SINRILIK merupakan salah satu kesenian tradisional yang lahir dan berkembang di tengah masyarakat Makassar. Karya sastra lisan ini masih punya peminat dan orang yang berusaha melestarikannya, meski sangat terbatas. Salah satunya Arif Rahman Daeng Rate, yang akrab disapa AR Dg Rate.
Laporan: Rahma Amri
TAK banyak anak muda yang punya ketertarikan melakoni dan menggeluti seni budaya tradisional seperti sinrilik. Itu karena sinrilik dianggap kampungan.
Tapi tidak demikian dengan Arif. Pria kelahiran Kajang, Kabupaten Bulukumba, 1 September 1990 ini ternyata jatuh cinta pada seni tradisional sinrilik.
Arif mengaku terpesona pada kekuatan yang disajikan, utamanya pada nada alat musik kesok-kesok dan tuturan atau narasi yang disampaikan oleh pasinrilik. Bagi banyak orang, karakter suara alat musik kesok-kesok bisa memengaruhi suasana hati, karena nadanya yang begitu menyayat hati.
”Suara alat musik gesek pada umumnya memang membawa kita pada alam meditasi jika dihayati dengan seksama,” kata Arif.
Kekuatan selanjutnya adalah pada narasi atau tuturan cerita. Hal mendasar pertama yang membuatnya tertarik pada sinrilik dikarenakan semakin jarang dirinya menyaksikan orang mementaskan seni bertutur ini.
Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Makassar ini mengisahkan, tahun 2009, saat kuliah di kampus yang mencetak tenaga pengajar ini, dirinya bersentuhan dengan banyak kegiatan seni dan sastra. Namun, ketertarikannya seakan terfokus pada sinrilik.
“Kesenian Makassar yang membuat saya jatuh cinta adalah sinrilik. Saya kemudian mencari siapa pelakonnya,” tuturnya.
Pada tahun 2010, dirinya mendengar kabar meninggalnya Sirajuddin Daeng Bantang, pasinrilik senior yang dimiliki Makassar. Informasi itu membuatnya sedikit frustrasi, karena hanya almarhum yang diketahuinya sebagai passinrilik.
“Sedikit frustrasi, karena cuma beliau yang saya tahu sebagai pasinrilik. Saya sebenarnya berniat menimba ilmu dari beliau,” akunya.
Namun Arif tidak patah semangat. Pencariannya tetap dilanjutkan, dan akhirnya mendapatkan informasi tentang Syarifuddin Daeng Tutu, adik almarhun Sirajuddin Daeng Bantang yang juga seorang pasinrilik. Kepada Sang Maestro inilah Arif belajar. Diapun mulai menekuni sinrilik di awal 2011.
Selama bergelut dengan sinrilik, lelaki yang pernah dinobatkan sebagai mahasiswa teladan UNM itu telah mementaskan sinrilik
di beberapa kota di Indonesia. Diantaranya Jakarta, Surabaya, Bandung, Solo dan Yogyakarta.
Malah, pada Oktober 2015 lalu, Arif berkesempatan menjadi duta pemuda Sulsel mewakili Indonesia dalam program pertukaran Pemuda Indonesia-Malaysia yang bertema literasi media dan budaya. Di Malaysia, dia memperkenalkan seni budaya tradisional tersebut.
Kendati sudah piawai memainkan sinrilik, Arif tidak pernah berhenti belajar. Malah, dia belajar di beberapa sanggar untuk mengetahui setiap sisi dari kesenian yang satu ini.
Dinukil dari Sinrilik Karya Sastra Unik dari Kota Daeng Makassar, Sinrilik sebagai cerita, tersusun secara puitis dan diceritakan atau dinyanyikan oleh ahlinya, yang disebut pasinrilik. Karya sastra ini dilagukan dan dapat diiringi alat musik kesok-kesok maupun tidak.
Berdasarkan isi dan cara melagukannya sinrilik terbagi atas dua macam, yaitu sinrilik pakesok-kesok dan sinrilik bosi rimurung.
Sinrilik pakesok-kesok adalah sinrilik yang dilagukan dengan iringan alat musik kesok-kesok (rebab). Isinya melukiskan tentang sejarah perjuangan dan kepahlawanan seorang tokoh. Bunyi alat musik gesek kesok-kesok yang mengiring pakesok-kesok/pasinrilik harus selaras dengan lagu dan isi serta suasana cerita yang dibawakan.
Di Sulawesi Selatan terdapat beberapa naskah yang berbentuk sinrilik. Naskah ada yang sudah dibukukan dan ada pula yang belum.
Adapun naskah sinrilik yang dapat diiringi dengan kesok-kesok antara lain Sinrilik Kappala’ Tallumbatua, Sinrilik I Makdik Daeng Ri Makka, Sinrilik I Manakku’ Caddi-caddi dan lain sebagaiya.
Sinrilik ini isinya mengisahkan tentang perjuangan dan kepahlawanan di sela percintaan sang tokoh yang ditampilkan dalam cerita itu. Jenis sastra ini sangat menarik apabila dikreasi menjadi sastra pertunjukan.
Sinrilik bosi timurung adalah sinrilik yang dilagukan tanpa diiringi alat musik kesok-kesok dan biasanya dilantunkan pada tempat yang sunyi dikala orang yang berada disekelilingnya sedang tidur nyenyak.
Sinrilik bosi timurung pada dasarnya berisi banyak hal. Seperti pujaan yang menggambarkan kecantikan seorang gadis dengan membandingkan keadaan sekelilingnya. Merindukan kekasih yang menggambarkan kerinduan seorang jejaka terhadap gadis yang dicintainya. Beriba hati yang menggambarkan seorang yang sial atas segala usahanya sehingga menjadi sengsara. Juga kesedihan yang menggambarkan kesedihan seseorang yang ditinggal oleh suaminya. (*/rus/b)

