Event

Dari Masohi, Eklin Tebar Pesan Perdamaian Melalui Dongeng


LITERASI -- Dongeng Damai di Pulau Damer tahun 2018. Eklin bersama Dodi mendongeng dengan cara membacakan dongeng dari salah satu buku dongeng sebagai salah satu upaya mendorong gerakan literasi bagi anak-anak Maluku.

ANTUSIAS — Dongeng Damai di Desa Kehli Maluku Barat Daya tahun 2018. Eklin bersama Dodi disambut penuh antusias anak-anak di daerah tersebut.


DIALOG — Dongeng Damai di Bebar Barat, Maluku Barat Daya. Eklin bersama Dodi sedang mendongeng sambil berdialog dengan salah seorang anak.

SENYUM bahagia terpancar dari wajah Eklin Amtor de Fretes saat pengumuman penerima awards Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia SATU Indonesia) pada 31 Oktober 2020. Pasalnya, dari sebelas nama penerima awards, ada nama Eklin sebagai salah satu penerima awards bidang pendidikan.
Kebahagiaan itu wajar dimiliki seorang Eklin. Karena lelaki kelahiran Masohi, Maluku Tengah, Maluku ini, berhasil menyisihkan ratusan kandidat lainnya yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Eklin meraih awards ini atas konsistensinya dalam menyampaikan pesan-pesan perdamaian dengan cara mendongeng.
”Saya tentu merasa bahagia telah mendapatkan penghargaan SATU Indonesia. Bagi saya, penghargaan ini telah menghadirkan kegelisahan-kegelisahan dan semangat yang terus terbakar dalam diri saya. Penghargaan itu bukanlah ujung. Tapi penghargaan adalah jalan untuk tetap berproses dan harus tetap bergerak untuk mengerjakan banyak hal lainnya. Masih banyak kebaikan yang harus digerakkan. Penghargaan itu hanyalah bonus dan sebagai pengingat bahwa harus tetap semangat, harus tetap bergerak, serta melakukan kebaikan-kebaikan untuk tetap diberkati dan memberkati banyak orang,” tutur lelaki kelahiran 19 November 1992 ini.
Penghargaan SATU Indonesia yang diraih Eklin tidak terlepas dari dorongan dan motivasi dari seorang perempuan bernama Anita. Anita ini bukanlah ibu, saudara ataupun kerabat dari Eklin. Tapi Anita adalah salah seorang panitia dari SATU Indonesia Awards.
”Ibu Anita ini adalah panitia di SATU Indonesia Awards. Beliau lah yang mendorong dan memotivasi saya untuk ikut dalam ajang pemberian penghargaan dari Astra ini. Saya mengikuti arahannya, karena saya tahu apa yang saya lakukan bisa menjadi contoh bagi teman-teman muda dan bisa menjadi berkat bagi banyak orang lain. Jadi kenapa tidak harus dicoba,” ujar anak keempat dari lima bersaudara ini.

Lawan Segregasi

Bagi sebagian besar masyarakat Maluku, tahun 1999 merupakan tahun kelam. Pasalnya, di tahun ini telah terjadi konflik di Maluku. Eklin kecil yang kala itu baru berusia sekitar enam tahunan ikut merasakan dampak dari konflik ini.
Dampak dari konflik tersebut telah membuat segregasi wilayah semakin diperkuat. Saudara-saudara Muslim terpisah jauh dengan saudara saudara Kristen. Segregasi itu sendiri adalah pemisahan suatu golongan dengan golongan lainnya.
Tapi segregasi wilayah itu juga bisa berdampak pada segregasi pemikiran. Karena orangtua atau orang dewasa dalam kelompok homogen itu seringkali menceritakan cerita tentang konflik tersebut. Dimana, bisa saja dengan pemilihan bahasa kurang tepat, akan membuat anak-anak bisa jiga memasang pelabelan buruk terhadap kelompok yang berbeda.
”Oleh karena itu saya berfikir, kalau memang segregasi wilayah di Maluku bisa berdampak pada segregasi pemikiran akibat penuturan, maka hal tersebut pun dapat dikanter atau dilawan. Juga dengan penuturan. Maka saya memilih dongeng untuk melawan hal tersebut. Sebab dongeng mengandung nilai-nilai kebaikan. Dimana orang yang mendengar dongeng dapat belajar nilai-nilai tersebut. Juga dapat menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam kesehariannya,” aku Eklin
Dalam mendongeng lintas pulau bahkan lintas iman di Maluku, Eklin punya harapan besar agar bagaimana para orangtua atau orang dewasa yang melihatnya mendongeng dapat berfikir bahwa daripada menceritakan cerita-cerita konflik kepada anak-anak, lebih baik ceritakan cerita yang dapat membangun kepribadian anak-anak menjadi lebih baik.

Belajar Secara Otodidak

Kepiawaian mendongeng yang dimiliki Eklin sekarang ini ternyata tidak melakukan suatu pendidikan khusus. Tapi semua teknik mendongeng dipelajari secara otodidak melalui Youtube. Selain belajar secara otodidak, kepiawaiannya mendongeng juga tidak terlepas dari keseringannya mendengarkan dongeng dari mama, papa, dan juga seorang nenek yang tinggal di sebelah rumahnya.
”Saya belajar mendongeng hanya lewat youtube dan otodidak. Saya tidak ikut
workshop-workshop dongeng. Selama dua minggu saya belajar mendongeng lewat youtube,” ujar Eklin.
Berbeda dengan pendongeng pada umumnya, Eklin tidak sekadar mendongeng. Tapi juga melakukan seni berbicara tanpa menggunakan gerakan bibir atau ventriloquism. Karena dalam mendongeng, Eklin tidak sendirian. Dia ditemani bonekanya bernama Dodi. Dodi ini adalah akronim dari Dongeng Damai.
”Karena saya juga menggunakan figur boneka dalam mendongeng. Maka mendongeng dengan ventriloquism saya pelajari selama dua minggu dari Youtube. Kemudian saya memberanikan diri untuk mulai mendongeng dengan menggunakan ventriloquism,” aku Eklin.
Setelah dirasakan sudah cukup bisa menguasai, tepat 1 Januari 2018, Eklin mulai menapaki jalur mendongeng secara ventriloquism. Namun langkah awalnya mendapat sandungan. Dia ditolak oleh masyarakat di salah satu daerah di hutan Seram. Dimana, masyarakat setempat masih menganut agama suku atau agama lokal.
”Mereka beranggapan kalau saya ini calon pendeta dan hendak melakukan proses kristenisasi. Sehingga saya diusir. Syukurlah, dihari berikutnya atau tepatnya 2 Januari 2018, saya pindah ke lokasi agama suku yang lain. Di situ saya mendongeng bagi anak-anak di agama suku yang lain. Saya diterima mereka di suatu tempat dimana mereka melakukan upacara adat. Dan saya mendongeng di tempat itu. Setelah itu saya pindah lagi ke daerah daerah perbatasan konflik,” katanya.
Penerimaan yang baik dan untuk makin menyebarkan materi dongengnya, Eklin mulai memostingnya di Instagram dan Facebook. Ternyata, postingannya ini mendapatkan perhatian dari para tenaga keamanan, seperti polisi dan tentara. Mereka pun mulai membantunya. Sebagian polisi dan tentara memfasilitasi gereja dan masjid. Mereka menyatukan anak-anak kristen dan anak-anak muslim di gereja, masjid maupun tempat-tempat ibadah lainnya. Eklin pun mulai mendongeng di hadapan anak-anak yang berbeda agama tersebut.

Bawakan Nilai Universal

Dongeng lintas pulau dan lintas iman di daerah daerah perbatasan konflik, termasuk anak-anak di rumah sakit, makin giat dilakukan Eklin. Materi dongengnya tidak lagi sebatas nilai perdamaian atau nilai lintas agama. Tapi nilainya universal.
Dalam menyampaikan materi dongeng agar betul-betul mengena, maka Eklin sudah mulai melihat tempat serta apa yang menjadi kebutuhan daripada anak-anak yang dihadapinya. Jadi bisa saja dongeng nilai kasih tentang berbagi, nilai tentang mencintai alam dan sebagainya. Nilai nilai kebaikan yang ada dalam dongeng itulah yang dipelajari anak-anak lewat dongeng tanpa ada kesan menggurui.
Dan ketika mereka bisa menghidupkan nilai-nilai itu dalam kesehariannya, itulah yang disebut damai. Dan ketika mereka bisa bahagia, bisa ceria, dan bisa bersama. Hidup yang penuh perbedaan tapi mereka bisa menyatu, maka disitu ada damai. Dongeng tidak harus tetap lintas iman. Tapi nilai nilai dongeng bisa meluas.
Selama melakoni mendongeng bersama Dodi, Eklin mengaku tidak menemukan kesulitan sama sekali. Karena semua ditopang ketekunan, semangat, dan niat untuk belajar sungguh-sungguh.
”Boneka Dodi yang menemani saya mendongeng ini saya dapatkan di Yogya. Saya harus mengumpulkan uang selama beberapa bulan untuk dapat membeli boneka ini dari salah satu penjual secara online di Yogya,” tutur Eklin.
Untuk menggali materi dongengnya, Eklin melakukannya lebih pada kontekstual. Dia harus melihat kondisi anak-anak dan wilayah yang dikunjunginya. Ketika mau mendongeng di suatu tempat atau pulau, misalnya anak-anak harus hidup dengan sampah, atau di suatu daerah yang sering terjadi pengrusakan habitat penyu, tentu harus mendongeng tentang mencintai alam atau mencintai sesama, termasuk penyu. Atau di daerah yang sedang tertimpa bencana gempa bumi.
Agar materi dongengnya dapat dengan mudah dipahami anak-anak ini, Eklin terkadang harus membuat imajinasi yang lebih sederhana. Misal bercerita tentang pohon atau binatang apa yang ada disitu dan dekat dengan anak-anak. Tinggal bagaimana mengembangkannya dengan mengangkat tokoh-tokoh.
Selain itu, Eklin juga terkadang membacakan buku cerita atau buku dongeng yang bersifat umum pula. Dimana tentunya mengandung nilai-nilai kebaikan. ”Dengan membacakan cerita atau dongeng dari buku, saya juga secara tidak langsung melakukan gerakan literasi. Sebab dengan anak-anak melihat proses membaca, maka tentu akan membangkitkan gairah mereka kalau membaca itu tidak akan membosankan. Tapi malah mengasyikkan,” cerita Eklin bersemangat.
Dalam mendongeng, Eklin bukan semata-mata menyasar kalangan anak-anak. Karena terkadang saat mendongeng, ada juga orangtua yang hadir. Dan bahkan, para orangtua ini ikut juga tertawa bersama anak-anaknya.
Sebelum menjadi pendongeng, Eklin disibukkan dengan kegiatan melayani aktivitas di gereja. Apalagi dia adalah seorang calon pendeta. Misal melayani ibadah dan mendidik anak-anak, menjadi guru sekolah Minggu, dan menjadi pengajar Katekisasi. Katekisasi adalah sebuah pendidikan formal di gereja tingkat dewasa.
”Saya tidak merasa kesulitan membagi waktu antara mendongeng dengan aktivitas di gereja. Karena kesibukan ini tidak begitu padat dan saya sangat fleksibel untuk itu. Bahkan, teman-teman pelayan sangat mendukung untuk saya melakukan aktivitas seperti itu,” kata Eklin.

Tetap Mendongeng di Masa Pandemi

Totalitasnya dalam mendongeng betul-betul ditunjukkan Eklin. Di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang, dia tetap menjalankan aktivitas mendongengnya. Namun tentunya dalam suasana berbeda. Eklin tidak melakukannya secara berhadapan langsung di depan anak-anak. Tapi ia menyampaikan materi dongengnya lewat media virtual, dan siaran-siaran langsung melalui media sosial yang dipunyainya. Seperti Instagram maupun Facebook.
”Selama masa pandemi Covid-19, kita harus mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditentukan pemerintah. Di antaranya physical distancing dan social distancing. Untuk itu, dalam melakukan kegiatan mendongeng, saya tidak melakukan pertemuan secara langsung dengan anak-anak. Tapi saya mendongeng melalui media virtual dan siaran langsung melalui media sosial yang saya punya. Seperti waktu hari lebaran Idul Fitri, saya buat dongeng Damai di Idul Fitri. Begitu pula setiap hari Jumat selama bulan Ramadan, saya membuat dongeng Damai di Hari Jumat. Begitu pula saat jelang Natal nanti atau pada akhir pekan, saya membuat dongeng siaran langsung untuk anak-anak maupun teman-teman muda yang menyaksikan pada saat itu,” ujarnya.
Setelah ditahbiskan sebagai pendeta pada 19 Januari 2020 lalu, kesibukan Eklin bertambah. Selain kesibukan yang telah dilakoninya selama ini, Eklin juga kini mulai melayani lembaga-lembaga atau gereja-gereja tertentu untuk melakukan pelayanan kepada anak-anak, entah itu pelayanan ibadah maupun mendongeng untuk kegiatan lainnya.  Misal untuk Hari Anak Indonesia melalui media virtual, seperti zoom.
Eklin juga berharap kepada kaum muda di seluruh Indonesia untuk punya kepekaan dengan kondisi di sekitarnya. Jika melihat keadaan di sekitar yang penuh dengan tantangan dan masalah, maka perlu mencari jalan keluar. Atau perlu melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah di sekitar dengan kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan yang dimiliki.
”Ketika kita melihat keadaan di sekitar kita yang penuh dengan tantangan dan masalah, maka kita perlu mencari jalan keluar atau perlu melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah di sekitar kita. Sehingga atas setiap yang kita Lakukan akan menjadi berkat bagi banyak orang. Terutama yang ada di sekitar kita. Lalu lakukanlah kebaikan-kebaikan yang kita punyai itu. Lakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. Bukan hanya sekali atau dua kali. Tapi dilakukan secara terus menerus. Sebab sekalipun kebaikan yang dilakukan lewat kelebihan kita, lewat kekurangan kita, bisa saja dipandang sebelah mata atau tidak dipandang sama sekali. Tapi kalau kita lakukan secara terus menerus dan berulang-ulang, yakinlah bahwa kebaikan-kebaikan itu akan tetap membawa dampak kecil maupun dampak besar. Selama membawa dampak baik kepada semua orang di sekitar kita bahkan di Indonesia maupun dunia,” pesan Eklin menutup perbincangan. (amiruddin nur)

Data Pribadi:

Nama: Eklin Amtor de Fretes

TTL: Masohi, 19 November 1992

Status: Belum Menikah

Pendidikan: Lulusan Sarjana Teologi di Universitas Kristen Indonesia Maluku

Status dalam Keluarga: Anak keempat dari lima bersaudara
 
Pelayanan: 
1. Pendeta muda di Gereja Protestan Maluku
2. Pendongeng Nasional
3. Ventriloquist Indonesia
4. Trainer Nasional Living Values Education (Pendidikan Menghidupkan Nilai)

Komentar Anda





Comments
To Top
.