MAKASSAR, BKM — Jumlah guru besar di kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) bertambah dua orang pada Kamis (9/6) siang. Mereka berasal dari Fakultas Teknik.
Kini jumlah profesor di Kampus Merah mencapai 447 orang.
Kedua profesor yang menjalani pidato penerimaan atau pengukuhan adalah Prof. Dr-Eng. Andi Erwin Eka Putra,ST.,MT, dan Prof. Daeng Paroka,ST.,MT.,PhD.
Prof Erwin Eka Putra mengangkat judul pidato Pemanfaatan Teknologi Termal dalam Pengelolaan Limbah Sebagai Sumber Energi dan Material Fungsional.
Sedangkan Prof Daeng Paroka mengangkat judul Kriteria Stabilitas Kapal Ferry Ro-Ro di Indonesia.
Sidang penerimaan jabatan guru besar dilangsungkan di Ruang Senat Unhas lantai 2 Gedung Rektorat Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar.
Rapat Senat Akademik dengan Pidato Penerimaan Jabatan Profesor pada Fakultas Teknik Unhas dibuka oleh Ketua Senat Akademik Prof Dr Ir Latief Tolleng, MSc.
Ada sejumlah hal menarik dalam pidato penerimaan jabatan guru besar Daeng Paroka di hadapan anggota senat universitas.
Paroka membuka sambutannya dengan mengatakan kapal merupakan sarana angkutan air yang telah digunakan umat manusia sejak zaman Nabi Nuh AS.
“Salah satu transportasi yang sudah dipakai sejak jaman Nabi Nuh adalah kapal. Dan sejalan dengan perkembangan teknologi, kapal difungsikan sebagai jembatan berjalan,” kata Daeng Paroka.
Dalam penelitiannya khusus di kapal Feri Ro-Ro, Paroka menyebutkan jika di Indonesia terdapat 162 lintasan, yang terdiri 46 lintasan komersil dan 116 lintasan perintis.
Sejalan dengan itu, dalam operasional kapal Feri Ro-Ro diungkapkan banyak ditemukan kasus-kasus kecelakaan. Salah satu penyebab adalah stabilitas kapal tersebut.
Pada penelitiannya, Paroka mengungkapkan karakteristik kapal Feri Ro-Ro dan hubungan dengan stabilitas kapal tersebut. Terutama yang menyangkut salah satu parameter keselamatan kapal.
“Kapal Ferry Ro-Ro memiliki karakteristik yang unik. Karena mempunyai lebar kapal yang lebar dan sarat yang lebih pendek jika dibandingkan dengan kapal-kapal lain,” kata Ketua Himpunan Mahasiswa Perkapalan Tahun 1995 itu.
Mantan Ketua Prodi Teknik Perkapalan ini menambahkan, kapal Feri Ro-Ro didesain dengan lambung timbul yang relatif kecil dibandingkan dengan tipe kapal-lain.
“Rasio antara lebar dan sarat kapal Feri Ro-ro Indonesia bervariasi mulai dari 2,5-8,5 meter, di mana 70 persen kapal itu memiliki rasio lebar dan sarat lebih besar 3,5 m,” lanjutnya.
Karakteristik geometri tersebut erat kaitannya dengan performa operasi kapal Feri Ro-Ro. Dari aspek stabilitas, rasio lebar dan sarat yang besar akan menghasilkan tinggi metacentra (GM) yang besar.
Sedangkan jarak titik berat kapal terhadap dasar (KG) juga relatif besar dibandingkan tipe kapal-kapal lainnya. Tapi kapal Feri Ro-Ro memiliki lambung timbul yang rendah.
Karena itu akan berdampak pada air laut yang mudah masuk ke dalam geladak kapal, yakni geladak kendaraan.
“Nah, pada saat kapal beroperasi dalam cuaca buruk, khususnya untuk kapal Feri Ro-Ro dengan geladak terbuka, tentu sangat riskan,” ujar Wakil Dekan 3 Bidang Kemahasiswaan Fakultas Teknik Unhas periode 2014-2018 itu.
Terkait stabilitas yang berhubungan pada faktor keselamatan kapal, keadaan itu makin berpengaruh saat kapal mengalami faktor lain seperti kebakaran, tabrakan, cuaca buruk, serta kesalahan manusia atau human error.
“Untuk itu, metode alternatif dalam mengevaluasi stabilitas kapal Feri Ro-Ro dengan karakteristik geometri yang berbeda dari standar sesuai karakteristik stabilitas menurut IMO perlu dilakukan,” urainya.
Daeng Paroka dalam kesimpulannya menyebutkan, berdasar perbandingan tersebut, kriteria stabilitas yang digunakan selama ini terlalu tinggi.
Sehingga kapal Feri Ro-Ro, khususnya dengan tipe geladak terbuka, kesulitan memenuhi kriteria yang ditetapkan IMO tersebut.
“Pengembangan kriteria stabilitas kapal Ferry Ro-Ro harus terus dilakukan sebagai jawaban perkembangan teknologi kekinian,” jelas anggota Jepang Society of Naval Architecture dan Pengurus Alumni dari Jepang (Persada) Sulsel ini.
Tanggapan Dewan Profesor
Pada kesempatan tersebut, Ketua Dewan Profesor Universitas Hasanuddin Prof Mursalim memberikan tanggapan atas pidato pengukuhan kedua guru besar baru.
“Untuk Prof Erwin, penelitian terkait Pemanfaatan Teknologi Termal dalam Pengelolaan Limbah Sebagai Sumber Energi dan Material Fungsional sangat dibutuhkan di kota ini,” ujarnya.
Diketahui jika Kota Makassar setiap harinya menghasilkan sampah hingga 900 ton per hari dan 70 persen adalah limbah organik yang bisa dimanfaatkan sebagai teknologi termal.
Sedangkan untuk Prof Paroka, tanggapan Prof Mursalim adalah tentang karakteristik geometri kapal Feri Ro-Ro dari IMO dan di Indonesia tentunya butuh koreksi.
“Karena pada dasarnya periode gelombang dan karakteristik perairan Indonesia yang lebih rendah, tak bisa seutuhnya memenuhi syarat IMO.
Belum lagi jika disesuaikan dengan kondisi pelabuhan-pelabuhan yang beragam. Belum lagi di Indonesia juga ditemukan kapal-kapal kayu tradisional yang punya karakteristik sendiri,” ujarnya.
Selanjutnya, kedua guru besar ditetapkan dengan nomor keanggotaan 446 untuk Prof Erwin dan nomor 447 untuk Prof Paroka.
Rektor Unhas Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa MSc dalam pidato penerimaan, mengucap syukur karena makin banyak profesor Unhas.
“Alhamdulillah kita tetap menjadi kampus dengan jumlah profesor terbanyak di Indonesia. Ini menunjukkan kita di Unhas sangat produktif. Tapi tentunya tidak sekadar produktif menelorkan profesor. Kita akan imbangi dengan karya-karya yang juga semakin melimpah,” terangnya.
Pada momen itu, Prof Jamaluddin juga mengumumkan tentang keputusan rektor baru, di mana kampus akan menyiapkan dana khusus untuk profesor baru.
“Sejalan dengan itu, kita berharap semakin banyak guru besar lahir dan bisa mengikuti pengukuhan. Karena setiap guru besar akan dapat dana khusus untuk pengembangan penelitian.
Namanya penelitian penugasan. Pihak universitas akan menyiapkan anggaran minimal sebesar Rp50 juta,” ujarnya.
Menanggapi gelar profesor yang diterima Daeng Paroka, mewakili rekan sejawat Angkatan 1991, Rusnaedi Rusi,ST.,MT, mengaku bangga atas pencapaian tersebut.
“Mewakili angkatan 1991, karena kebetulan dua profesor ini angkatan 1991, kami mengucap selamat. Dan khusus Prof Paroka, semoga bisa secepatnya terbentuk S3 Teknik Perkapalan di Unhas,” harapnya.
Komentar senada datang dari Sudarman,ST.,MT, alumni Perkapalan Unhas yang kini menjadi staf ahli DPR-MPR RI.
“Selamat untuk kanda Prof Paroka atas pencapaian tertinggi dalam dunia akademik. Semoga bisa menerapkan ilmunya untuk kemaslahatan umar, utamanya di bidang keselamatan kapal,” pungkasnya. (*/rus)

