MAKASSAR, BKM — Petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Makassar yang meninggal dunia terus bertambah. Muhammad Fahriyansah yang bertugas di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 12 Kelurahan Lariangbangi, Kecamatan Makassar mengembuskan napas terakhir pada Senin malam (19/2). Fahri sempat menjalani perawatan selama tiga hari di RSUD Haji, Makassar.
Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka Jalan Gunung Latimojong, Lorong 74, Makassar. BKM menemui Nasrun, ayah almarhum, Selasa (20/2).
Disampaikan Nasrun, putranya itu memang sudah dalam kondisi demam saat hendak bertugas. Pada hari itu dirinya sempat beristirahat sejenak di kantor Lurah Lariangbangi dan merasa perlu diperiksa. Oleh orang-orang di sekitarnya ia kemudian dibawa ke Puskesmas terdekat.
Setelah mendapatkan penanganan dari Puskesmas, ia kemudian melanjutkan pekerjaannya hingga larut malam dan menginap di kantor lurah. Usai bertugas dia pun kembali ke rumah. Ketika itu dirinya kembali merasa demam bahkan sakit di bagian dada. Pihak keluarga kemudian membawanya ke Rumah Sakit Haji dan mendapat perawatan intensif. ”Setelah dirawat beberapa hari, akhirnya meninggal dunia,” ujar Nasrun dengan nada sedih.
Di mata keluarga, Fahri adalah anak yang pekerja keras. Meski belum memiliki pekerjaan tetap, namun ia aktif mengerjakan apa saja demi bisa membantu perekonomian keluarga.
Nasrun memaparkan, anak sulungnya itu juga sering mengambil pekerjaan sebagai driver yang mengantarkan orang ke daerah Morowali. ”Biasanya kalau bawa penumpang, tiga kali dalam sebulan ke sana (Morowali),” ungkap Nasrun.
Bahkan, lanjutnya, dalam rentang waktu satu minggu biasanya sang anak tidak pulang lantaran sibuk mengantar penumpang. Fahri juga sering menggantikan ayahnya untuk menjalankan tugas sebagai petugas kebersihan setempat.
Keluarga merasa sangat kehilangan sosok anak yang disebutkan sebagai pribadi yang pekerja keras untuk bisa menafkahi keluarganya. Meski demikian, pihak keluarga tidak menyalahkan penyelenggaraan pemilu yang menjadi jalan anaknya berpulang ke rahmatullah. Bagi Nasrun selaku orang tua, peristiwa tersebut sudah menjadi kehendak Sang Maha Pencipta. ”Kami begitu menyayanginya, tapi Tuhan lebih sayang kepadanya,” tutur Nasrun lagi.
Menurut Nasrun, peristiwa yang menimpa putra sulungnya tersebut merupakan bentuk pengabdian kepada keluarga. Sebab ia sepenuhnya bekerja untuk menafkahi keluarganya.
Fahri merupakan sulung dari tiga bersaudara pasangan Nasrun dan Harianty. Adiknya bernama Iis dan Rahmat.
Iis yang merupakan adik perempuan satu-satunya almarhum, menyatakan duka mendalam atas kepergian sang kakak. Sama seperti ayahnya, Iis menyebut kakaknya Fahri sebagai sosok yang pekerja keras dan selalu mengutamakan kepentingan keluarga. Bagi Iis, almarhum merupakan sosok panutan yang sangat dihargai dan dihormatinya.
Pihak keluarga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah bersimpati dan menyampaikan belasungkawa terhadap kepergian almarhum. Keluarga memohon doa kepada semua orang agar keluarga diberi ketabahan dalam menghadapi semua ini. (yus/b)

