pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Sempat tak Percaya Diri, Raih Doktor di Usia Muda

Dr Nur Khadijah Razak, Dosen Unismuh Makassar

MAKASSAR,BKM.COM–BAGI sebagian orang, rasa percaya diri kerap menjadi masalah. Tak sedikit di antaranya yang sebenarnya punya kemampuan untuk menghasilkan karya, namun percaya dirinya tidak ada. Setidaknya itu dialami oleh Nur Khadijah Razak. Walau begitu, ia mampu menyelesaikan kuliah di jenjang Strata Tiga (S-3) dan menyandang gelar doktor.

MENJADI tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Ija –begitu Dr Nur Khadijah akrab disapa– berkisah tentang perjalanannya bisa meraih titel doktor di usia 33 tahun. Diakui dosen Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar ini dukanya lebih banyak.

”Bermula dari tahun 2017. Beberapa teman melanjutkan kuliah S3 di Universitas Negeri Makassar. Waktu itu mereka mengajak, namun saat itu saya merasa belum siap. Ada beberapa hal yang pada waktu itu belum mantap sata rasa. Karena terus terang, saya ini tipikal yang kalau mau melakukan sesuatu itu tidak mau setengah-setengah. Harus maksimal,” terangnya.

Selain itu, lanjutnya, pembayaran SPP (UKT/Uang Kuliah Tunggal) tidak sedikit. Sementara dirinya sudah berkeluarga dan mempunya dua orang anak. Satu di antaranya sudah bersekolah. Karena pertimbangan itu, Ija urung melanjutkan kuliah di tahun 2017.

Di tahun 2019 muncul keinginan untuk lanjut. Karena jika tidak dia lakukan di usinya ketika itu, mungkin ke depan sudah tidak maksimal lagi untuk melanjutkan S3.

Apalagi ia menganggap tugasnya sebagai seorang dosen, bila tidak mencari atau mengembangkan ilmunya di bangku kuliah, mungkin pengetahuannya hanya sampai di situ saja.

Berita Terkait:

”Saya ingin mencari ilmu untuk diajarkan kepada mahasiswa, tapi belum tahu mau dapatkan dari mana. Tahun 2019 saya lulus sertifikasi. Kalau misalnya saya tidak lulus dapat beasiswa, ada sertifikasi yang bisa bantu untuk bayar SPP waktu itu. Karena saya sadar bahwa tugas sebagai dosen harus melanjutkan studi waktu itu,” jelasnya.
Untuk mendukung upayanya lanjut S-3, Ija kemudian mendaftar sebagai calon penerima beasiswa BPPDN. Dalam hati kecilnya ia penuh harap bisa mendapatkannya. Sebab ketika duduk di bangku S1 dirinya pernah punya kesempatan untuk mendapatkan beasiswa. Namun di waktu bersamaan ada seorang temannya yang sangat membutuhkan beasiswa tersebut.
”Dalam hati saya waktu itu bilang, untuk saat ini beasiswa tersebut belum saya butuhkan. Saya anak tunggal yang masih bisa dibiayai oleh orangtua, sementara teman saya ini sangat membutuhkan. Akhirnya saya dorong teman itu untuk mendapatkannya,” ungkap Ija.
Hal yang tak jauh berbeda dialaminya di bangku S-2. Hingga akhirnya ketika kuliah S-3, ia membutuhkan beasiswa tersebut. Hasilnya, dari 12 orang di Prodi Bahasa Indonesia, tiga orang yang dinyatakan lulus untuk mendapatkan beasiswa BPPDN. Salah satunya adalah Nur Khadijah.
”Waktu itu saya memang sudah bertekad untuk lanjut S-3. Kalau pun tidak dapat beasiswa tidak apa-apa. Masih ada sertifikasi untuk bayar SPP,” ujarnya.
Ia menyebut satu nama, yakni Dr Zakari yang sempat membangunkannya di suatu siang. Ia yang selalu membantu dan mendorong Ija untuk lanjut dari S-1 hingga S-3, menginformasikan kelulusannya mendapat beasiswa. Sempat tidak percaya di awal, akhirnya Khadijah meyakini kalau beasiswa yang diterimanya merupakan rezeki dari Allah Swt.
Ditanya tentang motivasinya melanjutkan kuliah S-3, Ija yang mengampu mata kuliah Pragmatik di Unismuh Makassar, mengaku harus mencari ilmu sebanyak-banyaknya untuk dibagikan ke mahasiswa. ”Kelemahan saya, kalau mengajar dan mahasiswa tidak memahami apa yang saya ajarkan, itu terus ada di pikiran saya. Kalau ilmu saya hanya sampai di situ, tidak bisa mengajarkan banyak kepada mahasiswa. Karena itu saya berusaha membekali diri sebagai dosen untuk mengajarkan lebih banyak lagi pengetahuan yang belum diketahui. Karena dari pengalaman itu memberi kita pelajaran ke depan bagaimana cara mengajarkan materi yang awalnya belum diketahui mahasiswa,” jelasnya.
Ija lalu berbagi tentang suka duka kuliah di S-3 bagi seorang ibu yang telah punya anak. ”Hari pertama kuliah raga saya ada di ruang perkuliahan, namun pikiran ada di rumah. Anak saya masih kecil, yang selama ini selalu saya jaga, rawat, menyuapi, membuatkan susu, tiba-tiba ada di ruang kelas yang beda dari S1 dan S2. Saya berpikir anak saya saya sudah minum susu atau belum. Sudah makan belum, mau titip di mana. Itu juga yang ada di pikiran saya pada malam sebelum hari pertama kuliah,” ungkapnya lagi.
Beruntung, Ija punya keluarga yang peduli dan perhatian. Mereka terus memberi motivasi dan bersedia membantu menjaga anaknya. Karena suami Ija bekerja tidak di Makassar, melainkan di daerah.
Kesediaan orang tua Ija membantu menjaga buah hatinya, menjadi penyemanagat bagi dirinya untuk lanjut kuliah. Anak pertamanya cukup dengan ibunda Ija yang seorang operator di sekolah. Sementara anak kedua dekat dengan kakeknya yang merupakan kepala sekolah.
”Bukan hanya orang tua yang membantu menjaga anak-anak saya. Tapi juga guru-guru di sekolah. Ada banyak orang baik di sekeliling saya yang membantu. Mungkin sudah waktunya lanjut kuliah S-3, sehingga dari Allah sendiri yang memberi kekuatan, memberi orang-orang di sekeliling yang membantu,” imbuhnya.
Di bagian lagi penjelasannya, Ija mengaku sebagai tipikal orang yang tidak percaya diri. Ia mencontohkan, membuat puisi saya jika ada yang diciptakannya langsung disimpan. Tidak berani memperlihatkannya kepada orang lain.
”Waktu itu saya disuruh mengumpulkan judul disertasi. Saya berbincang dengan senior, salah satunya adalah Dr Zakaria. Termasuk salah seorang senior yang sudah selesai yaitu Dr Ansar. Dari bincang-bincang di kantin disarankan untuk mengangkat judul yang belum ada di Indonesia dan dibutuhkan mahasiswa, yaitu blanded learning. Waktu itu belum masuk pandemi,” ungkapnya.
Menurut Ija, konsep blanded learning ketika itu sudah ada teorinya namun belum dikembangkan. Ia pun mengiyakan, karena meninglai saran tersebut sebagai petunjuk dari Allah Swt melalui perantara seniornya.
”Seperti apa konsepnya? Kembangkan perangkat pembelajaran. Saya langsung ingat suami yang sarjana komputer. Ada teman yang bisa diajak berdiskusi untuk pengembangan teknologi. Luarannya nanti adalah membuat buku,” jelasnya.
Sampai di situ, Ija kembali bertanya sanggupkah ia menghadirkan buku untuk pembelajaran. ”Saya mampu membuatnya, tapi untuk dibaca oleh orang banyak saya tidak percaya diri,” tambahnya.
Namun, rasa tidak percaya diri itu berhasil dikalahkannya. Nur Khadijah bahkan mampu menghasilkan tiga buah buku, hingga akhirnya meraih gelar doktor di Program Pascasarjana UNM Prodi Bahasa Indonesia pada Februari 2023. (*/rus)




×


Sempat tak Percaya Diri, Raih Doktor di Usia Muda

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link