MAKASSAR,BKM.COM–TAHUN 2023 menjadi momentum bagi manajemen Kawasan Industri Makassar (KIMA) untuk terus mengembangkan usahanya. Mereka tak hanya fokus pada bisnis utama yang digeluti selama ini, tapi juga pada sektor lain. Direktur PT KIMA Alexander Chandra Irawan mengulasnya dalam siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar.
DI bagian awal, ia menjelaskan bahwa PT KIMA berdiri di tahun 1998 bersamaan dengan beberapa kawasan berbeda pada sejumlah kota di Indonesia, seperti di Medan, Surabaya, dan Semarang. PT KIMA berada di paling timur.
Kawasan ini menjadi cikal bakal untuk menggerakkan perekonomian. Menjadi embrio guna mengambil peran dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
”Dengan hadirnya KIMA, Sulsel khususnya Makassar, menjadi gerbangnya Indonesia timur. Posisi strategis ini harusnya menjadi daya tarik bagi investor, baik dalam maupun luar negeri untuk berinvestasi. Hal itulah yang coba ditawarkan sebagai peluang investasi,” terang Alexander.
Keberadaan suatu kawasan industri, menurut Alexander, cukup menarik investor untuk datang. Seperti investor dari Jepang. Peluang tersebut coba untuk ditangkap.
Tidak salah jika untuk pengelolaan kawasan ini melibatkan pemerintah daerah, seperti Pemprov Sulsel dan Pemkot Makassar. Mereka menjadi pemegang saham di dalamnya.
Sebab, diakui Alexander, misi yang diemban kawasan ini cukup berat. Untuk itu di awal sudah melibatkan sejumlah pihak yang memiliki peran dalam pengembangan ke depan. ”Pemda adalah bagian vital yang nanti dibutuhkan dalam pengembangan kawasan, seperti dari sisi perizinan. Bisnis yang dikembangkan erat kaitannya dengan pemkot dan pemprov. Sinergi tidak hanya dalam bentuk pemegang saham, tapi juga dalam pengembangan kawasan industri,” jelasnya.
Secara regulasi, PT KIMA yang diamanahi sebagai pengelola kawasan punya kewenangan untuk mengelola kawasan yang cukup luas, baik dalam penyediaan lahan industri, infrastruktur lainnya, bangunan siap pakai, pergudangan, fasilitas kesehatan, dan sarana pendukung, pengelolaan air, limbah, dan jalan. Pengelolaannya secara keseluruhan dilakukan secara terintegrasi, mulai sejak menyewa, merencanakan, membangun bisnis, dan mengelola outputnya.
Diakui Alexander, menjadi bisnis utama yang dikelola PT KIMA relatif stagnan saat ini. Ia berbicara tentang KIMA 20 tahun lalu, yang secara lokasi masih jauh dari permukiman penduduk. Kini, KIMA ibarat gula yang ramai didatangi semut. Menjadi salah satu pusat perekonomian yang tergolong dekat dengan kota. Hal itu berdampak pada hadirnya kawasan permukiman dan perekonomian baru. Kondisi tersebut membuat upaya perluasan kawasan tidak bisa dilakukan.
”Untuk itu, yang dilakukan saat ini adalah menyiapkan strategi untuk mendukung bisnis utama. Seperti penyediaan air bersih, pengelolaan limbah dan sampah, depo logistik, mengelola jaringan komunikasi dengan bekerja sama beberapa provider untuk fiber optic,” ungkap Alexander.
Selain itu, bisnis kawasan yang masih related dengan kawasan industri coba dibangun. Tujuannya agar income tumbuh. Untuk itu, manajemen PT KIMA tengah mengupayakan kerja sama dengan beberapa pemerintah kabupaten untuk rencana pengembangan lokasi baru. Alexander berharap itu bisa direalisasikan ke depan, sehingga growth bisa signifikan.
Disebutkan, total kawasan yang dikelola PT KIMA yakni 340 hektare. Dari luasan itu, hampir sebagian besar atau 90 persen telah diisi oleh tenant yang jumlahnya 273. Sisanya dimanfaatkan dan dikembangkan untuk gudang konsolidasi. Termasuk yang terkait bisnis logistik.
Jika investor ingin berinvestasi di KIMA, menurut Alexander, ada sejumlah keunggulan yang bisa diperoleh. Yang pertama kepastian lokasi dan legalitasnya. Jangka waktu sewa yang cukup lama, yaitu 30 tahun dan bisa diperpanjang 20 tahun serta 20 tahun berikutnya. Berarti, penyewaan berlangsung cukup panjang, yakni selama 80 tahun. Selain itu, aksesnya dekat dengan tol. Sangat mudah dan staregis dalam melakukan pergerakan, baik orang maupun barang. (*/rus)

