Kiri, kiri, kanan, mundur lagi, Oke. Suara keras dan lantang tersebut datang dari tukang parkir, Supardi (39) tahun yang setiap harinya beraktifitas di halaman Klinik Medical Center, Jalan Ratulangi.
Bagi pengguna jalan yang setiap hari menyusuri Jalan Ratulangi, pasti tidak asing lagi mendengar suara khas milik Supardi. Hanya saja, bagi pengendara yang baru melewati jalan tersebut pasti kaget, karena suara pria tambung itu seperti orang yang sedang berkelahi dan bertengkar.
Dengan mengenakan baju kaos yang sudah lusuh. Ia berjalan dengan langkah pendek, sesekali bergegas menghampiri kendaraan sekitar.
Ia terlihat tidak pernah tenang, setiap saat menginstruksikan pengendara roda empat maupun roda dua untuk memarkir kendaraannya. Suara pria yang dikaruniai dua orang anak itu, mulai terdengar sejak pukul 08:30 Wita.
Sejak pukul 08:00 wita, Supardi atau akrab disapa Pardi sudah meninggalkan rumah yang ia kontrak di Jalan Bontoduri, Kecamatan Tamalate menuju Klinik Medical Center.
Berbekal sepeda motor keluaran tahun 90-an ini, ia menaruh harapan bisa mendapatkan rezeki yang banyak untuk membiayai kebutuhan hidup keluarganya maupun kebutuhan sekolah anaknya.
Dengan sumpritan yang sudah terlihat usang dan kotor itu ia lilitkan tali yang siap ditiup bila ada yang ingin memarkirkan kendaraan.
“Memang begini suaraku saya agak keras, memang kalau kita lama tinggal di kampung pasti besar-besar suara ta. Apalagi, jika kita tinggal di tengah sawah pasti pakai suara keras untuk memanggil orang. Beginimi suaraku kodong,” kata Pardi yang ditemui BKM, Rabu (13/1) siang.
Tak pernah ada kata malu dalam menjalankan pekerjaannya. Bagi Pardi, ini merupakan profesi yang mulia.“Daripada saya mencopet atau mencuri, lebih baik jadi tukang parkir. Saya malunya hanya kepada Allah,” ungkapnya.
Supardi adalah sosok bapak yang tegar. Menjadi tukang parkir bukanlah perkara mudah. Selain harus membantu memarkirkan, terkadang ia harus mengangkat motor yang cukup berat.“Apalagi kalau ada barang yang hilang, pasti saya yang tanggung,” kata dia.
Dia juga tidak keberatan jika ada pemilik kendaraan yang tidak membayar biaya parkir.”Saya lebih senang kalau ada orang jujur, kalau memang tidak mau bayar bilang terus terang. Sebab rezeki selalu datang bukan dari satu orang saja,” katanya. Sebelum berporfesi sebagai tukang parkir, ia sempat melakoni hidup menjadi tukang becak. Profesi tukang becak ia jalani selama 15 tahun. Karena merasa sudah tidak mampu lagi untuk mengayuh becak, ia memilih untuk menjadi tukang parkir. Pardi mengaku diizinkan menjadi jukir sejak awal tahun 2008 sampai saat ini ditahun 2016.
Untuk parkir senndiri, ia mengaku telah terdaftar di PD Parkir Kota Makassar dengan memberikan kacis, dan memiliki atribut berupa rompi dan I’d card dari PD Parkir Kota Makassar.(arf/b)

