MAKASSAR, BKM — Reintegrasi sosial dimaknai sebagai salah satu upaya untuk membangun lagi kepercayaan sosial setelah terjadinya disintegrasi sosial. Pascakonflik komunal berkepanjangan, masyarakat Poso diperhadapkan pada situasi sosial yang tidak dapat diprediksi sehingga masyarakat mudah khawatir dengan ancaman teror dan radikalisme.
Hal itu melandasi Henry A Ruagady meneliti reintegrasi sosial pascakonflik Poso dengan judul disertasi Reintegrasi Sosial Pasca Konflik Poso (Studi Komparasi Islam dan Kristen di Kelurahan Sayo dan Kelurahan Pamona), yang dipertahankan dalam sidang ujian promosi doktor secara virtual pada Kamis, 24 November 2022 untuk meraih gelar doktor dalam bidang Ilmu Sosiologi pada Program Pascasarjana (PPs) Universitas Negeri Makassar (UNM).
Sidang ujian promosi doktor dipimpin Prof.Dr. Anshari, M.Hum. dengan anggota Prof.Dr.Ir. Darmawan Salman, M.S., Prof.Dr. Andi Agustang, M.Si., Prof.Dr. Hamsu Abdul Gani, M.Pd., Dr. Muhammad Syukur, M.Si., Prof.Dr. Syamsu Andi Kamaruddin, M.Si., Prof.Dr. Jumadi Sahabuddin, S.Pd., M.Si., dan Prof. Dr. Anzar Abdullah, M.Pd.
Menurut dosen Universitas Kristen Tentena (Unkrit) Poso, problema baru muncul pascaterjadinya konflik Poso, yaitu segragasi sosial antara kedua belah pihak yang menempati wilayah yang berbeda, yaitu Kelurahan Sayo yang dominan memeluk agama Islam dan Kelurahan Pamona yang dominan memeluk agama Kristen.
Hasil temuan riset Ketua Program Studi Sosiologi Fisip Unkrit, yaitu pertama, reintegrasi sosial Islam dan Kristen di Kelurahan Sayo dan Kelurahan Pamona pascakonflik poso, meliputi (a) membangun kepercayaan antara pihak umat Islam dan Kristen dalam wujud membudayakan tolerasi, saling menghormati, menghargai, menghidupi,
dan mengasihi; meningkatkan peran tokoh agama dalam memberi siraman rohani yang menyejukkan; menanamkan sikap loyalitas pada warga; menanamkan sikap saling percaya melalui pendidikan keluarga; (b) penguatan identitas bersama; (c) penguatan melalui kegiatan bersama; dan (d) pembuatan kebijakan yang pro reintegrasi. Dalam mewujudkan reintegrasi warga Islam dan Kristen, keduanya memiliki keinginan kuat untuk mewujudkan perdamaian abadi.
Kedua, ada tiga nilai Sintuwu Maroso sebagai nilai kearifan lokal yang paling efektif dalam mengintegrasikan masyarakat Islam dan Kristen pasca konflik Poso, yaitu Tuwu Metubunaka (kesadaran kolektif berdasarkan solidaritas kesamaan), Mombepatuwu (saling menghormati dan menghargai), dan Mombepomawo (saling mengasihi antarsesama tanpa memandang perbedaan). Ketiga nilai ini diresapi dan diterapkan warga Islam dan Kristen di Kelurahan Sayo dan Kelurahan Pamona untuk saling berbaur, hidup berdampingan, jauh dari prasangka, saling menerima, dan saling menghargai.
Seusai menjawab pertanyaan, sanggahan, dan klarifikasi dari tim/dewan penguji, Dekan Fisip Unkrit periode 2013-2015 itu dinyatakan lulus dengan memeroleh IPK 3,89 dan predikat kelulusan sangat memuaskan. Dia tercatat sebagai alumni ke-1132 PPs UNM dan ke-188 Program Studi S-3 Sosiologi.
Sidang ujian promosi doktor secara virtual zoom ini dihadiri Rektor Unkrit Yulian Rinawati Ta’aha, SE., MSi., Dekan Fisip Unkrit Dr I Ketut Yakobus,S.Th., M.Si., Camat Pamona Puselemba Aprilius Pesudo,ST., Lurah Sayo Rahmat Usman, S.Sos., Lurah Pamona Debby Maryam Hasan, S.Sos., Ketua Umum dan Sekretaris Umum Majelis Sinode GKST Tentena Pdt Jadaramo Tadiabr, M.Th. dan Pdt. Jet Rense Ronso, M.Th., serta Ketua Partai Berkarya Kabupaten Poso Andy Abdi Nur Pagalai Wahid. (rls)

