POLITISI yang telah terpilih sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI maupun DPRD Provinsi dan Kabupaten Kota tetap diharapkan untuk meluangkan waktu guna membicarakan soal adat dan budaya.
Hal itu disampaikan Dr Ir H Ali Malombassi Dg Nyengka atau Yang Mulia Krg Sanrobone. Menurutnya, para wakil rakyat diharapkan untuk melestarikan adat budaya dan menjaga marwah leluhur budaya orang bugis dan makassar.
“Jika ritual-ritual kembali dibangkitkan, tentu bagi seorang politisi tidak sulit untuk terpilih jadi wakil rakyat, karena ritual itu banyak pengikutnya, tak bergeser pilihannya kalau memegang prinsip adat”jelas Ali Malombassi.
Banyak hal patut ditiru dari rangkaian atau proses adat selama zaman kerajaan. Salah satu contoh yang bisa ditiru dalam sistim kepemimpinan dengan istilah ‘Sipalalo’ yang intinya memberi kesempatan kepada orang lain yang lebih mampu. “Tidak ada sejarah di Gowa perebutan status raja berakhir dengan sengketa, di Sanrobone ketika ada pemilihan raja, yang tidak terpilih, maka dia tidak memberontak tapi dia pergi ke Bali,”ujar Ali Mallombassi yang juga Ketua Forum Silaturahmi Kraton Nusantara (KFSK) Sulsel.
Andi Syamsuddin Daeng Mattawang Krg Segeri yang juga tumabicara Butta Ri Gowa menyampaikan beberapa hal yang menjadi kekecewaannya ketika mengadakan pencucian benda-benda sejarah, namun selalu dihalangi, termasuk acara maulid. “Kami tidak lagi didukung pemerintah bahkan kami dibenturkan dengan pihak ketiga,”ujar Andi Syamsuddin.
Patta Sessu-panggilan akrab Andi Syamsuddin berharap wakil rakyat yang terpilih nantinya dapat memperhatikan adat dan budaya di Sulsel, khususnya di Gowa.
Patta Sessu bahkan berniat memberikan gelar kepada Aisyah nama Daeng Takontu agar bisa seperti I Fatimah Daeng Takontu Karaeng Campagaya. (rif)

