Jemarinya dengan lincah meracik kopi sesuai pesanan pembeli. Tidak membutuhkan waktu lama, segelas kopi dengan aroma menggoda tersaji di atas meja seorang pelanggan di Kopi Ujung Jalan Pasar Ikan, Makassar, sore, kemarin.
Laporan: Rahma Amri
Minuman kopi itu dibuat dari kopi sangrai asli tanpa tambahan apapun. Kopi itu dimasukkan dalam mesin penggilingan kopi. Setelah halus, ditimbang kemudian dimasukkan dalam mesin pembuat kopi. Tidak lama, cairan kopi kental bercampur susu atau krimer, masih dengan asap mengepul, keluar dari mesin itu. Jadilah tiga gelas espresso dibuat dengan cekatan hanya dalam hitungan menit.
Kopi beraroma khas itu adalah racikan John Chendra. Lelaki berkacamata ini bukan peracik kopi biasa. Ia menjadi peracik melalui proses pendidikan formal dan informal.
Lantaran sudah terpikat dengan ilmu meracik kopi, ijazah Sarjana Komputernya ia simpan. Ia pun memilih berbisnis minuman yang digilai banyak orang ini.
Dilengkapi mesin penggilingan kopi, mesin pembuat kopi, timer, hingga timbangan elektronik yang bisa disinkronkan dengan komputer, John Chendra pun menggarap bisnis minuman kopi beberapa tahun silam.
Berbeda dengan peracik atau pembuat kopi kebanyakan di warung kopi (warkop) atau kafe yang banyak tersebar di Kota Makassar, John tidak sekadar meracik kopi secara manual dan berdasarkan prosesi biasa. Namun dia punya keahlian dan pengetahuan secara detail soal kopi. Bahkan, lelaki kelahiran Makassar, 5 Agustus 1980 itu sekolah ke Jakarta untuk belajar ‘ilmu kopi’. Bukan hanya di satu tempat melainkan di beberapa tempat.
Semua berawal dari bisnis keluarga turun temurun. Di Makassar, Kopi Ujung cukup terkenal. Namun, sebelum merintis usaha rumah kopi kecil-kecilan, Kopi Ujung hanya sebatas memproduksi kopi bubuk yang bisa dijadikan buah tangan atau ole-ole Makassar, atau untuk konsumsi masyarakat.
Memiliki pengetahuan mendasar terkait jenis-jenis kopi, rasa, asal usul, bapak tiga anak ini tak ingin berhenti disitu saja. Dia terus meng-up grade pengetahuannya soal kopi.
“Saya banyak belajar kualitas kopi di Jakarta,” kata Jhon kepada BKM, Kamis (10/9) sambil melayani pembeli yang datang silih berganti.
Hanya orang-orang tertentu yang punya keahlian seputar kopi. Selain cukup rumit, belajar soal minuman eksotis yang satu ini, harus mengandalkan beberapa panca indera seperti indera perasa, penciuman, kejelian dan ketajaman otak, serta keahlian meracik. Tak sia-sia lelaki bergelar Sarjana Komputer ini berburu ilmu tentang kopi hingga ke ibukota dan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain.
Saat ini, dia termasuk salah satu orang dengan keahlian cukup langka di Indonesia. (rhm/b)

