MAKASSAR, BKM — Di pengujung tahun ini, seluruh proyek dan program Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel digenjot penyelesaiannya.
Mulai dari infrastruktur hingga program yang bersentuhan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, secara umum, seluruh program di Sulsel ‘on the track’ alias berjalan sesuai jadwal. Penyerapan anggaran sudah mencapai 80 persen. Sisanya, 20 persen sisa tahap finalisasi, tinggal tunggu penyerapan administrasinya.
“Saya yakin hingga akhir tahun, bisa mencapai di atas 90 persen,” kata Syahrul optimis.
Kendati demikian, Syahrul menggarisbawahi sejumlah proyek yang berjalan cukup lamban alias tidak mampu mencapai target hingga akhir tahun. Khususnya yang dibiayai oleh APBN.
Menurut orang nomor satu di Sulsel itu, ada lima proyek infrastruktur yang berjalan lamban. Diantaranya, proyek jalan middle ring road, jembatan Sungai Tello, underpass, bypass Mamminasata, dan sisi kiri kanan tol Sutami.
Dia menyadari, secara umum memang terjadi perlambatan nasional karena banyak kebijakan nasional yang tertunda hingga lima bulan.
“Itu membuat semua program menjadi mundur,” ungkap Syahrul di Kantor Gubernur Sulsel, Kamis (17/12).
Dia mengaku sudah membicarakan persoalan itu agar ke depan bisa dipercepat proyeknya.
Malah, dia menegaskan, jika kontraktor yang mengerjakan proyek tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya, dia mengusulkan untuk diganti.
“Karena kalau main-main kontraktornya, kita ajak pengusaha lokal untuk selesaikan. Kontraknya ambil alih,” ungkapnya.
Untuk proyek underpass atau jalan di bawah tanah di simpang lima Mandai misalnya, kendati statusnya multiyears, tahun ini ditargetkan jalan samping sudah rampung tahun ini.
Namun sayang, hingga kini kontraktor masih melakukan penimbuhan kelas A. Progresnya baru sekira 12 persen.
Sementara proyek pelebaran jalan dan jembatan Tello yang juga ditargetkan rampung tahun ini, juga sangat sulit teralisasi. Sejumlah kendala membuat proyek itu tidak berjalan lancar. Di antaranya, pengeboran tiang terhambat oleh bekas kontruksi jembatan zaman dahulu. Juga karena ada pemindahan tiang listrik, pipa PDAM, dan kabel-kabel alat komunikasi lainnya.
Menurut Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Makassar-Takalar Satker Jalan Metropolitan BBPJN VI, Marlin Ramli, pogresnya saat ini 70 persen untuk jalan dan 40 persen untuk jembatan.
Bukan proyek yang didanai APBN saja yang tersendat-sendat. Sejumlah proyek yang dibiayai APBD juga lamban realisasinya.
Seperti jalan alternatif Perintis-Sutami. Proyek yang dimulai sejak 2014 tersebut seharusnya sudah rampung akhir tahun. Namun ternyata alokasi anggaran sebesar Rp10 miliar untuk jalan dan Rp8 miliar untuk jembatan belum cukup. Proyek ini masih butuh setidaknya Rp15 miliar.
Masih tersisa 600 meter jalan tanah yang belum dibeton. Kendati begitu, Haikal mengklaim jika progres proyek ini sudah mencapai angka 95 persen.
Sementara jalan tembus Asrama Haji ke Bandara Sultan Hasanuddin juga demikian.
Proyek yang diharapkan rampung akhir tahun ini sulit terealisasi. Progresnya pun baru 20 persen.
Begitu juga dengan akses tol ke Rumah Sakit Sayang Rakyat lagi-lagi sama. Proyek jalan baru sepanjang 900 meter lebih tersebut baru mencapai 40 persen. Itu pun sekadar target akhir tahun. Padahal, sesuai alokasi anggaran, proyek ini seharusnya rampung akhir tahun.
Menurut Kabid Pembangunan Dinas Bina Marga Sulsel, Haikal Hasan sesuai aturan, kondisi ini bukan kesalahan kontraktor. Melainkan, kesiapan lahan yang telat sehingga pekerjaan juga lambat dimulai. (rhm/war/b)
Syahrul Akui Masih ada Proyek Lamban
×

