PAGI ITU, Jumat 12/2) hujan besar disertai angin, mengguyur sebagian wilayah Kota Makassar. Di sebuah dekker di belakang Mal Panakukang duduk seorang bocah (10) tahun sambil memegang payung.
Merah dan corak bunga-bunga warna payung bocah itu. Tampaknya, warnanya sudah mulai memudar karena seringkali dibasahi dan terkena sinar matahari.
Sambil memeluk payung, mata bocah bernama Jamaluddin mulai melirik kanan dan ke kiri, berharap ada orang yang dapat menggunakan jasanya untuk mengojek payung.
Pemandangan kontras kehidupan Kota Makassar yang begitu gemerlap, ternyata masih juga menyisihkan wajah-wajah bocah kecil yang hidup pas-pasan.
Ketika sebagian masyarakat kota menjadikan hujan sebagai tempat untuk bersantai di dalam rumah pada akhir pekan, bagi Olleng panggilan akrab Jamaluddin, hujan adalah rezeki tersendiri dari tuhan untuk umatnya.
Maka tidak heran jika tiap hujan mengguyur Kota Makassar, sejumlah Olleng-olleng yang lain dan berprofesi sebagai ojek payung berdiri di pekarangan mal hingga di jalan-jalan untuk mencari uang kecil.
Penulis sempat tergugah perjuangan Olleng untuk mencari uang. Hampir setengah jam penulis memperhatikan Olleng di Jalan Boulevard tersebut. Dengan menggunakan sehelai baju kaos oblong yang merupakan baju olahraganya di sekolah, Olleng mulai meneriaki para pengunjung yang keluar dari mal menawarkan jasa ojek payung.”Payung kak,.. payung om,. supaya tidak basahki,” teriak Olleng.
Di lokasi itu, Olleng kadang membantu adiknya yang juga pengojek payung. Dia rela memberikan rezekinya ke adiknya untuk mengojek pengunjung.
Tidak jarang pula, anak-anak pengojek payung saling berebut pengunjung. Meski berebut pengunjung, mereka tetap bersama dan tidak menampakkan kecemburuannya.
Bahkan anak-anak pengojek payung saling memberi kesempatan kepada rekannya yang belum diambil jasanya oleh pengunjung mal.
Bocah yang tinggal di Jalan Adhyaksa Baru itu kepada penulis mengaku, dia membeli payung dari hasil tabungannya saat menjadi pemulung.
Untuk tarif menyewa jasa ojek payung, Olleng tidak mematok harga tinggi, dia hanya menawarkan harga yang cukup bersahabat mulai dari Rp.1.000 hingga Rp2.000 untuk sekali lari atau mengantar para pengunjung yang ingin naik ke dalam mobil.
Ketika hujan datang di pagi hari, Olleng mengaku sangat bersyukur. Pasalnya, hujan di pagi hari adalah harapan adanya rezeki nomplok. Sehingga sejak pukul 10:00 wita, hujan di Kota Makassar khususnya di wilayah Panakkukang masih turun, Olleng bersama rekan rekannya bergegas berkumpul di pekarangan Mal.
Setelah hujan redah, Olleng tidak langsung pulang kerumahnya untuk beristirahat dan menyantap makanan. Olleng yang hanya dapat mengeyampendidikan hingga bangku kelas II sekolah dasar itu, melanjutkan beraktifitas mencari pundi-pundi rupiah dengan mengumpulkan botol atau gelas plastik di tempat sampah Mal Panakkukang.
Hal itu ia lakukan demi membantu biaya sehari-hari orang tuanya yang hanya sekadar untuk makan dan sebagian ia sisihkan untuk tabungan.
Sembari menghitung uang yang ia dapat dari ojek payung siang itu, Olleng sedikit bercerita sejak umur 8 tahun, ia putus sekolah. Padahal ia mengaku sangat mengingikan untuk bersekolah.
Tetapi apa boleh kata, ibunya yang hanya IRT dan bapaknya yang bekerja sebagai sopir angkot mengaku sudah tidak mampu lagi membiayai sekolahnya. Untuk makan sehari haripun Olleng mengaku harus menahan lapar ketika beras sudah tidak ada lagi di dalam rumahnya, apa lagi untuk membiayai sekolahnya.(arf/b)

