GOWA, BKM — Bupati Gowa, Ichsan Yasin Limpo resmi menghapus mata pelajaran (mapel) membaca menulis dan menghitung (calistung). Untuk mengganti calistung, Ichsan melounching mapel Imtaq (iman dan taqwa) Indonesia yang akan diterapkan untuk siswa kelas 1 dan 2, Sekolah Dasar (SD)
Peluncuran mapel baru ini digelar, dihadiri delapan orang akademisi berstatus professor masing-masing, Prof Abd Hamid (UPI Bandung), Prof Bambang Supeno (Kemendiknas RI), Prof Aris Munandar (Rektor UNM), Prof Jufri (pakar Psikolog Anak UNM), Prof Dhiene (UI Jakarta), Prof Yuli, Prof Merissa (Unpad Padjajaran), Dr Marli (Psikolog Anak). Turut disaksikan ketua DPRD Gowa, Ansar Zaenal Bate, Wabup Gowa, Abbas Alauddin, Kadikorda Gowa, Idris Faisal Kadir serta delapan kepala sekolah perwakilan percontohan mapel Imtaq, Senin (10/8) pukul 14.00 Wita.
Dalam kesempatan itu, Ichsan Yasin Limpo menjelaskan dasar, dampak dan manfaat dari mapel Imtaq yang lebih dominan pada metode bermain anak sambil mengetahui dan mengenal budaya daerah sebagai orang Gowa dan Bugis.
“Dengan bermain dengan mengenal angka dan huruf itu adalah bagian dari calistung juga. Tapi di kelas dasar calistung dihilangkan, namun tidak dihapus total. Calistung ini baru dipelajari murid SD pada kelas 3 hingga 6. Dan kesiapan memberlakukan mapel Imtaq ini, para professor dan tim pakar yang akan menyusun metode materi bermain yang akan diberlakukan nanti,” terangnya.
Sebelum mapel baru diberlakukan kepada 550 SD yang ada di Gowa. Mapel Imtaq Indonesia ini akan diawali pilot project di 50 SD. Ichsan menjelaskan, referensi delapan sekolah adalah perwakilan dari delapan sekolah yang dianggap sudah baik dari sisi kualitas dan jumlah gurunya. Mata pelajaran Imtaq ini akan dibekali buku panduan dan juga diikutkan workshop.
Dimintai tanggapan soal mapel baru ini, Prof Jufri selaku pakar psikolog anak UNM mengkau siap mensupport program Imtaq Indonesia yang diluncurkan bupati.
Menurutnya, hancurnya moralitas anak adalah awal hancurnya sebuah masa peradaban. Karena itu, diperlukan penguatan karakter pada anak didik usia dini, bukan dengan memberikan pembelajaran yang tidak mereka sukai. “Program ini dari Gowa untuk Indonesia dengan tujuan penyelamatan generasi,” jelas Prof Jufri.
Sementara Prof Abd Hamid, pakar pendidikan dari UPI Bandung mengatakan, pembelajaran Imtaq untuk kelas 1 dan 2 ini masih bersesuaian dengan pendidikan dasar. Menurutnya, ketika anak-anak bermain maka anak-anak tetap menggunakan simbol bermain seperti angka dan lainnya. Ini akan memberikan dampak daya ingat yang kuat bagi anak.
“Anak tidak akan terbelenggu dalam satu jawaban yang benar tapi akan kreatif mendapatkan jawaban yang sama benarnya. Biarkan anak bermain dengan lumpur dan lainnya sehingga akan lahir kreatifitas anak. Jika hanya menggunakan komputer maka anak hanya mengenal satu tombol saja,” terang Prof Abd Hamid.
Kesalahan dalam mengajari anak kita kata Prof Abd Hamid, karena dalam matematika anak kita hanya diajari mendapatkan satu jawaban benar yakni hanya pada 5+5=10. Padahal otak anak bisa dikembangkan bahwa 1+9 bisa juga 10, 8+2 juga bisa dapat 10 dan lainnya.
Karena itu dengan cara bermain anak-anak kita jauh lebih bisa kreatif mempergunakan daya pikirnya sehingga lebih terbuka lagi. Ditempat yang sama, Prof Dhiene menambahkan, semakin anak senang maka anak semakin berseangat bergairah belajar. Yang sangat kuat adalah karakter. Kalau karakter anak itu didasari empaty, daya dorong dan lainnya maka anak itu akan terbentuk dan memiliki kemampuan untuk belajar sendiri.
Pengetahuan itu, lanjutnya, berkembang dan yang perlu dikembangkan adalah kemampuan menganalisa yang harus dimiliki seorang anak. Kita harus mengajarkan anak untuk suka belajar bukan mengajarkan anak dengan nata pelajaran yang belum harus dipelajarinya. Misalnya matematika. Padahal matematika itu selama ini diajarkan sangat salah kaprah.
“Dalam Imtaq itu, diutamakan komunikasi antara murid dengan guru. Anak-anak jangan dipaksa membaca apalagi pada usia belum siap. Contoh mahasiswa saat ini saja kalau disuruh mebganalisa satu buku mereka tidak bisa mereka tidak mengerti kenapa? Karena mereka tidak siap dari awal,” katanya. (sar-ril/c)
Mapel Imtaq Indonesia Dilounching
×

