JENEPONTO, BKM — Proyek Sarana Pelayanan Air Minum (SPAM) di Kampung Kapita, Desa Kapita, Kecamatan Bangkala dinilai salah perencanaan, karena dibangun di atas sungai yang tidak produktif menghasilkan air baku.
Proyek bantuan Kementerian Pekerjaan Umum dan Peruamahaan Rakyat (KPUPR) tahun 2015 dan menelan anggaran sebesar Rp9,6 miliar dikerjakan PT Jasuka Bangun Pratama, Bandung Jawa Barat.
Proyek ini mulai dibangun pada 27 Mei 2015 dan ditargetkan rampung hingga 27 Maret 2016 mendatang.
Ketua LSM Pemerhati Air Bersih (PAB) Cabang Jeneponto, Suryaman yang ditemui di Kampung Kapita, Desa Kapita, Kecamatan Bangkala, Rabu (11/11) mengatakan, penentuan titik pembangunan SPAM sedianya melalui kajian yang baik. Salah satu indikatornya, yakni menempatkan proyek SPAM pada sumber air baku yang berlimpah.
“Kita bisa bilang kalau proyek ini tidak melalui kajian yang baik. Kalau ditempatkan di sungai yang memang dasarnya selalu kering, maka SPAM setiap tahunnya tidak bisa difungsikan. Inikan mubazir. Harusnya proyek ini dibangun diwilayah yang memiliki sumber air baku berlimpah,” tegasnya.
Adapun salah satu wilayah sumber air baku yang melimpah, lanjut Suryaman seperti di Desa Marayoka, Kecamatan Bangkala.
“Harusnya SPAM itu dibangun di Desa Marayoka, bukan di Desa Kapita. Perlu dipertanyakan alasannya membangun disana, karena setiap kemarau, air baku sungai di desa itu selalu kering,” katanya.
Secara teknis, SPAM, sedianya memproduksi 20 liter air perdetik, dengan kapasitas pipa berdiamter besar. Sementara sumber air baku di sungai tersebut tidak memadai. Untuk itu, dia berharap, pembangunan SPAM di beberapa wilayah Jeneponto kedepan bisa melalui kajian yang mendalam.
“Kedepan masih ada proyek yang sama di empat kecamatan, dengan nilai Rp26 miliar. Semoga proyek SPAM ini bisa lebih baik perencanaannya,” harapnya. jelas Suryaman
Dikonfirmasi terpisah, kontraktor pelaksana dari PT Jasuka Bangun Pratama, Dandi, mengakui adanya kesalahan perencanaan dalam proyek SPAM di Desa Kapita.
“Memang konsultan perencananya yang salah, kenapa SPAM dibangun di atas sungai yang tidak ada airnya. Kalau musim kemarau seperti ini, otomatis SPAM tidak akan berproduksi,” ungkap Dandi
Dandi juga mengaku kalau pihaknya baru menghadapi kondisi seperti ini. Menurutnya, dari puluhan SPAM yang dioperasikan pihaknya, baru SPAM di Desa Kapita yang tidak bisa berfungsi karena sumber air baku mengering.
“Kami selaku kontraktor bekerja sesuai kontrak. Kami barumenghadapi kondisi seperti ini, bahwa bahan baku air SPAM tidak ada sama sekali. Puluhan SPAM yang kami operasikan di seluruh Indonesia berfungsi dengan baik, karena memang titik pembangunannya di atas sumber air yang baik,” jelas Dandi.
Sementara, direktur PDAM Jeneponto, Amri Karaeng Liwang mengaku tidak tahu dengan kondisi SPAM di Desa Kapita. Amri menjelaskan, bahwa proyek ini belum tuntas dikerjakan. Namun begitu pihak berjanji akan melakukan evaluasi sebelum diserahterimakan ke Pemkab nantinya.
“Soal itu saya belum tahu. Nanti kita lihat saat penyerahan hasil proyek. Sejauh ini kami belum bisa menilai, karena proyeknya juga masih belum rampung,” tutup Amri. (krk-ril/b)
Proyek SPAM Salah Perencanaan
×

