pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Musim Kemarau, Petani Alih Profesi

SIDRAP, BKM — Sejumlah petani di Kecamatan Panca Lautang, Kabupaten Sidrap terpaksa meninggalkan sementara waktu pekerjaanya. Pemicunya, para buruh sawah ini memilih pekerjaan itu karena belum turun menanam lantaran musim kemarau.
Untuk dapat menyambung perekonomian, sebagian dari mereka terpaksa beralih menjadi pengrajin batu bata.
Pekerjaan yang menjadi rutinitas sebagian warga di sejumlah desa di Panca Lautang ini, menjadi tambahan penghasilan bagi mereka. Apalagi, sejak musim kemarau berlangsung permintaan batu bata merah melonjak. Harganya pun cukup menjanjikan yakni Rp500 sampai Rp 600 per buah.
“Sejak sebulan terakhir permintaan bata merah meningkat. Banyak yang butuh. Harganya pun lumayan, lebih dari cukup buat ganti keringat,” ujar Manra (35) pembuat batu bata asal Desa Wanio, Senin, (30/10) kemarin.
Dia menegaskan, petani di desa Wanio memiliki karakter yang tidak gampang menyerah. Di kala kekeringan, mereka tidak menyikapinya dengan kepasrahan.
Sembari menunggu musim hujan tiba dan irigasi terisi air mereka mencari alternatif pekerjaan lain seperti menjadi pembuat batu bata merah. Untungnyapun cukup menjanjikan.
Sikap pantang menyerah juga membuat para petani setempat terhindar dari gagal panen di tengah ancaman kekeringan. Malah, berkat kegigihan mereka dalam memenuhi kebutuhan air sawah dengan cara membuat sumur bor. Hasil panen yang diperoleh sangat memuaskan.
Hal senada juga diungkapkan oleh Landadi (30) mengaku, kekeringan yang melanda sebagian desanya sudah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
Dikatakan Dadi, dia bersama beberapa petani lainnya kini menggeluti produksi bata merah. Apalagi saat ini permintaan bata merah dari warga yang ingin membuat rumah cukup banyak, sehingga produksi bisa berjalan.
“Sebetulnya ini sementara, tetapi rutin kami tekuni pada saat musim kemarau, sambil menunggu pasokan air normal lagi. Biasanya mulai bulan tujuh sampai bulan sembilan. Tapi kalau kemaraunya panjang bisa sampai bulan 11, jadi tergantung perkembangan cuaca,” ucapnya.
Dia mengungkapkan proses pembuatan hingga bata merah bisa dijual membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 3 minggu. Setelah proses mencetak, bila sudah mencapai 10 hingga 30 baru bisa dilanjutkan ke pembakaran.
Kepala Desa Wanio, Muhammad Aziqin mengaku, petani di Sidrap, khususnya di Kecamatan Panca Lautang sekarang sudah semakin cerdas, makin pintar menyiasati kondisi alam dan juga kendala-kendala teknis lainnya. (ady/C)



×


Musim Kemarau, Petani Alih Profesi

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar