ADHIS TESSA, siswi kelas XII SMA Negeri Unggulan 11 Pinrang yang mewakili Indonesia di ajang lomba karya tulis ilmiah tingkat internasional di Phoenix, Amerika Serikat, ternyata anak seorang petani. Namun, ayahnya telah berpulang ke rahmatullah pada 5 Juli 2014 silam.
Laporan: Gunawan Dwicahyo
SAAT penulis mengunjungi kediamannya usai salat Jumat (12/2) di Desa Labolong, Kecamatan Mattiro Sompe, sekitar 20 km dari Kota Pinrang, ibunda Adhis, Rahmatiah Pati tampak kaget. Namun setelah dijelaskan bahwa kedatangan BKM untuk wawancara tentang Adhis, wanita berhijab itupun mempersilakan masuk.
Sejak awal wawancara, Rahmatiah tak bisa menyembunyikan rasa sedih dan harunya. Bahkan sesekali air bening terlihat menetes di sudut matanya.
Suasana sedih dirasakan Rahmatiah saat menceritakan perjalanan hidup dalam membesarkan tiga anaknya. Terlebih ketika ayahanda Adhis Tessa berpulang pada 7 Ramadhan dua tahun lalu.
Saat itu, ayah Adhis bernama Ir Sangking menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar akibat penyakit yang dideritanya. Setelah tiga hari dirawat, Sangking akhirnya mengembuskan nafasnya yang terakhir di RS tersebut.
Ada pesan dari sang suami yang membuat Rahmatiah sangat terharu sebelum menutup mata untuk selama-lamanya. Pesan itu ditujukan kepada ketiga anaknya.
”Janganlah mengejar harta, Nak. Burulah ilmu,” begitu pesan yang disampaikan Sangking seperti ditirukan Rahmatiah. Air matapun berlinang di pipi sang ibunda.
Kepergian seorang kepala keluarga tentu membuat Rahmatiah Pati harus menjadi ibu sekaligus ayah bagi ketiga anaknya. Iapun harus berjuang untuk menghidupi keluarga kecilnya.
“Tuhan itu memang Maha Adil. Alhamdulilah, satu orang anak saya, kakaknya Adhis sudah menjadi PNS di Pasangkayu, Sulbar sehingga ada yang bisa membantu. Walaupun ada sepetak sawah yang ditinggalkan almarhum ayah Adhis, namun itu belum bisa mencukupi kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Sebuah rumah batu yang belum rampung pengerjaannya dan kini ditinggali Rahmatiah bersama anaknya, dibangun atas jerih payah suaminya setelah bersama selama 30 tahun.
Ia menceritakan kalau Adhis Tessa memang rajin belajar. Karena itu, sebagai ibu Rahmatiah terus berdoa dan berharap apa yang dicita-citakan Adhis bisa tercapai.
”Saya sangat berharap Adhis bisa mencapai cita-citanya dan bisa menghidupi keluarganya kelak. Saya selalu terus berdoa agar anak-anak bisa menjadi orang yang berbakti,” ujarnya. (*/rus/b)

