TEGAS dan tepat dalam menjalankan tugas. Begitu lah kepribadian Burhanuddin yang saat ini dipercaya sebagai ajudan Sekretaris Daerah Kota Makassar, H Ibrahim Saleh.
Laporan: ARIF AL QADRY
Pola ketegasan yang ditanamkan Burhanuddin, dia dapatkan setelah belajar dari beberapa mantan sekda terdahulu.
Bahkan selama menjadi ajudan sekda, Bur sapaan akrabnya banyak mendapatkan pengalaman, pengetahuan dan rasa suka dalam menjalankan hidup.
Sebut saja, sebagai ajudan, dia kadang menikmati jalan-jalan ke luar Kota Makassar. Sementara dukanya kadang pulang larut malam jika tugas dari atasannya belum selesai, sehingga kadang tidak berkumpul dengan keluarga.”Sebagai ajudan kita harus bangun pagi dan tidur larut malam. Tapi, alhamdulillah keluarga saya memahami tugas yang saya emban selama menjadi ajudan itu,” ungkap Bur di depan penulis.
Kenikmatan tambah Bur juga dia rasakan jika memasuki Bulan Ramadan dan perayaan Idul Fitri, para pejabat kadangkala memberikan tunjangan hari raya (THR) dari kantong pribadi pejabat Pemkot Makassar tersebut.”Saya beryukur kebutuhan di rumah bersama istri dan anak selalu terpenuhi jika memasuki Ramadan dan Idul Fitri. Selain menikmati gaji, saya juga kadang diberi THR dari para pejabat,” jelas Bur sambil sesekali tersenyum.
Dia juga mengaku sangat senang diberi amanah sebagai ajudan. Sebab fasilitas yang ia dapatkan juga sudah cukup seperti kendaraan sepeda motor dan gaji operasional. Meskipun gajinya seringkali terlambat dan terlebih dahulu menguras uang tabungan.
“Saya senang dengan pekerjaanku sekarang karena saya juga diberi fasilitas motor dinas. Apalagi kalau jelang lebaran seperti saat ini saya biasa panen THR,” ucap Bur.
Sebelum mennjadi abdi negara, pria kelahiran Makassar Makassar 12 Oktober 1983 juga mengaku sempat memiliki cita cita menjadi pembalap motor, kecintaannya dengan sepeda motor juga menjadi salah satu alasan dia menerima tawaran menjadi mekanik.
“Saya dulu bercita-cita mau menjadi pembalap motor, jadi saya terima tawaran menjadi mekanik di bengkel yang dulu saya tempati PKL. Saya harap menjadi mekanik di bengkel tersebut saya bisa meracing motor saya menjadi kencang dengan biaya minim,” ujarnya.
Pahit dan manis menjadi mekanik motor sudah dia rasakan, salah satunya dimana saat dia pulang kerja, badannya sering berlumur oli. Tetapi dia tetap sabar menjalani pekerjaannya saat itu.
“Upah yang saya dapat setiap bulan dari hasil kerja mengotak atik sepada motor orang lain tidak semuanya saya gunakan. Saya juga tetap berikan sedikit rezeki saya ke orang tua saya,” akunya.
Pengalaman sebagai seorang mekanik motor ternyata tidak membuatnya betah. Pada tahun 2008, Bur diterima untuk bergabung di Pemerintah Kota Makassar sebagai staf Sekda Kota Makassar. Tahun 2008 sampai 2010 ia masih tercatat sebagai tenaga sukarela.
Memasuki tahun 2011, dia sudah tercatat sebagai tenaga honorer di tempat tugas yang sama yaitu sebagai staf Sekda Makassar. (arf/war)

