MAKASSAR, BKM — Wakil Sekretaris Internal DPD PDIP Sulsel Nikolaus Beni (NB) berhasil meraih gelar Magister Ilmu Komunikasi setelah sukses mempertahankan tesisnya dengan judul Obrolan Warung Kopi Tentang Pesan Politik Media Televisi Pascapemilihan Legislatif di Kota Makassar didepan penguji yang dipimpin Dekan Fisip Unhas Prof Dr Andi Alimuddin Unde, M.Si
di Kampus Unhas, Jumat (25/1).
Para penguji terdiri dari Prof Dr Hafied Cangara, M.Sc, Dr H Ikbal Sultan, M.Si Dr Hasrullah, M.Si dan Dr Jeni Maria Fatima, M.Si.
Dalam penelitiannya Niko menjelaskan bahwa pemilih memiliki orientasi tinggi pada “policy-problem-solving” dan berorientasi rendah untuk faktor ideologi. Pemilih lebih mengutamakan kemampuan partai politik atau calon kontestan dalam program kerjanya. Menurut Nimmo (2004) saluran komunikasi adalah alat serta sarana yang memudahkan penyampaian pesan. Kembali kepada definisi manusia menurut pendapat Kenneth Burke (Bab III), saluran adalah ciptaan makhluk pemakai lambang untuk melancarkan saling tukar pesan.
”Marilah kita bersikap hati-hati agar konsepsi ini tidak menyesatkan. Saluran komunikasi memang temuan. Akan tetapi, saluran mencakup lebih dari ulat, sarana, dan mekanisme seperti mesin cetak, radio, telepon, atau komputer. Yang harus lebih diutamakan dari semua saluran yang ditemukan ialah manusia sendiri, saluran yang paling asasi bagi komunikasi manusia,” ujar Niko.
Niko mengungkapkan warung kopi dan media massa khususnya media televisi bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Keduanya saling membutuhkan. Istilahnya simbiosis mutualisme. Kehadiran media massa di warung kopi tidak hanya sebagai label atau style dari warkop yang bersangkutan.
Tapi lebih dari itu, media massa televisi sangat membantu para penikmat kopi untuk mengetahui situasi terkini baik dalam konteks peristiwa politik lokal terlebih lagi dalam skala politik nasional.
Maka tak heran jika di Makassar kita bisa melihat warkop yang telah menjadi tempat proses politik berlangsung. Setiap mendekati pemilu legislatif, pemilihan kepala daerah dan pasca pemilu legislatif suasana di warkop semakin ramai.
Terutama bagi partisan calon tertentu. Ini karena sekretariat parpol atau balon seperti ubahnya pindah di warung-warung kopi dan kafe.
Politik di Indonesia saat ini juga dipengaruhi oleh peran media massa. Maka tak heran jika saat ini media massa memainkan peran yang sangat penting dalam proses politik.
Hubungan antara media dan politk dapat dilihat sebagai suatu hal yang sangat menarik terutama ketergantungan antara sumber berita dengan pihak yang diberitakan. Pada dasarnya media massa dijadikan alat sebagai komunikasi politik.
Dari sana dapat tampak terlihat jelas pesan politik media televisi pada obrolan warung kopi pascapemilihan legislatif di Makassar.
Melalui media televisi peneliti menemukan bahwa komunikasi berupa penyampaian informasi, ide, emosi, keterampilan, dan lain-lain, melalui penggunaan simbol kata, gambar, angka, grafik, dansebagainya sebanyak 75 persen terjadi di warung kopi. Hal ini terbukti dengan tingginya intesitas warga yang berkunjung ke warung kopi dengan membahas persoalan pemilu legislatif.
Dari temuan tersebut menunjukan bahwa aktivitas politik di warung kopi tidak lagi hanya sekedar datang dan duduk menikmati secangkir kopi tapi lebih dari itu tujuan partai politik dalam memperkenalkan kadernya yang berhasil terpilih dan akan duduk di parlemen telah tercapai.
”Hanya saja tingkat kepuasan masyarakat terhadap Caleg yang terpilih apakah mampu menjadi wadah aspirasi dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat ternyata masih cukup rendah,” tandasnya. (ila)
Teliti Obrolan Warung Kopi, NB Raih Master
×

