pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Abd Razak Rukka, Motivator Bank Sampah Kecamatan Mariso

Ubah Pola Pikir, Pilah Sampah Jadi Uang

Upaya mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah terus digalakkan di Kota Makassar. Salah satunya dilakukan oleh Abd Razak Rukka, motivator sekaligus penyuluh bank sampah yang kini bertugas di Kecamatan Mariso.

DENGAN jumlah penduduk lebih dari 43.000 jiwa, wilayah Kecamatan Mariso menjadi fokus edukasi lingkungan yang bertujuan mendorong perubahan pola pikir masyarakat terhadap sampah.

“Kami mendampingi semua masyarakat di kelurahan yang ada di Kecamatan Mariso. Lebih dari 43.000 warga perlu kita edukasi bagaimana caranya supaya kita bisa hidup bebas dari sampah, serta bagaimana memperlakukan sampah agar memiliki nilai ekonomi. Tujuan utamanya adalah mengubah mindset atau pola pikir masyarakat,” ujar Abd Razak Rukka dalam wawancara siniar untuk kanal BKM News.

Sebelum bertugas di Kecamatan Mariso, pria yang akrab disapa Razak ini lebih dulu menjalankan peran serupa di Kecamatan Makassar yang membawahi 14 kelurahan.
Pengalamannya di wilayah sebelumnya menjadi bekal dalam menjalankan tugas penyuluhan di Mariso.
Saat pertama kali ditugaskan di sana, ia menemukan hanya tujuh bank sampah yang aktif menimbang. Kini, berkat pendampingan intensif yang dilakukan, jumlahnya kian meningkat signifikan.

“Waktu pertama kali masuk di Kecamatan Mariso, yang saya dapati hanya tujuh bank sampah yang aktif menimbang. Alhamdulillah, sekarang sudah ada 23 bank sampah yang beroperasi aktif,” ungkapnya.

Ia menilai kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah kian meningkat. Hal ini tampak dari antusiasme warga dalam mengikuti program bank sampah yang difasilitasi pemerintah kota.
Menurut Razak, bank sampah merupakan sistem yang serupa dengan bank konvensional. Hanya saja yang ditabung bukan uang, melainkan sampah yang dapat dikonversi menjadi nilai ekonomi.

“Bank sampah ini sama seperti bank konvensional. Bedanya, kalau di bank konvensional yang ditabung adalah uang, sedangkan di bank sampah yang ditabung adalah sampah yang kemudian menjadi uang. Bahkan, ada juga buku tabungan. Jadi, bisa dikatakan produknya berbeda, tapi sistemnya sama,” jelasnya.

Saat ini, keberadaan bank sampah sudah menjangkau berbagai sektor, mulai dari sekolah, kampus, perkantoran, hotel, hingga lingkungan pemukiman. Pemerintah, kata Razak, hanya berharap masyarakat mau lebih aktif memilah sampah dari rumah.

“Pemerintah hanya mengharapkan kita untuk giat memilah sampah yang ada di rumah. Sampah-sampah itu jangan dibuang, tetapi ditimbang di bank sampah. Nantinya akan dibeli oleh bank sampah pusat,” terangnya.

Tidak hanya itu, pemerintah juga menyediakan berbagai prasarana penunjang, seperti karung untuk pemilahan, serta layanan jemput sampah. Dengan begitu, warga tidak perlu lagi repot membawa langsung sampah ke bank.
Upaya ini sejalan dengan visi Pemerintah Kota Makassar dalam membentuk masyarakat yang sadar lingkungan, sekaligus mendorong terbentuknya ekonomi sirkular berbasis komunitas.

Melalui pendampingan seperti yang dilakukan Razak, bank sampah bukan lagi sekadar tempat menaruh limbah, melainkan ruang pemberdayaan warga demi lingkungan yang bersih dan bernilai tambah ekonomi.

Untuk itu, di akhir wawancara, Razak menaruh harapan agar kiranya masyarakat bisa lebih sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Apalagi sampah-sampah ini bisa dikonversi menjadi uang jika ditimbang di bank sampah. (jar)



×


Abd Razak Rukka, Motivator Bank Sampah Kecamatan Mariso

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link