REZEKI dari Tuhan tidak jauh ke umatnya. Hanya saja, umatnya dituntut untuk berusaha dan berusaha mencari rezeki tersebut.
Laporan: ARIF AL QADRY
Hal itulah yang dipercaya Jamaluddin sehingga setiap pagi usai salat subuh, dia sudah berada di Mal Panakukang untuk mencari rezeki. Bukan hanya sebagai pengojek payung, tetapi pengumpul barang bekas untuk bisa dijual kembali.
Anak ke tiga dari empat bersaudara kepada penulis mengaku, dia kadang mendapatkan bonus atau tip dari pengunjung yang menyewa jasanya dengan mengantarkan hingga ke parkiran.
“Rezeki itu tidak jauh kemana kak, saya kadang dapat tip dari pengunjung. Kebanyakan yang beri saya tip berupa uang adalah pengunjung perempuan. Mungkin mereka kasihan melihat saya. Tip yang diberikan mulai Rp10 ribu sampai Rp20 ribu, itupun sudah masuk uang jasa ojek payung,” katanya.
Bahkan, kalau harinya baik, jelasnya, dia biasa bawa pulang uang Rp50 ribu sampai Rp80 ribu perhari, ujar Olleng sapaan akrabnya.
Sambil duduk bersama penulis menikmati minuman gelas, Olleng mengaku masih ingin bersekolah. Dia bahkan iri dan sedih ketika anak seumuran dirinya pulang dari sekolah menggunakan seragam putih merah yang dulu dia gunakan.
Padahal menurutnya, sewaktu sekolah di salah satu SD di Kecamatan Manggala, dia mendapatkan ranking di kelas. Tapi ternyata rangkin tidak mampu membawanya untuk terus bersekolah.
“Saya masih menginginkan bersekolah. Tapi bagaimana bisa, beli baju seragam dan buku saja sulit. Saya sudah lama menjadi payabo (pencari barang bekas) sejak putus sekolah. Kalau jadi ojek payung hanya musiman saja,” ucapnya.
Di lokasi itu, Olleng juga kadang membantu adiknya yang juga pengojek payung. Dia rela memberikan rezekinya ke adiknya untuk mengojek pengunjung.
Tidak jarang pula, anak-anak pengojek payung saling berebut pengunjung. Meski berebut pengunjung, mereka tetap bersama dan tidak menampakkan kecemburuannya.
Bahkan anak-anak pengojek payung saling memberi kesempatan kepada rekannya yang belum diambil jasanya oleh pengunjung mal.
Bocah yang tinggal di Jalan Adhyaksa Baru itu kepada penulis menambahkan, dia membeli payung dari hasil tabungannya saat menjadi pemulung.
Untuk tarif menyewa jasa ojek payung, Olleng tidak mematok harga tinggi, dia hanya menawarkan harga yang cukup bersahabat mulai dari Rp.1.000 hingga Rp2.000 untuk sekali lari atau mengantar para pengunjung yang ingin naik ke dalam mobil.
Ketika hujan datang di pagi hari, Olleng mengaku sangat bersyukur.
Hal itu ia lakukan demi membantu biaya sehari-hari orang tuanya yang hanya sekadar untuk makan dan sebagian ia sisihkan untuk tabungan.
Dia juga membantu ibu dan bapaknya meringankan beban di rumahnya. Ibunya hanya ibu rumah tangga dan bapaknya bekerja sebagai sopir angkot.(arf/b)

