BULUKUMBA, BKM — Jembatan darurat yang menghubungkan Kampung Manyampa dengan Luppung, Kecamatan UjungloE, sejak puluhan tahun silam belum pernah disentuh proyek pemerintah. Padahal lokasinya tidak jauh dari pusat kota Bulukumba. Untungnya, warga setempat berinisiatif membangun jembatan darurat yang terbuat dari bambu.
Aciking, aktivis PMII Bulukumba mengatakan, kebaradaan jembatan permanen bagi warga sangat didambakan. Apalagi setiap hari jembatan darurat itu digunakan warga setempat yang kebanyakan bekerja sebagai pembuat gula aren.
“Sebenarnya warga setempat setiap tahun mengajukan permohonan kepada pemerintah kabupaten agar dibuatkan jembatan yang permanen. Namun hingga memasuki akhir triwulan ketiga tahun ini, belum ada tanda-tanda kalau akan dibangun jembatan yang permanen,’’ ujarnya belum lama ini.
Hal yang sama dilontarkan Afdal. Dia mengaku pernah melintas di jembatan itu beberapa waktu lalu untuk mencari gula merah. Saat melintas di atas titian bambu itu, dia berpapasan dengan seorang ibu penjual gula merah dan melihat gula merah yang dibawanya terjatuh ke sungai karena jembatannya licin.
“Pemerintah Kabupaten Bulukumba sudah seharunya lebih memperhatikan pelosok desa, agar masyarakat bisa menikmati hasil pembangunan. Warga disana membutuhkan jembatan untuk dijasikan sarana penyeberangan,” terangnya.
Menyikapi keluhan warga, anggota DPRD Bulukumba Fakhidin HDK langsung meninjau kondisi jembatan tersebut. Menurut legislator PKB ini, jembatan darurat tersaebut memang wajar untuk dipermanenkan. Apalagi jembatan itu setiap hari dilalui warga yang hendak ke pasar menjual gula merahnya.
“Pemkab perlu memperhatikan dan membangun jembatan permanen. Kami di DPRD siap mendukung. Saya kira anggarannya tidak terlalu besar. Apalagi sungainya tidak terlalu lebar, ’’ katanya usai meninjau lokasi jembatan.
Fakhidin sendiri berasal dari Dapil Ujungbulu-Ujungloe dan Bontobahari. Jembatan permanen yang sangat dibutuhkan masyarakat itu masuk wilayah Kecamatan UjungloE. (edy/rus/c)
Warga Manyampa Butuh Jembatan Permanen
×

