MAKASSAR, BKM–Perseteruan dua kandidat jelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat (PD)Sulsel antara pelaksana tugas (Plt) Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Demokrat Sulsel, Ni’matullah dengan Plt sekretaris DPD Syamsu Rizal diprediksi akan merugikan partai berlambang bintang mercy dan menguntungkan pihak lain diluar PD.
Bila merujuk perseteruan antara ketua PD Sulsel terpilih Ilham Arief Sirajuddin (IAS) melawan Andi Nawir MP di Musda yang digelar di Hotel Singgasana Makassar 4 Desember 2010 lalu, para pendukung Nawir MP yang kini menjadi anggota fraksi Gerindra DPR RI, satu demi satu diganti setelah IAS memimpin PD Sulsel.
Jika di Musda Ni’matullah dan Deng Ical-panggilan akrab Syamsu Rizal masing-masing ngotot maju menjadi ketua DPD, maka itu bisa membuat demokrat terpecah. Karena saat ini keduanya punya pendukung cukup seimbang. Dan jika akhirnya bertarung, maka besar kemungkinan terjadi dua kubu lagi dalam PD Sulsel. Hal tersebut disampaikan pemerhati politik dari Indeks Politika Indonesia (IPI) Suwadi Idris Amir, Rabu (17/2).
Olehnya itu, Suwadi berpendapat sebaiknya Ni’matullah dan Deng Ical menyatu memimpin, karena ditangan keduanya sudah solid dan cukup sukses memimpin PD Sulsel. “Jika tetap ribut di Pemilukada, maka gerbong Ni’matullah dan Ical bisa berpotensi berhadapan. karena masing-masing punya kepentingan,”jelasnya.
Hal sama disampaikan Dosen politik Unhas, Adi Suryadi Culla bahwa dinamika yang diwarnai persaingan kandidat menjelang pemilihan ketua di partai politik sebenarnya hal yang biasa. “Yang patut dijaga oleh kandidat dan kader adalah dampak persaingan itu yang bisa memecah, bahkan dapat membelah-belah, malah berbuntut panjang sampai pasca terpilihnya ketua baru,”ujar Adi.
Menurutnya, Musda PD Sulsel tidak terelakan menghadapi dinamika serupa. Tergantung perilaku politik pengurus dan kadernya dalam mengelola pemilihan ketua baru. Atmosfir politik yang menyeruak tampaknya mengerucut pada dua figur utama, yakni Deng Ical dan Ni’matullah bisa berpotensi panas dingin atau hangat, tergantung mereka. “Saya melihat Ical dan Ni’matullah adalah dua kader terbaik yang punya masa depan politik cerah. Demokrat tentu beruntung punya banyak kader yang berkualitas dan masih muda,”ujarnya.
Adi menambahkan, baik Ical maupun Ni’matullah sudah punya pengalaman politik yang cukup. Bahkan sebelum mereka bergabung ke partai besutan SBY itu. “Karena itu, dari segi individual mereka pasti sudah siap dan matang untuk memimpin partai yang telah membesarkan mereka,”jelasnya.
Terkait agenda pemilihan Gubernur Sulsel, menurut Adi , terlalu sumir kalau menjadi bagian berpengaruh menjelang Musda. “Itu masih setahun lebih lagi, apalagi dalam politik itu berbagai kemungkinan selalu bisa terjadi dan sulit diprediksi. Persiapan untuk itu penting, termasuk menyiapkan calon, tapi hal yang tidak kalah pentingnya adalah konsolidasi dan pelembagaan politik termasuk menghadapi perhelatan Musda mereka agar berjalan sukses. Soal model pemilihan voting atau aklamasi dalam arti musyawarah sepanjang tidak ada dominasi kuat untuk suata pola, rezim kepartaian, itu kembali kepilihan yang disepakati dan sah sah saja,”pungkasnya. (jun/rif/c)

