pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

MAKASSAR, BKM — Terungkap sudah pelaku perampokan di rumah Brigpol Sry Wahyuni, polisi wanita (polwan) yang bertugas di Polres Pinrang. Pelakunya ada tiga orang. Dua diantaranya adalah ayah dan anak.
Mereka adalah lelaki Sari (41) dan anaknya Ag (16), serta seorang lagi bernama Lariu (36). Ketiganya beraksi di rumah korban BTN Griya Halida Blok E/11 Kampung Tengah Rubae, Kelurahan Bentengnge, Kecamatan Watang Sawitto, Pinrang.
Penangkapan dilakukan tim Resmob Polda Sulsel bekerja sama Satuan Reskrim Polres Pinrang. Tim yang dipimpin langsung Kanit Resmob, Kompol Muchammad Yunus Saputra bergerak ke lokasi persembunyian pelaku, Rabu (11/11) sekitar pukul 17.30 Wita.
Tempat yang dituju Kampung Alacalimpo, Kelurahaan Pakkie, Kecamatan Tiroang, Kabupaten Pinrang. Lokasi ini langsung diblokade aparat. Dua tersangka berhasil diringkus. Masing-masing Sari bersama anaknya Ag.
Untuk meminta keterangan yang lebih jauh, polisi kemudian menggiring keduanya ke Mapolres Pinrang. Sari kemudian ‘bernyanyi.’ Ia menyebut satu orang rekannya yang kabur ke Sulawesi Barat usai beraksi di rumah Brigpol Sry Wahyuni.
”Saya bersama anak saya dan La Riu. Tapi La Riu kabur ke Sulawesi Barat setelah kami mencuri. Dia yang jadi dalangnya,” kata Sari kepada polisi yang menginterogasinya.
Mendengar pengakuan Sari, polisi langsung bergegas menuju ke Sulbar. La Riu diketahui bersembunyi di wilayah Kampung Kabuloang, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju.
La Riu akhirnya berhasil diringkus, Kamis (12/1) pukul 07.00 Wita. Bersamaan dengan itu, dari lokasi penangkapan polisi juga menyita sejumlah alat bukti. Diantaranya sebilah parang stainless steel. Masih terdapat bercak darah di senjata tajam itu. Parang inilah yang digunakan pelaku melukai Brigpol Sry Wahyuni. Ada pula dua bilah parang hitam. sebilah badik, dua handphone serta satu jimat.
Lengkap sudah komplotan ini diamankan petugas. Mereka kemudian dibawa ke markas Resmob Polda Sulsel untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Pada pengakuannya, Sari menunjuk La Riu sebagai eksekutor pencurian di rumah Brigpol Sry Wahyuni. Dia mengaku sudah kerap melakukan aksi kriminal bersama-sama di sejumlah tempat. Bahkan, Sari menyebut ada lebih 10 lokasi tempatnya beraksi.
”Esekutornya La Riu, Pak. Saya dan La Riu sering sama-sama. Ada lebih 10 lokasi di Pinrang,” ujar Sari.
Diantara yang disebutkan Sari, yakni di BTN Grha Andika. Perampokan di rumah Brigpol Sry Wahyuni. Pencurian di Paleteang, di Jalan Lingkar, Jalan Carawali dan di Jalan Salo.
Untuk pencurian dengan pemberatan (curat) di rumah Brigpol Sry Wahyuni, tersangka memang telah merencanakannya jauh sebelum beraksi. Salah satu alasannya, karena korban hanya tinggal bersama anaknya di rumah. Suaminya tak berada, sebab bekerja sebagai pegawai bank di Makassar.
”Polwan itu memang target kami, Pak. Karena kami tahu dia tinggal sendiri di rumahnya,” terang Sari lagi.
Sebenarnya, menurut pengakuan Sari, saat melakukan perampokan ia hendak memperkosa korban. Alasannya, agar korban malu dan tidak melapor.
”Tapi waktu di dalam kamar, korban terbangun dan melawan. Dia kemudian ditikam oleh La Riu. Di tangannya (La Riu) itu ada bekas sayatan,” beber Sari lagi.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani mengatakan, ketiga tersangka masih menjalani pemeriksaan. Mereka telah diserahkan ke Polres Pinrang untuk proses hukum selanjutnya.
”Ketiganya masih dimintai keterangan. Dari hasil pemeriksaan sementara, tersangka mengakui perbuatannya. HP korban merek Samsung tipe 18262, saat kejadian diambil oleh pelaku. Barang bukti itu berhasil disita saat dilakukan penangkapan terhadap Ag, anak dari Sari di rumahnya,” jelas Dicky, Kamis (12/1).
Kabid Humas juga membenarkan jika ketiga tersangka telah merencanakan aksinya. ”Rencananya korban hendak diperkosa. Namun, saat kejadian korban melawan saat berhadapan tersangka La Riu. Tersangka yang menggunakan senjata, sempat terluka sekitar 5 cm pada bagian lengan kirinya. Ia terkena senjatanya sendiri. Sementara korban terluka di bagian perut sebelah kiri dan terkena sayatan di lengan,” terang Dicky lagi.
Saat kejadian di tengah malam, korban tertidur dalam kamar bersama anaknya yang masih berumur 6 tahun. Hingga kemarin, Brigpol Sry Wahyuni masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum (RSU) Lasinrang. Kondisi personel Satuan Binmas Polres Pinrang ini sudah mulai membaik.
Kapolres Pinrang, AKBP Leo Joko Triwibowo melalui Kasat Reskrim, AKP Muhammad Nasir yang dikonfirmasi, Kamis (12/1) via selularnya, membenarkan penangkapan terhadap tersangka penikaman Sry Wahyuni.
Dari hasil interogasi, kata Nasir, tersangka Sari mengaku berperan sebagai pengantar dan menunggu di depan rumah korban. Sementara La Riu masuk ke dalam rumah dan menikam korban.
“Untuk saat ini, dari pengakuan pelaku, motifnya adalah pencurian. Tetapi hal itu masih kita dalami. Pelaku nekat melukai korban karena tepergok saat melakukan aksinya,” jelas Nasir. (ish-ady/rus/c)

MAKASSAR, BKM — Aksi demonstrasi yang dilakukan anggota Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Bantaeng yang tergabung dalam Front Perjuangan Rakyat, Kamis (12/1), berakhir ricuh.
Komunitas pendemo yang berjumlah 13 orang ini menggelar aksi di jalan nasional depan gedung DPRD Bantaeng. Akibatnya, arus lalulintas dari dan menuju Makassar terganggu karena mereka menutup badan jalan.
Personel Polres Bantaeng yang mengawal aksi tersebut, mencoba membujuk pendemo agar bergeser dari badan jalan. Tapi mereka menolak. Bahkan menghajar salah seorang personel polres.
Aldi Rimba yang sedang menyampaikan tuntutannya menghantam Bripka Sudirman dengan menggunakan megafon. Akibatnya, darah segar mengucur di pelipis kanan polisi tersebut.
Kapolres AKBP Adip Rojikan didampingi Wakapolres Kompol Suprianto yang berada di TKP langsung memerintahkan untuk membubarkan aksi Aldi dan kawan-kawan. Selanjutnya, Aldi selaku korlap bersama dua rekannya, masing-masing Irham (Ketua PC PMII Bantaeng) dan Anca, diamankan polisi.
Salah seorang pendemo lainnya, Idris mengambil alih komando aksi dan bersedia berdialog di ruang paripurna dewan. Idris meminta maaf kepada kapolres dan jajarannya atas insiden tersebut.
Kapolres Bantaeng menegaskan, pihaknya tetap memproses kasus penganiayaan yang menimpa anak buahnya. “Proses hukum tetap berjalan,” tandasnya.
Ketua DPRD Bantaeng, H Sahabuddin yang menerima aspirasi pendemo ini, menyatakan prihatin dan sangat menyayangkan terjadinya insiden tersebut.
Sahabuddin meminta kepada semua elemen masyarakat yang mau menyampaikan aspirasinya agar menempuh cara-cara yang baik.
Wakapolres Bantaeng mengatakan, Bripka Sudirman sudah divisum di RSUD Prof Anwar Makkatutu. Namun dia mengaku tidak mengetahui secara pasti luka yang diderita korban. “Anggota kami yang jadi korban sudah divisum,” katanya.
Demonstran yang mengatasnamakan Front Perjuangan Rakyat ini, menyampaikan tuntutan antara lain, menolak kenaikan harga BBM, tarif listrik, pembayaran STNK dan BPKB.
Aksi serupa berlangsung di Makassar. Ribuan mahasiswa menggelar demo di jembatan flyover Jalan Urip Sumoharjo.
Dalam tuntutannya, mereka menolak pemberlakuan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 60 tahun 2016 tentang PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak) yang memicu terjadinya kenaikan tarif penerbitan STNK dan BPKB. Termasuk kenaikan tarif dasar listrik (TDL), serta BBM. Kebijakan tersebut tidak pro rakyat dan membebani.
“Sebelum melakukan aksi, lebih dulu kami melakukan pengkajian isu. Banyak sekali ketimpangan yang terjadi. Seharusnya, Polri dan Jasa Raharja melakukan sosialisasi terkait sumbangan wajib lalulintas. Kami menolak PP No 60,” tegas Adhe Sirha, jenderal lapangan aksi 121, kemarin.
Aksi bela rakyas 121 ini memicu terjadinya kemacetan parah di Jalan Urip Sumoharjo dan AP Petta Rani. Aparat kepolisian berusaha mengalihkan jalur para pengguna jalan yang terjebak macet.
Sebanyak 26 kelompok mahasiswa dan ormas tergabung dalam aksi ini. Selain di flyover, mereka juga mendatangi gedung DPRD Sulsel serta kantor PLN di Jalan Hertasning.
Sekelompok ibu-ibu juga terlibat dalam aksi ini. Mereka adalah pedagang dan penjual di Pantai Losari. Tergabung dalam Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND).
“Kami membawa massa sekitar 70 orang. Mereka ibu-ibu pedagang kakilima di Anjungan Pantai Losari. Mereka menolak kebijakan pemerintah terkait kenaikan tarif listrik dan harga BBM,” kata Jendral Lapangan, Mahfud Ibrahim.
Sempat terjadi aksi dorong antara massa dengan polisi. Hal ini dipicu oleh keinginan massa untuk membakar ban. Namun itu tidak berlangsung lama. Aparat kepolisian yang dilengkapi mobil water canon berhasil mengantisipasi aksi anarkis.
Tak berselang lama, terjadi bentrokan antara massa dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) dengan anggota polisi di bawah jembatan flyover. Lagi-lagi situasi ini bisa diatasi. Pengunjuk rasa kemudian membubarkan diri sekitar pukul 17.00 Wita.
Wakapolda Sulsel, Brigjen Edy Gatot Pramono menyampaikan terima kasihnya, karena aksi 121 berjalan dengan damai. “Kami salut karena tidak ada tindakan anarkis dalam aksi ini,” ujarnya. (wam-ish/rus)

MAKASSAR, BKM — Ini peringatan bagi pengunjung mal. Anda harus lebih berhati-hati ketika berada di pusat perbelanjaan. Komplotan pencopet terus mengincar.
Seperti dialami drg Ni Putu Widani. Ia menjadi sasaran copet saat berada di sebuah mal. Kejadian itupun dilaporkan ke Polsek Ujung Pandang, Minggu (8/1) pukul 12.00 Wita.
Laporan korban kemudian ditindaklanjuti polisi. Pelaku yang diperkirakan lebih dari satu orang, langsung diburu.
Dari hasil penyelidikan yang dilakukan aparat Polsek Ujung Pandang, pelaku berjumlah empat orang. Masing-masing dua wanita dan dua pria. Identitas keempatnya pun teridentifikasi.
Tim Unit Khusus Polsek Ujung Pandang kemudian bergerak, Senin (9/1) pukul 19.00 Wita. Dipimpin Kanit Reskrim AKP Laode Ahmad dan Panit 2 Reskrim, Aiptu Justang, polisi langsung ke lokasi persembunyian pelaku.
Keempatnya berhasil dibekuk di Desa Taeng Tamanyeleng, Kabupaten Gowa. Masing-masing Erni Damayanti alias Erni Po’nya (35), warga Desa Taeng Tamanyeleng, Gowa. Saripah alias Sara (35), warga Jalan Cendrawasih Rapak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Rahmat alias Tobbe (31), warga Jalan Kampung Baru Tengah, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Ketiganya merupakan eksekutor pencopetan.
Satu lainnya adalah Risal (30), warga Jalan Kasomberang, Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Ia berperan sebagai sopir mobil yang mengantar ketiga pelaku. Keempatnya kemudian digiring ke Mapolsek Ujung Pandang untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Saat diperiksa, salah seorang pelaku, Saripah mengaku menyusun rencana dan emlakukan aksinya bersama Rahmat alias Tobbe. ”Saya berdua Rahmat yang merencanakan pencopetan, Pak. Sasarannya pengunjung mal,” ujarnya.
Kapolsek Ujung Pandang, Kompol Ananda Fauzi Harahap menerangkan kronologis penangkapan keempat komplotan pencopet ini.
“Mereka berhasil kita ringkus berdasarkan rekaman CCTV salah satu toko di lokasi kejadian. Dari hasil analisa penyelidikan, kuat dugaan pelaku mencarkan aksinya secara berkelompok. Mereka yang terekam CTTV berjumlah tiga orang. Dua wanita dan satu orang pria. Salah satu wanita, yakni Erni tertangkap kamera CCTV saat menggesek dan melakukan transaksi kartu kredit korban di salah satu toko,” jelas Ananda, kemarin.
Setelah mengindentifikasi identitas para pelaku, dibentuklah tim khusus guna melakukan pengejaran. Empat orang ditangkap di lokasi berbeda.
Erni ditangkap di rumahnya Desa Taeng, Kabupaten Gowa. Ia bersama Risal yang merupakan sopirnya. Suami Erni juga diamankan saat berada di dalam rumah.
Erni dan Risal kemudian ‘bernyanyi’. Mereka menyebut dua rekannya yang lain.
Malam itu juga, kira-kira pukul 20.00 Wita, tim khusus langsung melakukan penangkapan terhadap Saripa di Jalan Monginsidi Baru, Makassar. Pelaku lainnya, Rahman dibekuk sejam kemudian. Ia diciduk di Kompleks Marinda, Makassar.
Selain mengamankan empat orang tersangka, polisi juga menyita sejumlah barang bukti. Diantaranya dompet dan lima unit handphone berbagai jenis dan merek. Juga surat-surat penting milik korban yang ditemukan di samping tempat sampah di Jalan Pelita, Makassar.
”Pemeriksaan keempat pelaku masih dilakukan guna mengungkap komplotan lainnya,” ujar Ananda.
Dalam laporannya, korban mengaku kehilangan sebuah dompet berisi uang tunai Rp100 ribu. Beberapa surat penting dan kartu kredit. Pelaku sempat menguras kartu kredit korban sebesar Rp20 juta.
”Pelaku sempat melakukan transaksi pembelian barang elektronik dengan menggunakan kartu kredit korban. Seperti membeli satu HP merek Oppo, satu HP Samsung A3, satu HP Samsung A76 serta 2 gram emas. Kerugian korban sebesar Rp20 juta,” beber Kapolsek. (ish/rus)