GOWA, BKM — Belum maksimalnya cakupan imunisasi serta masih adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) sejumlah penyakit mendorong Kementrian Kesehatan lebih fokus pada kegiatan advokasi dan sosialisasi imunisasi pentavalen.
Kegiatan yang berjalan dengan memanfaatkan dana dari GAVI serta sejumlah sumber dana lain yang tidak mengikat melibatkan Civil Society Organization (CSO) dalam advokasi dan sosialisasi imunisasi pentavalen yang telah berlangsung sejak tahun 2014.
Pada tahun 2015, kegiatan ini kembali dilanjutkan di 10 provinsi dan 31 kabupaten/kota termasuk diantaranya Kabupaten Gowa.
“Masalah kesehatan itu disebabkan oleh multisektor sehingga penanganannya juga harus multisektor. Imunisasi dianggap upaya terefektif untuk mencegah dan memutuskan mata rantai penularan penyakit berbahaya. Khusus di Sulsel kita libatkan Pimpinan Wilayah Muslimat NU untuk advokasi dan sosialisasi yang kemudian,” jelasnya.
Penjabarannya, lanjutnya, melalui PC (Pimpinan Cabang) Muslimat NU termasuk Gowa. Adapun tujuan program ini, kata dia, dengan beberapa alasan, diantaranya cakupan imunisasi belum optimal, masih adanya kasus KLB, seperti Dipteri atau Campak, serta mobilisasi penduduk yang cukup tinggi.
“Untuk wilayah Gowa, kita menganggap cakupan imunisasi belum maksimal. Sedangkan untuk Makassar karena mobilisasi penduduk yang cukup tinggi,” ungkapnya.
Muhani dari Pusat Promosi Kesehatan kementrian Kesehatan usai sosialisasi program di Kafe Mario Sungguminasa, Jumat (11/12).
Dalam kesempatan itu, Muhani mengatakan, PW Muslimat NU Sulsel diharapkan menindaklanjuti sosialisasi program ini hingga ke jajaran di bawahnya.
Muhani juga mengatakan selain PP Muslimat NU, CSO yang bekerjasama dengan Kemenkes juga melibatkan Perdhaki, PP Aisyiyah, PBNU, Yayasan Abdi Dharma Jagadhita (YADJ) dan PP Al Hidayah.
Dijelaskannya, imunisasi pentavalen merupakan kombinasi dari vaksin DPT, HB, dan Hib. DPT merupakan vaksin untuk mengurangi risiko penyakit difteri, pertusis (batuk 100 hari) dan tetanus. HB merupakan vaksin untuk mengurangi risiko penyakit Hepatitis B dan Hib dapat mengurangi risiko penyakit maningitis dan pneumonia.
“Untuk mensukseskan pelaksanaan introduksi vaksin pentavalen ini diperlukan dukungan semua pihak. Dan pelibatan CSO adalah wujud sinergi dan upaya pemerintah untuk memasyarakatkan imunisasi. Untuk wilayah Gowa, diharapkan pelibatan CSO, khususnya Muslimat NU Gowa, bisa menjadi solusi dari kendala imunisasi di Kabupaten Gowa,” urainya.
Pertemuan yang digelar Muslimat NU Gowa ini dihadiri Dinkes Kabupaten Gowa, PC Muslimat NU Gowa, PC Aisyiyah Gowa, PC Al Hidayah Gowa, Kwarda Pramuka Gowa, IDI Gowa, IBI Gowa, PC NU Gowa, Fatayat NU Gowa, PC LKNU Gowa dan Perdhaki Gowa serta media.
Dalam kesempatan itu, ikut dibentuk kepengurusan Forum Peduli Imunisasi Tingkat Kabupaten Gowa. Forum yang beranggotakan seluruh personil dari organisasi kemasyarakatan yang dilibatkan dan menempatkan bupati dan jajaran muspida sebagai pembina akan berperan secara aktif untuk mensosialisasikan imunisasi pentavalen tersebut. (sar-ril/c)
Imunisasi Pentavalen Gandeng Kader NU
×

