MAKASSAR, BKM–Perjuangan bakal calon presiden (Bacapres) Anies Rasyid Baswedan untuk ikut sebagai peserta pada pemilihan presiden (Pilpres) 14 Februari 2024 mendatang masih panjang dan melelahkan.
Lantas apa yang terjadi jika Anies batal maju, atau dikalahkan sebelum kampanye dimulai?
Menurut pengamat politik yang juga peneliti dari PT Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny Januar Ali, yang mengalahkannya Anies bukan suara rakyat di Tempat Pemungutan Suara , tapi ketuk palu dari Mahkamah Agung (MA).
Ini terjadi jika Partai Demokrat pimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bermasalah secara hukum karena MA memenangkan gugatan Moeldoko.
Kemungkinan kalahnya Demokrat versi AHY di MA belum pasti. Tapi kemungkinan itu tak pula bisa sama sekali diabaikan.
Tanpa kehadiran Anies, maka Pilpres 2024 hanya diikuti Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo.
“Kami melakukan survei tatap muka (face to face interview) dengan menggunakan kuesioner kepada 1200 responden di seluruh Indonesia. Margin of error survei ini sebesar 2.9%. Survei dilakukan pada 3 hingga 14 Mei 2023,”tulis Denny JA, Senin (5/6).
Selain survei dengan metode kuantitatif, LSI Denny JA juga memperkaya informasi dan analisa atas isu paling mutakhir dengan metode kualitatif, seperti analisis media, in-depth interview, expert judgement dan focus group discussion.
Apabila Pilpres hanya diikuti Prabowo dan Ganjar, maka Prabowo diprediksi unggul dengan selisih 7.2%.
Elektabilitas Prabowo sebesar 50.4%, Ganjar sebesar 43.2%. Responden yang menyatakan tidak Tahu/tidak Jawab sebesar 6.4 %.
Menurut Denny JA, manakala Capres tertutup tiga nama yakni Prabowo, Ganjar dan Anies, maka Prabowo unggul tipis dengan 33.9%. Ganjar di angka 31.9%. Anies sebesar 20.8%. Prabowo menang dengan selisih 2.0% saja di atas Ganjar.
Kemenangan Prabowo atas Ganjar lebih telak ketika head to head. Selisih kemenangan Prabowo atas Ganjar naik, dari selisih 2.0% menjadi selisih 7.2%. (rif)

