pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

MAKASSAR, BKM — Jarum jam menunjuk pukul 01.00 Wita. Peralihan waktu baru saja terjadi, dari hari Sabtu ke Minggu dinihari (23/7).
Puluhan personel dari Polrestabes Makassar tengah melakukan razia. Terdiri dari tim jatanras (kejahatan dan kekerasan), satuan narkoba, provist serta satuan reskrim. Tim yang dipimpin Kasat Narkoba, Kompol Diari Estetika ini mendatangi tempat hiburan malam (THM) dan rumah bernyanyi.
Penyisiran dimulai dari THM Publik di Jalan Arif Rate. Pengunjung yang melihat kedatangan petugas tampak kaget. Bahkan ada yang mencoba hendak kabur. Namun lokasi telah diblokade petugas. Salah seorang pengunjung THM ini diamankan karena tertangkap tangan membawa obat daftar G.
Petugas lalu naik ke lantai II THM ini. Dari penyisiran, petugas menemukan lagi barang bukti berupa saset sisa sabu serta ganja yang diduga telah digunakan.
Selain itu, ada pula ditemukan tisu magic. Kertas untuk menambah vitalitas pria itu dibuang ke lantai oleh pengunjung THM ketika melihat petugas datang.
Tim kemudian mendatangi THM dan tempat karaoke lainnya. Hasilnya, sebanyak 26 orang diamankan dari tempat berbeda. Ironisnya, 10 diantaranya merupakan anak di bawah umur. Ada pula yang ditemukan membawa ganja, obat daftar G jenis tramadol, serta senjata tajam badik.
Polisi lalu melakukan tes urine terhadap pengunjung THM dan rumah bernyanyi itu. Lima orang perempuan diindikasikan mengonsumsi narkoba. Pukul 03.00 Wita, mereka kemudian digiring ke Mapolrestabes Makassar guna menjalani pemeriksaan lebih intenfis.
Wakasat Narkoba Polrestabes Makassar, Kompol Fajri menjelaskan, mereka yang terjaring razia dan tes urinenya positif narkoba, langsung ditahan dan diproses hukum. Termasuk yang membawa ganja. Sementara yang kedapatan membawa badik, penanganan kasusnya diserahkan ke Satreskrim.
Sementara anak di bawah umur yang terjaring, masing-masing RR, MAY, AS, MIS, WRD, AB, MAN, AS, MA dan FJ. Menurut Fajrin, saat dilakukan penggerebekan, mereka ditemukan sedang nongkrong di luar THM. Kuat dugaan remaja ini terlibat dalam penggunaan obat-obatan daftar G.
Polisi melakukan penggeledahan terhadap mereka. Identitasnya juga diminta. Tapi belum memilikinya, karena masih belum cukup umur.
”Kami juga lakukan tes urine terhadap mereka. Sekaligus memberi pembinaan,” terang Fajrin.
Kapolrestabes Makassar, Kombe Pol Endi Sutendi menerangkan, razia THM dan rumah bernyanyi dilakukan setelah pihaknya menerima laporan dan informasi dari masyarakat bahwa sebagian pengunjung THM dan karaoke mengonsumsi narkoba dan membawa sajam.
”Razia ini sekaligus mengantisipasi peredaran narkoba di THM dan karaoke serta tempat lain. Razia seperti ini akan terus dilakukan,” kata mantan Kabid Humas Polda Sulsel ini, kemarin. (ish-jul/rus)

BULUKUMBA, BKM — Ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itulah yang dialami Hamzah alias Anca.
Dua kali ia mengalami kecelakaan lalulintas (lakalantas) di Jalan AP Petta Rani, Bulukumba. Dari peristiwa itu pula terungkap Anca memiliki narkoba jenis sabu.
Barang haram itu ditemukan di dalam dompetnya ketika Anca mengalami pingsan usai kecelakaan. Warga mendapati 22 saset yang diduga sisa paketan sabu.
Peristiwa bermula ketika Hamzah mengendarai sepeda motor Yamaha Vega R bernomor polisi DD 5010 XR, Sabtu (22/7) pukul 13.00 Wita. Ketika melintas di Jala AP Petta Rani dia terjatuh. Dalam kondisi tak sadarkan diri, warga yang melihatnya kemudian beramai-ramai membantunya untuk melakukan evakuasi.
Selanjutnya, warga berinisiatif mencari indentitasnya. Begitu dompetnya dibuka, ditemukan ada sabu sisa pakai. Warga kemudian menghubungi petugas Polsek Ujung Ujung Bulu.
Personel intelkam yang tiba di lokasi langsung mengamankan barang bukti yang ditemukan. Selanjutnya mengevakuasi Anca ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bulukumba guna perawata medis.
Setelah kondisinya membaik, petugas kemudian menginterogasi Anca. Ia pun berterus terang dan mengakui jika sabu tersebut ia dapatkan dari rekannya di sebuah kompleks perumahan.
Informasi itu langsung ditindaklanjuti polisi. Intelkam bersama unit Pulbaket Polsek Ujung Bulu, sekitar pukul 14.00 Wita berkoordinasi dengan Satuan Narkoba Polres Bulukumba.
Pukul 16.30 Wita, tim gabungan Opsnal bergerak melakukan pengembangan. Pelaku yang telah dikantongi identitasnya berhasil diamankan pada sebuah rumah di BTN II Kecamatan Ujung Bulu. Rumah tersebut milik salah seorang pelaku bernama Arif Arcan alias Regi.
Sebanyak 13 orang diciduk dari dalam rumah. Turut pula diamankan sejumlah barang bukti. Diantaranya 20 unit HP yang masih tersegel. Enam buah dompet. Dua bilah badik. 22 saset sisa sabu. 11 saset kristal kridtal bening yang diduga sabu. Dua buah korek api. Satu bauh sendiri sabu. Dua kartu ATM, serta uang tunai Rp626 ribu.
Sementara mereka yang diamankan, yakni Musawwir Ikhsan alias Iccang Bin Hamka Buya (18). ZM alias In (15). Asriasyah alias Rio Bin Syamsuddin (24). Ahmad R alias Ahmad Bin Ruma (29). Rezki Yudistira alias Eki Bin Muh Riza (19). Arwin Alias Wiwin Bin H Amo Rappe (26). Arif Arcan alias Regi bin H Amo Rappe (31).
Ada pula Yuyun Dirgantara alias Yuyun (18). Ahmad Yusuf Al Kadri alias Atos (21). Rezki Kurniawan alias Gunawan (19). Ihwan Jamal alias Iwan (20). Hamzah Rasul alias Anca Bin Abrar (20). Nurma Elisa alias Lisa Bin H.Nurdin (47).
Bersama barang buktinya, mereka kemudian digiring ke Mapolres Bulukumba guna kepentingan penyidikan.
Kapolres Bulukumba, AKBP M Anggi Naulifar Siregar yang dikonfirmasi, Minggu (23/7) mengaku masih memeriksa 13 orang yang diamankan tim Satnarkoba Polres Bulukumba.
”Masih menjalani pemeriksaan. Selanjutnya dilakukan pengembangan untuk mengetahui dari mana mereka mendapatkan barangnya,” kata Anggi. (ish/rus)

GOWA, BKM — Di sebuah rumah semi permanen di Ballaborong, Dusun Tanakaraeng, Desa Tanakaraeng, Kecamatan Manuju, Kabupaten Gowa. Kira-kira 20 km dari Kota Sungguminasa. Menuju arah Selatan dari Bili-bili.
Jarum jam menunjuk pukul 21.00 Wita, Rabu (19/7). Beberapa orang lelaki dewasa tampak di bagian teras. Mereka tengah menikmati minuman keras (miras) khas jenis ballo.
Di tengah-tengah berlangsungnya pesta ballo, tiba-tiba suasana gaduh. Dua diantara pria tersebut terlihat duet maut. Akibatnya, seorang meregang nyawa di lokasi kejadian. Sementara satu lainnya melarikan diri yang merupakan pelaku, belakangan ditemukan dalam kondisi kritis.
Korban tewas dalam peristiwa ini bernama Amiruddin Dg Ngempo alias Aco Empo (45). Lelaki yang berprofesi sebagai wiraswasta ini berdomisili di Jenemaeja, Kabupaten Takalar. Ia diparangi oleh Mustafa Dg Kila bin Beta (35).
Peristiwa tragis ini berlangsung di rumah seorang warga bernama Manai Dg Sibali (37). Rumah tersebut dijadikan sebagai tempat pesta ballo pada malam kejadian.
Awalnya, acara minum-minum ini tampak tenang-tenang saja. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja Mustafa Dg Kila menyerang dan menganiaya Amiruddin Dg Ngempo.
Mendapat serangan mendadak pelaku yang bersenjatakan parang, Amiruddin mencoba melakukan perlawanan. Namun apa daya, Amiruddin tak berkutik. Diapun menemui ajal setelah lehernya tertebas parang Mustafa. Rumah berlantai semen itupun langsung bersimbah darah.
Kepala Dusun Tanakaraeng, Haeruddin Dg Punna (36) yang mengetahui peristiwa berdarah itu, langsung melapor ke Polsek Manuju. Polisi pun datang ke tempat kejadian perkara (TKP).
Dari hasil olah TKP oleh kepolisian, baik korban maupun pelaku sama-sama sedang menikmati yang disiapkan pemilik rumah.
Kasubag Humas Polres Gowa, AKP Mangatas Tambunan, Kamis (20/7) mengatakan, kasus tersebut sudah ditangani polsek dan Polres Gowa. Beberapa saat setelah kejadian, korban langsung dibawa ke RS Bhayangkara untuk visum.
Polisi kemudian melakukan pengembangan kasus. Hasilnya, sekitar pukul 04.30 Wita, Kamis (20/7), tim Resmob Polres Gowa berhasil menemukan jejak Mustafa Dg Kila yang sempat melarikan diri. Pegawai honorer PLN Ranting Sungguminasa, Kabupaten Gowa itu ditemukan di RSU Salewangangan, Kabupaten Maros dalam kondisi terluka tusuk dan tidak sadarkan diri.
Satu luka tusuk berada pada bagian perutnya. Dalam kondisi seperti itu, Mustafa belum bisa dimintai keterangannya oleh petugas. Namun, menurut keterangan dari keluarganya, yakni Marzuki Dg Ngalle bin Jarre, yang memarangi korban Amiruddin adalah Mustafa.
”Kami sudah berkoordinasi dengan petugas medis RS Salewangan, Maros agar tersangka dapat dirujuk ke RSU Bhayangkara, Makassar untuk memudahkan pengawasan dan pengamanan. Namun, mereka belum memberikan persetujuan. Alasannya, harus menunggu dulu beberapa jam untuk melihat kondisi tersangka, apakah akan membaik atau tidak. Jadi petugas polres masih menunggu,” jelas AKP Mangatas Tambunan.
Tidak lama kemudian, petugas medis memperbolehkan Mustafa dibawa ke RS Bhayangkara, Makassar. Pengejaran sekaligus penangkapan Mustafa pada Kamis dinihari (20/7), dipimpin langsung Kasat Reskrim Polres Gowa, AKP Muh Darwis Akib.
”Kalau motifnya belum diketahui. Masih dalam proses lidik,” kata Mangatas.
Untuk menghindari kemungkinan timbulnya konflik menyusul tewasnya Amiruddin, polisi telah melakukan langkah antisipasi. ”Polres menempatkan personel di TKP, di kawasan rumah pelaku dan rumah sakit. Juga berkoordinasi dengan jajaran Polres Takalar, di mana keluarga korban tinggal. Kasusnya masih dalam penyelidikan guna mengungkap latar belakang kejadian,” jelas AKP Mangatas Tambunan.
Kapolres Gowa, AKBP Aris Bachtiar yang turun langsung ke TKP pada malam kejadian, berharap anggotanya mampu mengkondusifkan kondisi pascakejadian dengan melakukan pengamanan ketat.
“Kita belum tahu pasti apa motifnya. Yang jelas, kasus ini sedang dalam pengembangan. Sejumlah saksi di TKP sementara diambil keterangannya,” ujarnya, kemarin. (sar/rus)

MAKASSAR, BKM — Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulsel akhirnya menetapkan Bupati Takalar, Burhanuddin Baharuddin sebagai tersangka. Ia terseret kasus dugaan korupsi penjualan lahan negara di Desa Laikang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar.
Status tersangka Burhanuddin Baharuddin berdasarkan hasil pengembangan yang dilakukan penyidik dalam kasus tersebut. Termasuk adanya dua alat bukti yang cukup.
Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Sulsel, Tugas Utoto menyampaikan langsung penetapan tersangka Burhanuddin di kantor kejati Sulsel, Kamis (20/7). Menyusul status baru yang disandangnya, Burhanuddin segera dipanggil untuk diperiksa dalam kapasitasnya sebagai tersangka.
”Secepatnya kita akan lakukan pemanggilan terhadap tersangka untuk dimintai keterangannya,” ujar Tugas Utoto, kemarin.
Tugas menjelaskan, sampai saat ini tim penyidik sudah meminta keterangan dari sejumlah pihak. Termasuk ayah, istri dan anak Burhanuddin.
“Kita sudah memeriksa ayah, istri dan anak tersangka. Mereka menerima hasil penjualan lahan tersebut. Untuk jumlahnya, nanti kita telusuri lagi,” terangnya.
Penetapan Burhanudin sebagai tersangka, menurut Tugas Utoto, merupakan pengembangan dan pengamatan perkara yang saat ini sudah memasuki tahap persidangan.
“Yang bersangkutan ditetapkan sebagai tersangka dalam kapasitasnya sebagai Bupati Takalar. Dia diduga telah menyalahgunakan wewenangnya dengan mengeluarkan izin prinsip kepada PT Karya Insan Cirebon untuk menggunakan lahan yang terletak di Desa Laikang dan Punaga sebagai zona industri,” jelasnya.
Padahal, tambah Tugas, berdasarkan SK gubernur, lahan tersebut adalah lahan milik negara yang peruntukannya sebagai lahan transmigrasi.
“Berdasarkan izin prinsip yang dikeluarkan camat Mangarabombang, kepala Desa Laikang, dan sekdes Laikang, maka lahan tersebut kemudian dijual kepada PT Karya Insan Cirebon, dengan cara seolah-olah tanah tersebut milik masyarakat,” bebernya.
Dari total luas lahan 3.806,25 hektare, lahan yang sudah terjual seluas 150 hektare. Berdasarkan audit, kerugian negara yang terjadi dalam kasus ini mencapai Rp18 miliar lebih.
Dalam kasus ini, penyidik telah menetapkan empat orang tersangka, Yakni Camat Mangarabombang Noer Utary, Sekdes Laikang Risno, Kepala Desa Laikang Sila Laidi, dan terakhir Bupati Takalar Burhanudin Baharudin. Tiga tersangka lainnya saat ini tengah menjalani proses persidangan di Pengadilan Tipikor Makassar.
Penetapan Burhanuddin sebagai tersangka tidak berimbas pada proses pelayanan publik di masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD) lingkup Pemerintahan Kabupaten Takalar.
“Semua tugas dan pekerjaan masing-masing ASN tetap berjalan normal. Masih seperti biasa,” kata Amran Jaya Torada, salah satu pejabat yang ada di daerah ini, Kamis (20/7).
Sementara Aristo Safar, salah seorang aktivis di daerah menyatakan prihatin atas apa yang menimpa Bupati Takalar saat ini. Ia berharap, penetapan tersangka ini tidak mengganggu jalannya roda pemerintahan. Terutama pada aspek pelayanan publik.
“Kita harus menghargai upaya penegakan hukum yang dilakukan oleh pihak Kejati, dan tetap mengedepankan azas praduga tak bersalah. Kita berikan kesempatan pada Pak Bupati untuk melakukan upaya yang dilegalkan oleh hukum,” ujar Aristo Safar, kemarin. (mat-ari/rus)

UPAYA membumikan makanan khas dan tradisional Makassar kian banyak dilakukan. Bukan para pemilik ritel ataupun toko besar yang melakoninya. Namun para pedagang kecil dari kalangan kaum urban yang masuk ke kota ini.

Laporan: Arif Alqadry

JALAN Hertasning dalam beberapa bulan terakhir tampak berbeda dari biasanya. Ada pemandangan yang tak lazim terlihat di pingiran jalan ini, dari pagi hingga sore.
Ya, sepeda motor yang ditunggui pemiliknya berjejer tak jauh dari Lapangan Hertasning. Tepatnya di depan kantor PLN. Mereka bukan tukang ojek yang sementara menunggu penumpang. Karena di bagian boncengan kendaraan roda miliknya terdapat sesuatu yang telah dikemas rapi dan pembungkus plastik.
Disusun di atas sebuah kota ukuran sedang, mereka menawarkan jajanan berwarna kuning. Tertera sebuah tulisan pada secarik plastik ataupun kertas; poteng harga Rp5.000. Ada juga yang menulis; tape ubi.
Poteng adalah bahasa Makassar. Sementara tape ubi merupakan bahasa Indonesia.
Makanan khas ini memiliki rasa manis dan lembut ketika dikunyah. Poteng dipercaya memiliki banyak khasiat bagi kesehatan. Mulai dari menghilangkan rasa capek, menurunkan kadar gula, asam urat hingga mengobati penyakit kanker.
Hal itu dituturkan Dg Kallu, salah seorang penjual poteng yang berasal dari Desa Parambambe, Galesong Kota, Kabupaten Takalar. “Sudah banyak dokter yang datang beli tape atau air tape ke saya. Dia tanyaka kalau tape dan air tape banyak khasiatnya. Salah satunya bisa menyembuhkan kanker,” kata Dg Kallu.
Sudah tiga tahun ia menjajakan es poteng dan tape dengan cara keliling dari satu kompleks ke kompleks lainnya di Makassar. Hanya saja, di tahun ini dia bersama keluarganya hanya fokus menjual tape.
“Tahun inipi saya fokus jual tape saja, karena banyak orang cuma mau beli tape. Sebenarnya yang membedakan es poteng dengan tape hanya di sirup dan esnyaji. Jadi kalau es poteng tetap pakai tape, tapi dicampur dengan es dan sirup. Kalau tape hanya ubi yang sudah difermentasi,” jelasnya.
Ia mengklaim, hampir semua penjual tape ubi yang berjualan di sepanjang Jalan Hertasning merupakan keluarganya dari Galesong Kota yang datang mencari rezeki di Makassar. Sejak pukul 06:00 Wita, dirinya bersama keluarganya berangkat dengan sepeda motor untuk berjualan tape ubi di tempat ini.
Selain di Jalan Hertasning Raya, ada juga yang masuk ke pasar-pasar tradisional di Makassar seperti di Pasar Kalimbu dan Pasar Terong. Mereka mencari tempat kosong untuk berjualan.
“Tapi di Jalan Hertasningji yang bagus jualannya. Itupun di depan kantor PLN ini. Karena orang yang dari arah Jalan Petta Rani masuk Jalan Hertasning menuju Jalan Aroepala itu menuju desa. Jadi banyak orang yang beli. Semua jalan juga kita sudah servei. Di jalan iniji yang banyak laku,” akunya.
Sulitnya mendapatkan tempat strategis dengan harga yang terjangkau,menjadi kendala dirinya sampai saat ini belum dapat menjual tape secara menetap pada satu tempat. Padahal dikatakan, tapenya sudah seringkali dipesan dari hotel-hotel di Makassar dan mendistribusikan ke toko kue tradisonal.
”Kita jualan tape selesaipi musim hujan sekitar April. Karena kalau musim hujan, kualitas ubi itu jelek. Juga tidak banyak orang yang mau beli,” lanjutnya.
Di hari-hari biasa, dia mampu menjual 100 bungkus tape per harinya. Sementara di hari Minggu bisa mencapai 200 bungkus.
Untuk harganya, sebungkus tape dijual seharga Rp5.000. Sedangkan untuk air tape dijualnya seharga Rp10.000 per botol.
“Kalau rezeki baik, bisa jual 100 bungkus tape setiap hari. Jadi bisa kita dapat sampai Rp500 ribu, dari jam 6 pagi sampai jam 5 sore. Ini tongmi yang bisa saya kerja untuk menafkahi keluarga di rumah,” terangnya. (*/rus)

INNALILLAHI WAINNA ILAIHI ROJIUN. Kabar duka datang dari Kabupaten Jeneponto. Kepala Biro Harian Berita Kota Makassar (BKM), H Muh Jabbar Tanro berpulang ke rahmatullah. Kepergiannya begitu mendadak.

”PAK Andi, meninggalki H Jabbar Jeneponto tadi malam.” Begitu bunyi pesan singkat yang dikirim Amiruddin, perwakilan BKM di Jeneponto kepada saya pada Rabu (19/7) pagi pukul 08.59 Wita.
Setelah tertegun sejenak seakan tiak percaya, selanjutnya saya menelepon Amiruddin. Tujuannya untuk memastikan apakah informasi yang disampaikannya itu benar adanya.
”Iyye, Pak Andi. Tadi malam meninggal. Tidak sakitji. Tiba-tiba. Sebelum salat zuhur dikebumikan,” kata Amiruddin mencoba meyakinkan. Telepon kemudian dimatikan.
Mendapat kepastian itu, saya lalu menghubungi Fatahuddin Karaeng Kulle, koresponden BKM lainnya di Jeneponto. ”Masih sakitka, Pak Andi. Oleng-olengka ini. Vertigoku kambuh,” kata Karaeng Kulle dari balik telepon.
”Ow…sakitki. Sudah dengan informasinya H Jabbar meninggal dunia?” tanyaku.
”Ha…! Belumpi kudengar itu. Saya langsung ke rumahnya ini sekarang,” ujar Karaeng Kulle menutup pembicaraan lalu bergegas ke rumah duka.
Ya, begitulah ajal. Tak ada satupun manusia di dunia ini yang mengetahui kapan ajal menjemputnya. Termasuk H Jabbar Tanro.
Sebab di hari menjelang kepergiannya untuk selama-lamanya, Jabbar Tanro masih menjalani rutinitas kesehariannya. Di malam hari pukul 23.00 Wita ia mengalami kejang-kejang. Oleh pihak keluarga, Jabbar Tanro kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Lanto Dg Pasewang, Jeneponto.
Namun, hanya berselang 15 menit kemudian, Jabbar Tanro mengembuskan nafasnya yang terakhir. Ia berpulang di usia 62 tahun. Diagnosa medis menyebutkan almarhum meninggal karena sakit jantung. Jenazahnya kemudian disemayamkan di rumah duka Kampung Rannaya, Kelurahan Tolo, Kecamatan Kelara.
Semasa hidupnya, selain tercatat sebagai pegawai negeri sipil, almarhum juga aktif di dunia jurnalis. Ia bergabung di Berita Kota Makassar di awal-awal terbit harian tahun 2007.
Mengantar langsung berita yang sudah diketik di kerta folio, dari Jeneponto ke Makassar kerap dilakoninya. Begitu pula dengan foto yang sudah dicuci, juga dibawa serta untuk diterbitkan. Kala itu internet memang belum ada.
Meski demikian, Jabbar Tanro tak pernah surut. Perjuangannya untuk mengembangkan dan membesarkan Harian BKM di tanah kelahirannya tetap menggebu. Kemampuan dan eksistensi BKM bersaing dengan media lainnya di Jeneponto, salah satunya tidak terlepas dari sentuhan tangan dingin almarhum.
Komisaris Harian BKM, Ny Truitje Musila menyebut Jabbar Tanro sebagai sosok yang loyal dalam melaksanakan tugas. ”Dia bergabung dengan Binabaru di awal terbit harian. Orangnya rajin dan loyal ke perusahaan,” ujarnya.
Jabbar Tanro juga dikenal suka mengoleksi batu permata. Hal itu ia lakoni jauh sebelum demam batu melanda. Di kesehariannya, cincin yang dihiasi berbagai jenis batu permata melingkar di jari jemari tangannya.
Pemandangan ini begitu melekat di ingatan Ibu Ina, karyawati BKM. ”Biasa, kalau ke kantor selalu pakai cincin. Banyak cincinnya,” ujarnya.
Kepergian Jabbar Tanro untuk selama-lamanya mengundang kesedihan yang mendalam. Pelayat silih berganti berdatangan ke rumah duka dan memanjatkan doa.
Prosesi pemakamannya di pekuburan setempat disaksikan banyak orang. Ada Bupati Jeneponto Iksan Iskandar. Wakil Bupati Mulyadi Mustamu. Sekkab Muh Syarif Mustafa.
Hadir pula Ketua DPRD Jeneponto Muh Kasim Makkamula. Wakil Ketua DPRD H Paris Yasir yang disebut-sebut akan berpasangan dengan almarhum Jabbar Tanro di pilbup Jeneponto. Serta Ketua Fraksi PKS Thahal Fasni Bahar.
Almarhum Jabbar Tanro meninggalkan sembilan orang anak. Putra sulungnya, Syamsul Tika Tanro saat ini duduk sebagai anggota DPRD Jeneponto.
Legislator yang akrab disapa Tika ini sangat terpukul dengan kepergian bapaknya yang begitu mendadak. ”Bapak tidak pernah sakit sebelumnya. Tapi semalam sesak nafas akibat serangan jantung. Dibawa ke rumah sakit. 15 menit kemudian bapak sudah tidak ada,” ujarnya sambil menyeka air mata.
Bupati Jeneponto, Iksan Iskandar menyebut almarhum sebagai seorang pekerja keras yang penuh disiplin. Hal itu ditunjukkannya kala dia diberi amanah menduduki jabatan. Seperti di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta pengabdian terakhir selaku kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Sebelum akhirnya Jabbar Tanro memasuki masa purnabakti sekitar setahun lalu.
”Almarhum itu pekerja keras dan ulet. Waktu di BKD selalu rajin datang apel pagi. Pulangnya biasa tengah malam jam 12. Dia patut menjadi panutan,” kata Iksan.
Sebagai pimpinan daerah, Iksan mengaku sangat kehilangan sosok tokoh yang memiliki pemikiran cemerlang. Karena pemikiran itu pula, Jabbar Tanro kemudian membulatkan tekadnya untuk maju dalam bursa pilbup Jeneponto periode 2018-2023.
Sosialisasi sudah intens dilakukannya. HT yang menjadi singkatan namanya mulai dikenal di wilayah Jeneponto. Dukungan telah direngkuhnya. Partai politik juga meliriknya.
Empat partai telah ditempatinya untuk mengambil formulir pendaftaran. Masing-masing PKPI, PDIP dan PBB. Terakhir adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Jabbar Tanro mengambil formulir di PKB di hari terakhir menjelang kepergiannya, yakni Selasa pagi (18/7).
Sekali lagi, Tuhan yang kuasa atas semuanya. Manusia hanya bisa berencana, Dia jualah yang maha menentukan segalanya.
Di tengah-tengah aktivitasnya bersosialisasi dan merintis jalan menuju pilbup Jeneponto, Jabbar Tanro pergi untuk selama-lamanya. Handai taulan, kerabat, sahabat, teman profesi akan selalu mengenangmu. Selamat jalan…. (andi rustan-krk)