MAROS,BKM — Warga Desa Aletengae, Bantimurung, Kabupaten Maros mengeluhkan daya listrik yang hanya 150 volt dari 220 volt seharusnya. Warga mengaku membayar sesuai daya listrik normal, bahkan sejak tahun 2008.
Akibat rendahnya voltase listrik di desa ini, peralatan elektronik milik warga banyak yang rusak. Lampu 20 watt-pun hanya menyala redup. “Kami sudah beberapa kali sampaikan ke PLN, baik lisan maupun tulisan, tapi tidak ada respon,” keluh tokoh masyarakat setempat, H Daud.
“Padahal kami membayar sama dengan tagihan pelanggan yang dayanya normal. Sebelumnya kami maklum, tapi sejak 2008 makin parah. Bahkan sebulan terakhir, peralatan elektronik dirumah lebih banyak mati,” lanjutnya.
Setiap malam, warga di desa ini lebih banyak menggunakan lilin. Bahkan cahaya lilin justru lebih terang dari lampu listrik. Warga juga memilih tidak menyalakan peralatan elektronik mereka lantaran trauma rusak.
Dikonfirmasi terkait keluhan warga, Supervisor Teknik PLN Maros, Ernes membenarkan pasokan listrik di Desa Aletengae dibawah 220 volt. “Daya normal 220 volt, tapi disana hanya 150 volt, jarak travo jauh dan desa itu lokasi terakhir adanya sambungan listrik,” kilahnya.
Laporan warga, lanjut Ernes sudah beberapa kali masuk, namun pihaknya terkendala tiang untuk menambah daya trafo. Hal itu butuh persetujuan kantor PLN Sulselbar. “Kami sudah merencanakan penambahan daya, tapi memang kendalanya harus melibatkan banyak pihak, jadi bukan hanya tanggungjawab kami saja,” tutupnya. (ari-ril/c)
Warga Aletengae Krisis Listrik
×

