MAMPUKAH calon senator menggerahkkan partai politik (Parpol) hingga kader yang ada didaerah untuk memilihnya masuk senayan.
Manajer Strategi dan Operasional Jaringan Suara Indonesia (JSI) Nursandy Syam mengatakan majunya sejumlah kader partai politik (Parpol) yang mengincar kursi senator atau DPD RI tak lantas secara otomatis akan di-back up oleh infrastruktur partai.
“Tidak juga dengan mudah mereka mampu menggerakkan kekuatan kader-kader partai yang ada di daerah untuk kepentingan sosialisasi pencalonannya,” ujar Nursandy.
Apalagi, kata dia, situasinya beberapa calon senator berasal dari partai yang sama. Seperti Andi Hatta Marakarma dan Waris Halid berasal dari Golkar. Kemudian Andi Yagkin Padjalangi dan Al Hidayat dari PDIP.
“Pertanyaannya siapa yang mendapatkan rekomendasi dari partainya untuk pencalonan di DPD RI? Apakah kekuatan partai akan dengan enteng dibagi kepada kedua kader? Bila ingin menunggangi infrastruktur politik partai, calon senator yang maju perlu mendapatkan dukungan nyata dari pimpinan partai. Minimal instruksi dari ketua partai kepada pengurus dan kader di daerah untuk salah satu kader,” ujar dia.
Di samping itu, adanya kader partai yang berstatus kepala daerah juga tak akan mudah diraih dukungannya oleh calon senator sekalipun berada pada warna yang sama. Sebab ini tergantung juga penerimaan figur calon senator itu sendiri.
“Jadi kekuatan figur juga ikut menentukan totalitas perjuangan kader-kader partai di daerah untuk memenangkannya,” kata Nursandy.
Pemerhati politik dari PT Nurany Strategic Dr Nurmal Idrus mengatakan, pertarungannya calon senator diprediksi bakal amat keras. Dari nama-nama yang lolos sebagai calon, hampir semua punya basis suara baik basis daerah maupun basis organisasi. “Saya pikir ini tantangan yang berat bagi petahana karena kualitas penantang yang terlihat amat bagus,” imbuh Nurmal.
Mantan Ketua KPU Kota Makassar itu mengatakan, penguasaan basis wilayah menjadi sangat sentral dalam perebutan suara model DPD RI. Maka, calon yang punya basis massa daerah punya peluang lebih besar. Misalnya, Al Hidayat Samsu dan Yaqin Padjalangi.
“Tetapi, semua harus dibarengi dengan manajemen tim yang bagus dengan pengelolaan data dukungan yang terstruktur baik,” imbuh Nurmal. (jun/rif)

