pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Bambu Petung untuk Lahan Konservasi

Bambu petung termasuk salah satu jenis pohon yang bisa dipilih dalam kegiatan reboisasi atau penghijauan. Dibanding jenis bambu lainnya, bambu petung (dendrocalamaus asper) memiliki banyak keunggulan untuk dibudidayakan. Di antaranya batangnya lebih kokoh, keras, dan memiliki serat yang sangat besar. Bambu jenis ini biasanya berdiameter 10-15 cm, memiliki ketebalan 50 mm, dan jarak antarruasnya mencapai 40-60 cm. Panjang batangnya bisa mencapai 20 hingga 25 meter.
Salah satu keunggulan bambu sebagai tanaman konservasi lingkungan adalah kemampuannya dalam menjaga ekosistem air. Sistem perakaran bambu sangat rapat. Akar-akarnya menyebar ke segala arah, baik menyamping maupun ke dalam tanah. Lahan tanah yang ditumbuhi pohon bambu juga biasanya menjadi sangat stabil. Tidak mudah terkena erosi. Oleh karena itu air juga lebih mudah menyerap ke dalam tanah yang ditumbuhi tanaman tersebut. Tanaman ini juga tahan dari terpaan angin yang kuat. Selain itu, bambu juga bisa tumbuh di lahan curam dan sangat berguna untuk menahan tanah dari kelongsoran. Karakteristik tersebut membuat bambu sangat cocok dijadikan tanaman penghijauan terutama di Daerah Aliran Sungai (DAS).
Pemilihan bambu sebagai tanaman konservasi air dan tanah sudah dilakukan di banyak negara seperti Cina dan India. Kedua negara ini bahkan berhasil memanfaatkan tanaman bambu untuk kepentingan konservasi air dan tanah. Sebuah laporan penelitian Akademi Beijing dan Xu Xiaoging yang dikutip dari www.balitri.litbang.pertanian.go.id menyebutkan bahwa bambu mempunyai kemampuan menyimpan air tanah lebih banyak hingga 240 persen jika dibandingkan dengan tanaman pinus. Bambu juga merupakan teknologi kapiler dari alam yang paling canggih sebagai peresap dan penyimpan air. Buktinya, di setiap kerimbunan hutan bambu pasti terdapat mata air yang keluar konstan dan stabil sekalipun di musim kemarau.
Di India juga demikian. Dikutip dari www.balitri.litbang.pertanian.go.id, upaya konservasi pada lahan bekas penambangan batu di negara ini dilakukan dengan penanaman bambu seluas 106 hektare. Ternyata hanya dalam kurun waktu empat tahun permukaan air bawah tanah di kawasan itu meningkat 6,3 meter dan seluruh areal penanaman menghijau. Di samping itu juga memberi pekerjaan kepada sekitar 80 persen penduduk setempat dan menambah pendapatan masyarakat melalui industri kerajinan bambu.
Di Sulawesi Selatan bambu petung juga dipilih sebagai salah satu pohon penghijauan. Bahkan Wakil Presiden RI, HM Jusuf Kalla mencanangkan langsung program penanaman 100 juta bibit bambu secara nasional di lahan seluas 5,5 hektare di Desa Lanna, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Oktober 2016. Pencanangan tersebut ditandai dengan penanaman bibit bambu jenis petung oleh Wapres didampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, dan Gubernur Sulsel Sahrul Yasin Limpo bersama ratusan masyarakat di lahan milik PT Inhutani.
Menurut Jusuf Kalla, bambu memiliki banyak manfaat mulai dari akar sampai daun sehingga timbullah pemikiran untuk tanam bambu. Bambu dapat menjadi panel, lantai, bio-feul, dan furniture. Bahkan kebun bambu itu sendiri bisa menjadi carbon catchment yang memiliki nilai ekonomis.
Ide memilih bambu sebagai tanaman penghijauan berawal dari perjalanannya ke Danau Tempe di Kabupaten Wajo bersama Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo. Waktu itu JK melihat Danau Tempe makin mengecil karena ada masalah di sungai. Danau Tempe tidak lagi biru. Jusuf Kalla berpendapat keberhasilan penghijauan ada di sungai dengan melihat warna airnya. Kalau warna sungainya biru, berarti penghijauan itu berhasil. Kalau masih cokelat, tidak berhasil.
JK berpendapat perbaikan lingkungan haruslah melibatkan masyarakat karena lingkungan yang baik bermanfaat bagi seluruh masyarakat. Selain memberikan manfaat bagi kehidupan, pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh masyarakat juga dapat menghindari tindakan penyelewengan dana anggaran oleh pejabat terkait.
Dengan bambu, pengelolaan lingkungan bisa dilakukan dengan dana yang murah. Apalagi, pohon bambu merupakan pohon yang paling bermanfaat bagi masyarakat. Pemerintah hanya menyediakan bibit pohon bambu yang kemudian dikelola oleh masyarakat dan hasilnya dibeli kembali oleh pemerintah. Itu sebabnya Jusuf Kalla juga meminta masyarakat untuk mengelola hutan dengan baik. Sebab, hasil dari pengelolaan hutan dapat dimanfaatkan untuk perdagangan karbon. Perdagangan karbon yang dimaksud yakni program menyalurkan dana dari negara penghasil emisi karbon kepada negara yang memiliki sumber daya alam agar dapat menyerap karbon.
Gubernur Sulsel Sahrul Yasin juga setuju bambu jadi tanaman penghijauan. Di Sulsel, program nasional penanaman 100 juta bibit bambu tersebut diawali dari daerahnya yang menanam 10 juta bibit. Secara histori, Gowa dipilih sebagai lokasi pencanangan penanaman bambu karena di daerah ini memang banyak kebun bambu. Itu karena Gowa pernah memiliki pabrik kertas. Bahkan mantan Presiden Soeharto juga pernah berkunjung ke Gowa melihat pabrik kertas dan kebun bambu. Menurut Syahrul, penanaman bambu di lahan itu untuk menjaga talud sungai yang dibangun dengan dana miliaran rupiah agar tidak rusak.
Dalam pencanangan penanaman sejuta bambu ini Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Siti Nurbaya juga melihat betapa pentingnya gerakan penanaman bambu ini karena akan meningkatkan fungsi hidroorologis yang bermanfaat bagi alam dan masyarakat dari keberadaan hutan bambu ke depannya. Menteri LHK optimis gerakan ini akan berhasil. Targetnya adalah 100 juta batang bambu. Khusus provinsi Sulawesi Selatan sudah dicabangkan 10 juta pohon bambu. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan siap menyiapkan bibitnya dan membantu daerah yang mengembangkan tanaman bambu. Secara reguler Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bankan siap menyediakan 2 juta batang bambu. (Fachruddin Palapa)



×


Bambu Petung untuk Lahan Konservasi

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar