pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

SEBUAH situs sejarah tersimpan rapi di Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, Kota Makassar. Yaitu makam raja-raja Tallo. Lima jasad raja bersemayam abadi di tempat ini. Lalu siapa yang merawat makam itu?

Laporan: Rahman Hamid

SUASANA cukup sunyi. Hanya ada beberapa orang yang terlihat melakukan aktivitas. Salah satunya tengah memotong rumput menggunakan mesin.
Dialah Ibrahim Jamil. Sehari-harinya ia bertugas membersihkan pekarangan serta halaman makam raja Tallo. Mulai bekerja pukul 07.30 Wita, dan pulang pukul 16.00 Wita.
Pria tiga anak ini mukim di Jalan Teuku Umar 10 nomor 14 Kelurahan Kaluku Bodoa, Kecamatan Tallo. Setiap hari, pagi dan sore ia harus mengabsen dengan menggunakan sistem finger.
Bersama empat penjaga makam lainnya, Ibrahim melakoni tugasnya di tempat ini sejak Maret 1990. Tamatan SMA ini dulunya hanyalah seorang tukang reparasi kursi.
”Sudah lamami disini. Mulai tahun 90,” kata pria kelahiran 20 Januari 1969 itu.
Tugas pokoknya yakni pelestari budaya, melindungi dan merawat benda cagar budaya raja-raja Tallo. Ibrahim tercatat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) pemerintah pusat. Ia dinyatakan lulus tahun 1990, ketika dibuka lowongan untuk tenaga kerja bagi situs sejarah nasional.
Kabar baiknya, pendaftar yang lulus ketika itu langsung diangkat menjadi PNS. Ibrahim menjadi satu dari tiga orang PNS penjaga makam raja-raja Tallo.
Dengan statusnya itu, ia mendapat gaji per bulan sebesar Rp3 juta. Ditambah tunjangan kerja Rp2,2 juta, serta uang makan Rp32 ribu.
Ibrahim bersyukur dengan apa yang dikerjakannya saat ini. Diapun tak perlu mencari pekerjaan sampingan untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Gaji yang jumlahnya menghampiri lebih dari Rp5,2 juta itu sudah cukup guna menghidupi keluarganya. ”Yang penting cintai pekerjaan. Itu kuncinya,” kata Ibrahim.
Makam raja Tallo yang dijaga Ibrahim dibuka untuk umum. Pengunjung tidak dipungut biaya alias gratis.
Tahun 2016 lalu, tercatat ada 30.501 orang yang berkunjung ke tempat ini. Salah satu yang mendongkrak tingginya angka kunjungan adalah adanya program LSM membawa anak sekolah ke situs sejarah.
Selain itu, ada juga masyarakat umum. Biasanya didominasi masyarakat Galesong. Mereka yang sebagian besar adalah nelayan, mengunjungi makam sebagai bagian dari ritual appanaung ri je’ne.
Ada pula pengunjung yang datang dari Palembang. Mereka berziarah ke makam, yang di dalamnya total terdapat 96 makam. Terdiri dari lima makam raja, istri serta para petinggi kerajaan.
Untuk masuk ke dalam makam yang berbentuk gua, pengunjung harus melalui sebuah pintu. Dilengkapi dengan pintu besi di bagian depannya. Daya tampung di dalamnya hanya 14 orang. Tujuh di sebelah kiri dan tujuh di sebelah kanan.
Menurut Ibrahim, makam yang sudah ada sejak tahun 1641 ini telah menjalani renovasi satu kali. Berlangsung tahun 1978 hingga 1983. Batu yang dipakai adalah karst Pangkep. (*/rus)

MAKASSAR, BKM — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan bersama pemerintah kabupaten/kota diminta untuk bersikap tegas. Angkutan umum yang menggunakan aplikasi online yang beroperasi di daerah ini harus segera ditutup.
Hal itu disampaikan Syamsuddin Karlos, anggota DPRD Sulsel usai menerima raturan sopir angkutan umum yang menggelar aksi demo di gedung dewan, Senin (6/2).
Legislator PAN Sulsel ini menyebut, transportasi angkutan penumpang umum roda empat tersebut tidak mengantongi izin operasi. Juga tidak membayar pajak. Sementara angkutan umum konvensional memiliki kewajiban membayar pajak.
”Kami akan meminta pemerintah untuk memblokir transportasi yang menggunakan aplikasi online. Karena mereka tidak memiliki izin sebagaimana diatur dalam undang-undang. Selain itu, transportasi online juga tidak membayar pajak,” ujar Karlos.
Mantan wakil ketua DPRD Jeneponto ini berjanji, aspirasi para sopir akan diteruskan ke Kementerian Perhubungan, DPR RI serta institusi terkait. Akun moda transportasi aplikasi online harus secepatnya diblokir.
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Makassar, Mario Said mengaku belum bisa mengambil sikap terkait tuntutan para sopir yang tergabung dalam Organda (Organisasi Angkutan Darat).
”Kalau untuk taksi online, itu ranahnya provinsi (Dishub Sulsel). Kami sudah menggelar pertemuan dengan pihak kepolisian. Juga mengkoordinasikannya dengan pemprov dan Dishub Sulsel. Ada surat yang ditandatangani gubernur dan meminta untuk memblokir. Namun sampai saat ini belum ada keputusan dari Kementerian Kominfo,” jelas Mario.
Ia juga menyinggung tuntutan lain yang disuarakan para sopir. Yakni soal kenaikan pembayaran pajak Surat Tanda Kendaraan Bermotor (STNK).
”Kalau untuk pembayaran pajak kendaraan, sebenarnya kita sudah mengundang Organda. Juga menyampaikan ke provinsi, karena itu ranahnya. Dalam rapat diputuskan, Organda mengajukan keberatan atas kenaikan tersebut kepada gubernur. Namun ditolak, dengan alasan ini aturan dari pusat yang merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP),” terang Kadishub.
Untuk keberadaan BRT (Bus Rapid Transit) dan haltenya, Mario berdalih pihaknya tidak dilibatkan. Baik dalam penambahan koridor maupun halte.
”Untuk penambahan koridor BRT dan halte yang juga dipersoalkan sopir, itu ranahnya provinsi. Soal petepete smart yang mereka tolak, kami masih dalam tahap penyempurnaan. Belum kita sampaikan karena masih digodok,” tandasnya.
Mengenai legalitas petepete smart, Mario Said berharap tidak senasib dengan proyek mobil toko (moko). ”Mudah-mudahan petepete smart bisa bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ketua Organda Makassar, Saenal Abidin yang memimpin aksi, mengatakan demo ini sebagai lanjutan dari unjuk rasa komunitas angkutan umum se-Mamminasata yang berlangsung bulan Oktober 2016 lalu. Sebab hingga saat ini belum ada realisasi dari tuntutan mereka. Padahal, Kemenkominfo telah disurati oleh Organda dan Pemprov Sulsel bulan November 2016.
“Ini adalah aksi unjuk rasa atas bentuk kekecewaan kami karena belum adanya umpan balik dari pemerintah pusat. Kita sudah menyurat terkait penolakan terhadap angkutan online, namun tidak ada jawaban sama sekali,” katanya ketika berorasi di gedung DPRD Makassar, Senin (6/2).
Karenanya, mereka memberi batas waktu selama satu hari kepada Pemkot Makassar untuk memberi tanggapan atas tuntutan para sopir tersebut.
Salah seorang perwakilan sopir mendesak dewan dan pemkot untuk serius menanggapi aspirasi mereka. Jika dalam tempo seminggu ke depan tidak ada respons positif, mereka mengancam akan berbuat anarkis. Salah satunya menghancurkan sendiri armadanya.
”Jika seminggu tidak ada realisasi, yakin saja saya dan semua teman-teman yang hadir akan menghalalkan darah kami untuk urusan ini,” teriaknya diikuti sopir lainnya.
Mendengar hal itu, anggota komisi D DPRD Makassar Susuman Halim berjanji untuk mengakomodir tuntutan tersebut. Staf dewan diminta untuk segera mengagendakan rapat dengar pendapat (RDP) dengan seluruh stakeholder serta Organda.
”Jadi kita minta bersabar dan tidak berbuat hal-hal yang bisa merugikan. Kita pasti akan menindaklanjuti aspirasi yang disampaikan,” janji Sugali, panggilan karib legislator Partai Demokrat ini.
Melalui fax, staf dewan langsung mengirim aspirasi sopir ke instansi terkait, baik provinsi maupun pusat. ”Kalau diperlukan tanda tangan anggota dewan, kami siap,” tandas Sugali.
Anggota komisi B, Basdir senada dengan Sugali. Ia siap menjadi garda terdepan untuk memperjuangkan aspirasi sopir. Salah satunya terkait penolakan petepete smart.
”Saya adalah orang yang tahu bagaimana perasaan kalian. Saya secara terang-terangan dan pribadi menolak petepete smart. Sikap saya jelas. Kita bersama-sama berada di barisan saudara-saudaraku sopir petepete. Saat lauching petepete smart, anggota dewan yang ada disini tidak menghadirinya,” beber anggota Fraksi Demokrat ini. (rif-ita-jun/rus)

MEMBANGUN usaha membutuhkan perjuangan tak kenal lelah. Jangan harap kemajuan akan datang jika tidak disertai dengan tekad membangun yang kuat. Apalagi langsung goyah jika mendapatkan sebuah masalah.

LAPORAN: NUGROHO NAFIKA KASSA

HAMPIR semua yang memulai usahanya dari nol memiliki cerita menarik saat pertama merintis. Tak jarang kita disuguhkan dengan cerita yang menyentuh, bahkan mengundang rasa prihatin. Walaupun pada akhirnya kita akan dibuat kagum dengan kisah para pengusaha tersebut.
Alex, tak lupa membagi kisahnya ketika mendirikan Mitra Jaya Farm. Usaha yang benar-benar ia rintis sendiri dari nol. Kisah pentang menyerahnya mampu memberikan inspirasi tersendiri bagi orang-orang sekitarnya.
Menjadi anak pertama dari keluarga yang memiliki tingkat ekonomi rendah, membuat Alex harus banting tulang memperbaiki kondisi keluarganya. Sebelum serius terjun ke usaha ayam kampung supernya, Alex sempat bekerja di salah satu produsen rokok sebagai karyawan.
Namun gaji yang didapatkannya saat itu tergolong kecil. ”Bagaimana mau meningkatkan ekonomi keluarga, jika untuk diri sendiri saja sulit,” pikirnya kala itu.
Saat masih berstatus karyawan, sebenarnya Alex telah mencoba beternak ayam. Namun saat itu yang ia ternak adalah ayam hasil persilangan antara ayam kampung dan ayam bangkok. Kualitasnya di atas dari ayam kampung biasa.
Awalnya Alex mencoba beternak ayam sebanyak 33 ekor saja. Saat telah membuahkan hasil dengan menghasilkan anak sebanyak 200 ekor per bulannya, tiba-tiba saja hampir semua ayamnya terserang penyakit.
“Semuanya habis. Hanya satu yang tersisa,” kenang Alex mengisahkan kisah pilu pertamanya.
Mengalami kejadian seperti itu Alex bukannya berhenti. Namun justru semakin tertantang. Alex akhirnya mengambil keputusan penting. Ia keluar keluar dari tempatnya bekerja dan ingin fokus pada bisnis ayamnya.
Nah, saat keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan inilah mentalnya benar-benar diuji. Bercita-cita menjadi pengusaha ayam membuatnya harus pula memiliki modal yang cukup. Banyak cara yang ia lakukan demi meraih kesuksesannya.
Alex mencoba kembali membeli beberapa ayam. Untuk menopang pakan ayam-ayamnya, Alex rela berjualan kanvas motor dan barang-barang campuran. Barang-barang yang ia jual diedarkan di wilayah sekitar Parepare.
“Jadi saya jual kanvas motor sambil bawa terigu, kopi, gula, permen. Semua saya jual ke Parepare, Sidrap, Barru, sampai Pinrang,” jelas Alex.
Dengan penuh kesabaran, masa-masa itu dilalui Alex. Sampai pada akhirnya ia mendirikan kandang yang mampu menampung sampai ribuan ayam.
Tapi semua ujian yang dihadapi Alex belum berakhir. Selain harus berjualan untuk menopang biaya usahanya, Alex mencoba mencari pinjaman di bank. Saat berhasil mendapatkan kredit, Alex mengisi kandangnya dengan ribuan ayam kampung.
Namun hasilnya lagi-lagi gagal. Semua ayamnya mati. Bahkan sampai tiga kali Alex menggantinya dengan bibit ayam baru dan semuanya gagal.
Mental Alex benar-benar sangat diuji. Sampai pada akhirnya di awal 2014 Alex mendapat informasi dari rekannya di Jawa bahwa ada ayam kampung yang bisa tumbuh dengan cepat. Ayam kampung super namanya. Dari informasi itulah Alex mulai mencoba lagi.
Karena pada saat itu bibit ayam kampung super masih sulit, terutama di Sulsel, Alex harus mendatangkan langsung dari Surabaya. Setelah memulai usaha dengan ayam kampung super, ternyata hasilnya cukup memuaskan.
“Ternyata hasilnya lumayan, karena di umur 45 hari sudah bisa panen,” jelas Alex.
Setelah lama berjalan dan usahanya sudah mulai sedikit berkembang, masalah kembali dihadapi Alex. Ia bersoal dengan tempat pembelian bibitnya di Surabaya terkait kualitas bibit yang dikirim. Saat itu pihak produsen bibit tidak mau bertanggung jawab, sehingga Alex dengan terpaksa harus menghentikan kerjasamanya.
Tak berselang lama, Alex mendapat penggantinya. Ia menjalin kerja sama dengan produsen bibit ayam kampung super di Sleman, Yogyakarta. Disitulah usaha Alex mulai berkembang pesat sampai pada saat ini.
Sekarang usaha Alex telah berhasil. Perjuangan yang dilaluinya tidak sia-sia. Semuanya berkat usaha, kerja keras, dan doanya selama ini.
Saat ini Mitra Jaya Farm tiap minggunya bisa mendistribusikan sekitar 300 ribu ekor anak ayam. Semuanya didistribusikan ke seluruh wilayah di Indonesia. Ke depannya, Alex terus berencana mengembangkan usahanya lebih luas lagi. Ia ingin dalam beberapa tahun ke depan, usahanya telah bisa menghasilkan bibit sendiri.
Tak lupa Alex memberikan kiat-kiat bagi yang ingin memulai usaha. Baginya, seorang calon pengusaha itu harus bermental tangguh dan selalu mengandalkan dirinya, bukan orang lain. “Kalau satu atau dua kali gagal langsung menyerah, jangan harap bisa berhasil. Pengusaha itu mengandalkan diri sendiri. Jangan mengandalkan orang lain terus, karena kreativitas juga dibutuhkan,” tutup Alex. (*/rus)