pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Pernah Bekerja Sebagai Buruh Bangunan dan Tukang Becak

SEBELUM menjual air tahu di Jalan AP Petta Rani dan di Jalan Kerung-kerung, Rauf Dg Lau pernah menjadi buruh bangunan dan juga tukang becak. Pengalamannya menjalani kerasnya hidup dirasakan, membuat ia terus bangkit untuk berusaha sendiri.

Laporan: ARIF AL QADRY

Di depan penulis, Rauf menceritakan pengalamannya sebagai tukang becak tahun 1987 sampai 1992. Dia mencicil becak tetangga di Jalan Maccini Raya. Waktu itu, dia mencicil empat becak. Satu becak dia cicil selama 15 bulan dengan cicilan sebesar Rp1.000.
Pada masanya, penghasilan sebagai tukang becak cukup baik. Bahkan empat istrinya dapat dia penuhi kebutuhannya termasuk anak-anaknya. Empat becak yang dicicilnya juga waktu itu sudah lunas.
Waktu terus berlalu, kebutuhan istri dan anaknya terus membengkak membuat Rauf tak bisa lagi berbuat banyak. Satu per satu becaknya dia jual. Banyaknya pengusaha becak menjadi saingan serius termasuk penghasilannya setiap hari juga semakin berkurang.
“Akhirnya semua becakku saya jual dan beralih tukang batu. Banyak kebutuhan waktu itu. Saya jadi tukang batu mulai dari 1991 sampai 2015 dan 2015 sampai sekarang jadi penjual air tahu mi,” sebutnya.
Semua anak-anaknya dia sekolahkan dengan baik hingga di bangku pendidikan Sekolah Menegah Atas (SMA). Meski demikian, dia tetap masih memiliki tanggungan menghidupi keluarganya. Untuk tetap memberikan hidup bagi keluarganya, Dg Lau ikut bersama temannya menjadi buruh bangunan.
Upah sebesar Rp50 ribu di tahun 1991 cukup banyak dirasakan. Hanya saja proyeknya tidak selalu ada. Kadang dan kadang juga sepi hingga dua minggu. Disitulah yang membuat dia bingung.
“Saat itu saya berfikir kalau saya berhenti kerja lagi, bagaimana dengan keluargaku. Jadi saya tetap sabar dan bekerja jadi buruh bangunan,” sebutnya.
Memasuki tahun 1993, proyeknya banyak. Dia bersama teman-temannya tidak pernah kosong kerjaan bahkan di luar daerah Kota Makassar. Tetapi semuanya tidak seperti yang dibayangkan.
“Tulang rusukku patah sebelah kiri, pas saya kerja kantor DPRD di luar Kota Makassar. Adaka satu minggu istirahat dan saya berobat tradisional ji saya bawa ke tukang urut. Kalau di rumah sakit mahal biayanya,” ingatnya.
Hanya satu minggu setelah pemulihan, dia kembali melanjutkan menjadi buruh bangunan. Dia senang karena merasa cukup dengan penghasilan dia dapatkan setiap minggu dengan upah Rp50 ribu setiap hari.
“Saya berhenti pas ada satu bulan tidak ada lagi kerjaan. Terpaksa saya jualan air tahu,” katanya.
Memberanikan diri, dia bersama dengan istri ke empatnya meminjam uang di bank sebesar Rp3 juta untuk digunakan sebagai modal jualan air tahu.
Pertama berjualan air tahu, dia hanya menggunakan gerobak kayu dan menjualnya di Jalan Masjid Raya. Cara pembuatan air tahu dia dapat dari iparnya yang memang mengajaknya untuk membuka usaha kecil-kecilan.
“Saya jualan air tahu ajakan dari ipar ji, termasuk saya tahu cara buatannya bagaimana,” katanya.
Hanya lima bulan berjualan, Dg Lau sudah dapat melunasi pinjamannya di bank. Padahal angsuran pembayarannya sampai dengan jangka waktu satu tahun. Mendapat kepercayaan dari bank, dia kemudian meminjam lagi uang untuk memperlengkap jalannya usahanya seperti freezer dan alat pres tutup botol.
Untuk itu, dia selalu berharap usahanya dapat terus berjalan lancar dan mengembangkan usaha air tahunya lebih baik dengan membuka cabang dan toko.
“Air tahu kental dingin, sari kedelai asli dan bergizi”, kalimat itulah yang terpampang di gabus milik Rauf Dg Lau, pedagang air tahu di tepi Jalan AP Petta Rani depan kantor Dinas Bina Marga Sulawesi Selatan.
Memang diakui, kedelai merupakan bahan pokok berbagai jenis makanan, seperti tahu dan tempe. Namun kedelai juga sudah banyak dimanfaatkan dengan diolah menjadi minuman susu kedelai atau dikenal juga dengan air tahu. Selain menyegarkan, minuman ini juga kaya akan kandungan gizi dan protein tinggi. Banyak orang yang mulai tertarik dengan minuman air tahu. Tak sedikit yang membuka usaha air tahu.
Untuk memastikan air tahu yang dijualnya sehat dan aman dikonsumsi, Dg Lau benar-benar memperhatikan pembuatan air tahunya. Kedelai yang dibelinya di pasar tradisional di Makassar adalah kedelai yang baik, termasuk dengan susu dan gula yang dicampur di air kedelai harus berkualitas.
Sementara untuk proses pemasakan air tahu harus benar-benar matang hingga tiga sampai empat jam. Lamanya proses pemasakan agar air tahu yang dibuat benar-benar sehat dan aman bagi pembelinya atau biar terhindar dari sakit perut.
Agar bisnis jualan air tahunya bisa lancar, panjang dan bermanfaat bagi pembelinya, bapak yang memiliki sembilan orang anak itu sering menekan pembelinya untuk datang kembali ketika merasakan gangguan sakit perut yang disebabkan air tahunya.
“Saya bisa menjamin dan bertanggungjawab kalau ada pembeli saya sakit perut karena minum air tahu saya. Biar untung tipis, jelasnya usaha tetap lancar dan bermanfaat bagi orang. Itu yang saya utamakan. Jadi saya selalu jamin pembeliku,” katanya.
Di depan penulis Dg Lau mengaku, air tahu buatannya dapat dikonsumsi oleh semua usia ataupun golongan. Bagi ibu hami juga aman mengkonsumsi air tahu buatannya apalagi dengan kondisi perut kosong. Manfaat air tahu buatannya yakni di mana dapat menyehatkan jantung, tekanan darah tinggi, mengurangi diabetes, dan menjadi sumber protein bagi ibu yang sedang hamil dengan mendapat banyak vitamin.
Karena dibuat secara alami atau tanpa tambahan pengawet, air tahu buatan Dg Lau hanya dapat bertahan paling lama dua hari. Dan itupun ketika berada dalam freezer atau pendingin. Sementara ketika tidak dimasukkan dalam freezer, air tahu buatannya hanya bertahan selama 12 jam saja.
“Kalau ada yang sisa dari hasil penjualan, saya biasanya tidak jual mi. Takutka kalau besok saya jual rasanya tidak segar mi lagi. Pasti lari pembeliku. Jadi biasanya yang sisa itu saya konsumsi sama orang rumah atau kasikan sama orang kalau ada yang minta,” akunya.
Dalam sehari, Dg Lau dibantu istri ke empatnya yakni Maria Dg Kenang membuat air tahu sebanyak 250 botol. Sengaja dia buat dengan jumlah pas-pasan agar tidak banyak yang sisa ketika pembeli sedang sepi. Namun selama dua tahun dia berjualan, hanya dua atau tiga botol saja yang disisakan. Bahkan sering dia meminta kepada istrinya di rumah untuk membuat lagi tambahan ketika air tahunya sudah mulai habis.(*)



×


Pernah Bekerja Sebagai Buruh Bangunan dan Tukang Becak

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar