MAKASSAR, BKM — Sebanyak 200-an remaja di Makassar kini terjun ke dunia prostitusi dengan menjadi pekerja seks komersil (PSK). Mereka beroperasi di hotel, salon, panti pijat dan diskotik.
Remaja itu memiliki latar belakang pendidikan yang beragam. Mulai dari pelajar sekolah menengah, mahasiswa dan ada yang bekerja. Mereka menjadi PSK sambil sekolah ataupun kuliah.
Fakta ini dibeber Basti Tetteng, dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM) yang dihubungi, kemarin. Ia ditanya tentang geliat prostitusi remaja di Makassar dewasa ini.
Lebih jauh Basti Tetteng menyebut, saat ini sedikitnya ada 50 persen PSK dari kalangan remaja. Dari hasil penelitiannya terhadap 1.700 sampel remaja Kota Makassar, 50,16 persen diantaranya pernah berciuman dengan pacarnya. Yang lebih ironis lagi, 27,5 persen mengaku sudah pernah berhubungan seks.
”Ini warning dan harus menjadi keprihatinan kita semua, khususnya bagi para orang tua, pendidik dan pemerintah. Apalagi kalau kita ingin mendapatkan generasi berkualitas di masa mendatang,” ujarnya.
Dijelaskan Basti, salah satu faktor penyebab remaja berbuat yang seharusnya tidak dilakukannya itu adalah pengaruh televisi, internet serta pergaulan sosial. Kesibukan orang tua yang kurang melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap anaknya, juga menjadi pemicu.
Selain itu, banyaknya tempat hiburan, rekreasi, hotel, diskotik dan kos-kosan telah membuka peluang yang lebih besar terhadap perilaku seks menyimpang di kota ini.
Terpisah, Ketua Komisi D DPRD Makassar Mudzakkir Ali Djamil menilai, tingginya persentase remaja yang terjun menjadi PSK di kota ini menunjukkan moral mereka sudah rusak. Terutama dalam bergaul.
“Ini hal serius dan harus menjadi keresahan kita semua. Karena menyangkut masa depan generasi kita,” ujarnya, Kamis (18/2).
Diapun mendesak agar Pemkot Makassar bertindak tegas terhadap tempat hibuan malam, yang geliatnya membuka kesempatan terhadap munculnya prostitusi di kalangan remaja.
”Segera razia tempat hiburan malam yang dicurigai ada praktik prostitusinya. Kalau perlu tangkap mucikarinya, amankan PSKnya dan kembalikan kepada orang tuanya,” tegas legislator PKS ini.
Selain itu, tambahnya, harus ada edukasi terhadap remaja untuk menghindari dan tidak terjebak rayuan pihak-pihak yang hendak menjerumuskannya menjadi PSK. Orang tua juga punya tanggung jawab besar menjaga anak-anaknya.
Kepala Dinas Sosial Kota Makassar Muh Yunus, mengatakan pencegahan tindak prostitusi di kalangan remaja dapat dicegah sejak dini melalui perang orang tua.
Menurutnya, banyaknya remaja yang terjebak dalam praktik ini diawali faktor kemiskinan. Tuntutan kebutuhan hidup yang semaki besar, ditambah kurangnya perhatian dari orang tua, menjadi penyebab anak salah arah.
”Akhirnya mereka keluar dan melakukan interaksi yang tidak terarah. Bergaul dengan bebas, yang berujung membahayakan dirinya,” terang Yunus.
Dia mengklaim, Dinas Sosial telah melakukan langkah-langkah penanganan terhadap persoalan ini. Baik pembinaan di dalam panti maupun di luar.
Hanya saja, panti yang disediakan saat ini tidak bisa menampung semua mereka yang terlibat dalam praktik prostitusi untuk diberi pembinaan. Sebab kapasitasnya hanya 50 orang.
Untuk pembinaan di luar panti, dilakukan dengan memberi pengarahan atas dampak yang dilakukan, memberikan keterampilan atau modal usaha dan lain-lain.
Direktur Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Rosmiati Sain, mengatakan maraknya prostitusi di kalangan remaja tidak terlepas dari peran serta orang tua.
“Makanya, peran orang tua dalam mengontrol anaknya sangat penting. Apalagi sekarang sarana komunikasi sudah semakin canggih,” ujar Rosmiati.
Remaja, kata dia, biasanya terjerumus dalam praktik prostitusi, karena faktor desakan ekonomi serta kebutuhan hidup yang semakin meningkat. Sementara anak di usia remaja sangat mudah tergiur dan terpengaruh.
Selain itu juga, menurut Rosmiati, biasanya anak ABG yang terjerumus dalam bisnis prostitusi, kebanyakan karena persoalan lifestyle. “Sekarang kan kita bisa lihat banyak anak yang sudah bergaya seperti orang dewasa. Kalau dia mau bergaya, terus tidak punya uang, pasti mereka akan nekat untuk mencari uang dengan cara seperti itu. Demi mendapatkan serta memenuhi keperluannya,” tandasnya.
Menghadapi persoalan ini, Rosmiati berharap peran pemerintah.
Utamanya lebih maksimal dan lebih ketat lagi mengawasi tempat-tempat hiburan malam, yang biasanya digunakan ABG dalam melakukan transaksi seks.
Dihubungi terpisah, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BPPPA) Kota Makassar Tenri A Palallo berjanji dalam waktu dekat akan turun melakukan pemantauan ke beberapa titik di Kota Makassar yang diduga kerap dijadikan tempat prostitusi.
Hal tersebut dilakukan untuk memantau aktifitas anak yang rentan dilacurkan ke para lelaki hidung belang. ”Jika saat pemantauan ditemukan anak rentan yang dijadikan PSK, pihak BPPPA Kota Makassar akan berupaya melakukan pembinaan kepada anak tersebut,” ujarnya.
Untuk waktu dan tempat yang akan dipantau BPPPA Kota Makassar, Tenri belum ingin membocorkannya. Kegiatan ini merupakan program kerja SKPD yang dipimpinnya.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kota Makassar Iman Hud, menyatakan siap membackup program BPPPA, yang akan turun ke lapangan memantau anak rentan untuk dipelacurkan.
“Kami siap membantu apa yang dilakukan BPPPA Kota Makassar. Saya juga harap Dinas Sosial untuk turun melakukan razia PSK,” tukasnya. (dit-ucu-mat-arf/rus/b)
200-an Remaja di Makassar Jadi PSK -Dari 1.700 Sampel
×

