MAKASSAR, BKM — Sektor perkebunan memiliki peran strategis dalam pembangunan di Sulbar. Itu bisa dilihat dari angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah ini. Sub sektor perkebunan berkontribusi hingga 21,03 persen terhadap total PDRB berdasarkan Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Sulbar 2015.
Hal tersebut sesuai catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Sulbar 2016. Berdasarkan Renstra Ditjenbun 2015-2019, komoditi kakao mampu menyumbang lebih dari 10 persen dari total produksi kakao nasional.
Olehnya itu, untuk terus meningkatkan kualitas kakao provinsi ini, Dinas Pertanian Sulbar mengajak 20 orang petani, terdiri dari petani asal Kabupaten Mamuju dan Mamuju Utara, serta empat pendamping ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Mereka diajak mempelajari adopsi teknologi penanganan pascapanen kakao untuk berbagi informasi. Ketua rombongan, Abd Waris Bestari, mengatakan, kegiatan adopsi teknologi penanganan pascapanen kakao merupakan ajang diseminasi informasi teknologi terkini pada sektor agribisinis dan agroindustri kakao.
Agenda itu dilaksanakan di beberapa kelompok tani binaan Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY dan BPTP-Balitbangtan Yogyakarta dengan tujuan mengadopsi inovasi teknologi penanganan pascapanen dalam meningkatkan mutu, nilai tambah, dan daya saing produksi kakao.
Keberhasilan penanganan pascapanen sangat tergantung dari mutu dan bahan baku yang dihasilkan dari kegiatan produksi atau budidaya. Karena itu, penanganan proses produksi di kebun juga harus memperhatikan dan menerapkan prinsip-prinsip cara budidaya yang baik dan benar.
Penerapan Good Agricultural Praktices (GAP) untuk menghasilkan biji kakao yang bermutu dan menjadi jaminan bagi konsumen kalau produk yang dipasarkan diperoleh dari hasil serangkaian proses yang efisien, produktif, dan ramah lingkungan.
”Tujuan kita melakukan kegiatan ini di DIY, sebagai ajang diseminasi informasi teknologi terkini pada agribisinis dan agroindustri kakao, sharing inovasi teknologi pascapanen untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu biji kakao dan mengadopsi pola manajemen dan kreativitas kelompok dalam penanganan pascapanen kakao,” ujar Waris.
Setelah mengikuti pertemuan ini, harap Waris, ada perubahan pola pikir petani untuk melirik pola kreativitas dan manajemen kelompok tani binaan Yogyakarta. Walau luasan arealnya kecil, tetapi karena manajemen kelompoknya yang baik, sehingga produksinya dapat dibeli menembus Singapura dan Korea Selatan. (*mir)
Perkebunan Miliki Peran Strategis
×

