pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Berawal dari ‘Paksaan’

TIDAK ada satu orangpun yang tahu tentang nasibnya ke depan. Semuanya ada di tangan Tuhan. Hal itu dialami Hera.
Ia tidak pernah membayangkan akan terkenal sebagai seorang penyanyi dangdut, dan berkeliling Indonesia berkat kepiawaiannya berolah vokal itu. Semuanya berawal dari ‘paksaan’ seorang temannya.
Sebenarnya, Hera memiliki bakat alami sebagai seorang penyanyi. Kemampuannya itulah yang awalnya selalu diasah dengan tampil dari panggung ke panggung. Ajang ini sekaligus menguji mentalnya untuk tampil di depan umum.
”Sejak awal saya memang bercita-cita menjadi seorang penyanyi dangdut. Tapi semua itu butuh proses dan waktu yang cukup panjang. Saya mengawalinya sebagai biduan organ tunggal (elekton),” tuturnya, Senin (25/1).
Diakui Hera, cukup banyak suka dan duka yang dihadapi untuk meraih apa yang didambakannya. Ia harus rela meninggalkan Bontang, Kalimantan Timur untuk kemudian mulai merintis karir di Makassar.
Sebenarnya, orang tua Hera asli Makassar. Namun sudah lama bermukim di Bontang. Mereka kembali ke Makassar saat dua saudara Hera melanjutkan pendidikan di kota ini.
Diceritakan Hera, saat masih berada di Bontang, ia aktif manggung. Ketika itu dia masih duduk di bangku SMP. Siang hari Hera bersekolah, dan tampik di panggung pada malam harinya. Hal itu dilakukan untuk membantu meringankan beban orang tua dan saudaranya.
”Orang tua saya tidak mau anak-anaknya putus sekolah. Saya kemudian membantu mereka dengan menjadi penyanyi elekton,” terangnya.
Hera akhirnya menginjakkan kaki di Makassar ketika kedua adiknya melanjutkan pendidikan di kota ini. Satu orang lulus di Universitas Negeri Makassar (UNM), dan satunya lagi diterima di SMK Penerbangan Makassar.
Cukup berat bagi Hera untuk meninggalkan Bontang. Sebab disana ia sudah memiliki banyak teman. Selain itu, hampir setiap hari ia mendapat job untuk manggung.
”Tapi karena kedua orang tua dan saudara-saudara saya pindah ke Makassar, terpaksa saya harus ikut juga,” jelasnya.
Tingga di Kota Daeng membuat Hera harus beradaptasi. Tidak berselang lama, ia mengenal seorang warga Makassar yang juga berprofesi sebagai penyanyi.
Dari perkenalan itulah Hera kemudian kembali menekuni profesinya sebagai penyanyi dangdut, hingga suatu waktu di tahun 2014 terbuka pendaftaran untuk audisi KDI. Awalnya dia enggan untuk mendaftarkan diri. Namun temannya mengambil formulir dan mendaftarkan Hera sebagai peserta audisi.
”Saya tidak tahu sama sekali informasi pendaftaran audisi KDI 2014 saat itu, karena saya tinggal di rumah terus. Maklum, saya baru tinggal di Makassar. Tiba-tiba teman saya datang membawa formulir dan memaksaku untuk ikut diaudisi. Orang tua juga mendukung. Saya kemudian ikut audisi dan lolos menjadi perwakilan Makassar,” ungkap Hera.
Dari ‘dipaksa’ mendaftar dan mendaftar restu orang tua, sedikit demi sedikit Hera kini menggapai impiannya untuk menjadi seorang penyanyi dangdut ternama. Berbagai daerah di Indonesia sudah ia kelilingi untuk manggung. Ia berharap, karir yang dirintisnya dari bawah bisa terus berkibar. Semoga. (ish/rus/c)



×


Berawal dari ‘Paksaan’

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar