




×


Advokasi dan KIE untuk Pengasuhan 1000 HPK Guna Turunkan Stunting

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link