MAKASSAR, BKM — Satu per satu keluarga, tetangga, dan handai taulan berkunjung ke rumah almarhumah Nadjemiah Samad (66) di Jalan Batua Raya III No 29 untuk mengucapkan belangsungkawa, Senin (28/9) pagi setelah Kementerian Agama RI mengumumkan jika Nadjemiah termasuk salah satu korban tragedi Mina.
Sebelumnya, keluarga Nadjemiah mengaku jika mereka telah kehilangan kontak setelah tragedi Mina atau beberapa saat setelah wukuf di Arafah. Padahal, sebelumnya, Nadjemiah rutin berkomunikasi dengan keluarganya. Kala itu keluarganya belum yakin jika orangtuanya adalah salah satu korban. Nanti setelah Kemenag mengumumkan korban terbaru Mina, mereka langsung histeris.
Di halaman depan rumah Nadjemiah, kemarin, terpampang foto almarhumah mengenakan jilbab hijau. Sejumlah anak-anak korban yang bermukim di Makassar dan sekitarnya sudah berada di rumah orangtuanya sejak semalam. Sementara yang berada di luar Sulawesi tiba di rumah duka, Senin (29/9) malam.
Anak tertua korban, Kaharuddin (45) mengatakan, berita ibunya menjadi salah satu korban terowongan Mina diperoleh saat menonton berita di salah satu TV swasta, Minggu (27/9) sekitar pukul 20.30 wita.
Dia mengaku, saat tragedi Mina terjadi, tak ada firasat apapun jika ibunya menjadi salah satu korban terowongan Mina.
Kaharuddin terakhir berbicara melalui telepon dengan ibunya saat malam takbiran. Dia bertutur, ibunya juga menelpon adiknya satu per satu.
“Saat bicara dengan almarhumah, dia sempat berpesan untuk menjaga ayah dan adik-adik,” kata Kaharuddin.
Keesokan harinya, saat mendengar informasi terjadi tragedi terowongan Mina, Kaharuddin berusaha untuk terus menelpon sang ibu tapi tak pernah bisa terhubung.
Namun, dia tetap yakin ibunya tidak termasuk korban meninggal karena berpatokan dari informasi Tanah Suci, tiga jamaah haji asal Indonesia yang meninggal tidak ada yang berasal dari Sulselbar. Hingga akhirnya datang kabar yang mencantumkan nama sang ibu sebagai salah satu korban.
Kaharuddin bersama saudara-saudaranya mengaku pasrah dan menerima ketentuan yang telah digariskan Allah SWT. Diapun menyerahkan sepenuhnya kepada Pemerintah Arab Saudi terkait urusan jenazah sang ibu.
Bersama keluarga lainnya di Makassar, mereka memutuskan untuk menggelar takziyah selama tiga malam, 28-30 September di rumah duka.
Nadjemiah berangkat ke Tanah Suci bersama saudaranya yang sakit-sakitan. Saat berangkat, almarhumah dalam kondisi sehat wal afiat. Malah, Kaharuddin mengatakan, sang ibu sempat mewakili kakaknya yang sedang sakit untuk melempar jumrah. Untuk berangkat haji, almarhumah harus menyisihkan gaji pensiunnya selama 10 tahun.
Nadjemiah tergabung dalam kloter 10 calon jamaah haji Provinsi Sulawesi Barat.
Almarhumah meninggalkan seorang suami, Hasyim Yunus (75), sembilan anak dan 15 cucu.
Kaharuddin mengaku hingga saat ini, belum ada informasi resmi dari Kementerian Agama yang menghubungi keluarga korban untuk memberitakan kematian almarhum.
Sementara itu, Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) yang juga Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang mengaku sangat prihatin atas musibah yang menimpa jamaah haji.
Dia mengaku terus memantau perkembangan dari Tanah Suci. Agus juga meminta Arab Saudi melakukan investigasi melibatkan negara-negara OKI agar penyebab insiden tersebut segera diketahui.
“Kami juga berharap pemerintah Arab Saudi bisa meningkatkan pelayanan di tahun-tahun mendatang,” jelasnya.
Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo menilai Arab Saudi tidak bisa sendiri menangani persoalan haji. Butuh komunikasi dan konsesi dengan negara muslim lainnya karena Tanah Suci merupakan tempat tujuan seluruh umat muslim dalam menyempurnakan rukun Islam. Syahrul berharap ke depan, penyelenggaraan ibadah haji akan semakin baik.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulsel, Abd Wahid Tahir menjelaskan, hingga saat ini belum ada informasi yang diperoleh terkait jamaah haji asal Sulsel yang menjadi korban tragedi Mina.
“Hingga saat ini (kemarin, red) belum ada info jika ada jamaah haji Sulsel jadi korban. Yang ada itu tiga jamaah haji asal Sulbar,” katanya kepada BKM, Senin (28/9).
Dia mengaku terus memantau perkembangan dari Tanah Suci untuk mengetahui korban yang hilang dan wafat karena tragedi terowongan Mina.”Teman-teman disana terus memberikan informasi perkembangan Tanah Suci,” ungkapnya. (rhm/cha/b)
“Sempat Telepon Semua Anaknya, Berpesan Jaga Bapak”
×

