pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Kekasih Direhabilitasi, Aku Masuk Bui 15 Tahun

Orang tuaku semakin semakin kecewa dengan pergaulanku yang kian bebas. Jika pulang ke rumah, aku pasti kena marah dan damprat karena tidak pernah mau mendengar nasehat mereka. Terakhir kali, seisi rumah tidak ada yang mau berbicara denganku.

Sebenarnya, dari lubuk hati yang paling dalam, aku menyadari banyak dosa yang telah kuperbuat. Namun, aku seolah tak mampu lepas dari belenggu kenikmatan dunia. Apalagi, Abi mulai memperkenalkanku dengan barang haram narkoba. Awalnya, karena coba-coba dan tidak ingin mengecewakan Abi yang menawarkanku barang tersebut, aku mulai mengonsumsi.
Namun, lama kelamaan kebiasaan itu terasa menjadi candu. Sehari tidak menenggak barang haram itu, aku serasa akan jadi gila. Bukan hanya ekstasi, sabu-sabu, heroin hingga putaw. Bersama Abi dan teman-temannya, kami kerap pesta narkoba dan seks. Jarum suntik yang sama sekali tidak steril kami gunakan berganti-ganti. Keluargaku semakin menjauh. Aku sudah diusir dari rumah karena tidak bisa merubah kelakuanku. Akupun dikeluarkan dari sekolah. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan konsumsi narkoba, akupun jadi pengedar. Lumayan, kerjanya cukup enteng namun uang yang diperoleh cukup memuaskan.
Suatu hari, Abi overdosis dan sakaw karena tidak mendapat narkoba dosis tinggi. Diapun dibawa orang tuanya ke pantai rehabilitasi. Akibatnya, aku tidak bisa berhubungan lagi dengannya. Tidak ada akses atau celah untuk bisa ketemu dengan Abi. Orang tuanya pun dengan ketat mengawasi Abi. Aku memutuskan untuk jalan sendiri. Yang jadi persoalan, ternyata aku mengandung anak Abi. Aku memutuskan untuk tidak menggugurkan kandunganku. Biarlah ada kenang-kenangan yang ditinggalkan Abi.
Namun sayang, di usia kandunganku lima bulan, saat sedang bertugas sebagai kurir narkoba, aku ditangkap polisi yang sedang melakukan operasi. Karena barang bukti narkoba yang ada padaku cukup banyak, akupun dijatuhi hukuman yang cukup berat. Tidak tanggung-tanggung, setelah melewati proses pengadilan yang lama dan panjang, aku divonis 15 tahun penjara. Selama di hotel prodeo, tak seorangpun keluarga yang datang menjenguk. Termasuk ketika saya melahirkan seorang anak perempuan. Penyesalan demi penyesalan mulai terkuak dari pikiranku. Ternyata apa yang saya lakukan selama ini tidak ada untungnya. Namun nasib sudah jadi bubur. Aku harus menerima segala akibat dari segala perbuatanku. Di dalam penjara, aku perlahan-lahan mulai kembali mengenal Tuhan. Walau terlambat, namun lebih baik dari tidak berubah. Aku ingin menata hidupku kembali. (rhm/cha/b)



×


Kekasih Direhabilitasi, Aku Masuk Bui 15 Tahun

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar