LENGKAP sudah penderitaan seorang Ibu bernama Nafisah (39), selain ditinggal pergi oleh suaminya karena mengalami penyakit ‘darah ute’ istilah orang bugis yang mirip penyakit kejiwaan.
Nafisah juga tidak berdaya dan hanya terbaring disebuah gubuk reyot akibat dalam kesehariannya cuma mampu terbaring. Kedua orang tuanya terpaksa mengasingkannya ke gubuk itu karena dia sendiri menolak hidup serumah dengan ayah-ibunya.
Penderitaan inilah yang memantik rasa empati dari Komunitas Forum Komunikasi Tenaga Kesejahteraan Sosial(FKTKS) untuk membedah rumah gubuk reyot yang 13 tahun ditempati Nafisah berjuang tidur bersama penyakit yang menderanya.
Kepedulian FKTKS dibuktikan dengan kehadiran puluhan anggota forum yang datang dari berbagai Kabupaten di Sulsel bersama Ketua FKTKS Sulsel Syamsari, bahu membahu membedah gubuk Nafisah di Dusun Congko Desa Siddo Kecamatan Soppeng Riaja Barru.
Didera penyakit jiwa selama 13 tahun, hidup terpisah disebuah rumah gubuk di areal kebun pisang. Bukanlah masalah bagi Nafisah yang sudah terlanjur menderita beban psyikotis seperti diungkapkan Ketua FKTKS Sulsel. Syamsari. Bedah rumah ini hanya salah satu kepekaan kita, agar warga disekitarnya memiliki kepedulian sosial. Apalagi kepada pemerintah setempat, penting untuk memberikan perhatian kepada warga seperti Nafisah..
Ketua Forum Komunikasi Tenaga Kesejahteraan Sosial(FKTKS) Sulsel Syamsari menyatakan Program bedah rumah yang dilakukan forum ini untuk merangsang warga sekitar supaya peduli kepada sesama.
Pekerja sosial harus punya peduli. Begitu pula pihak pemerintah kepada masyarakat. Seperti yang dialami warga Dusun Congko yang mengalami psykotik. “Makanya kita sentuh supaya pihak lain punya rasa empati,” ujar Syamsari.
Apa yang dialami Nafisah, kata Ibunya Isakka (65) bukan maksud hati menelantarkan. Dibangunkan gubuk seperti itu atas permintaan sendiri. Nafisah meronta dan tidak terima tinggal bersama kami. Dia itu menderita ‘darah ute’, kemudian ditinggal pergi oleh suaminya. Makanya kehadiran FKTKS untuk membangunkan rumah layak huni untuk anak kami. “Saya sangat gembira kasian. Hanya Allah yang bisa membalas kepedulian para pengurus diorganisasi ini,” kata Isakka (udi/B)

