pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

”Kita Siapkan Tempat Bukan untuk Berbuat Mesum”

Kos Bulanan dan Harian Jadi Tren, Kenapa?

SEBAGAI kota metropolitan, Makassar terus menggeliat selama 1×24 jam. Kesibukan warga kota telah mendorong hadirnya berbagai jenis usaha. Salah satunya kos-kosan.

Laporan: Yusuf Yunus

SEBENARNYA, usaha kos-kosan sudah lama ada. Namun itu biasanya berlaku untuk disewa dalam jangka waktu yang lama. Seperti selama setahun.
Namun seiring berjalannya waktu, tak ingin kalah dengan hotel ataupun wisma, usaha kos-kosan ini menawarkan short time. Jika sebelumnya hanya berlaku sewa per bulan, kini bisa dilakukan per hari.
Bukan hanya di tengah kota ataupun dekat kampus, kos-kosan jenis ini tumbuh subur dan merambah ke pemukiman penduduk.
Kehadirannya semata bertujuan untuk membantu mereka yang tidak memiliki tempat tinggal menetap di Makassar. Utamanya para pendatang.
Namun tak dipungkiri, keberadaan kos-kosan bulanan maupun harian kerap menjadi masalah pelik yang mesti disikapi semua pihak. Sebab usaha ini kerap dijadikan ajang melakukan tindak pelanggaran hingga asusila.
Sementara kehadiran usaha kos ini belum mendapat perhatian serius dari pemerintah. Khususnya regulasi yang mengaturnya. Bahkan kerap pemilik usaha dan pemerintah kerap main kucing-kucingan.
Kehadiran kos harian tentunya sangat disenangi karena memiliki daya pikat tersendiri. Apalagi dilengkapi dengan fasilitasserta kebebasan bagi penghuninya.
Kosan harian di Makassar variatif, termasuk tarifnya. Ada yang tarih sewa hingga Rp250 ribu per hari. Tetapi umumnya hanya Rp 75 ribu hingga Rp 150 per hari. Itu sudah memiliki fasilitas kamar semi hotel.
Keberadaan kos harian sebenarnya dimaksudkan bagi pengunjung yang ingin beristirahat sehari karena tengah dalam perjalanan. Segmentasinya ditujukan kepada pekerja, seperti sopir yang lelah yang ingin melanjutkan perjalanan keesokan harinya atau transit.
Namun belakangan kos harian mulai dieksploitasi dengan berbagai kebutuhan. Salah satunya terindikasi menjadi tempat berbuat mesum. Terbukti dengan adanya tindakan asusila yang dilakukan penghuni kos.
Anwar, salah seorang pemilik kos di kawasan Hertasning, mengaku di tempatnya terdapat 20 kamar. Selain melayani sewa bulanan, juga menerima sewa harian. Tarifnya pun pasti berbeda.
“Kalau sewa bulanan tarifnya mulai Rp700 ribu hingga Rp1,5 juta. Kalau sewa harian Rp100 ribu per hari,” kata Anwar.
Ia mengaku merintis usahanya sejak tiga tahun lalu, dan menyewakan kos harian sejak tahun lalu. Itupun dilakukan saat banyak permintaan sewa harian.
“Prospek usaha ini cukup bagus. Syukurlah, bisa nambah-nambah penghasilan. Kita buat usaha ini semata menyikapi kebutuhan masyarakat yang belum memiliki tempat tinggal menetap. Soal penyalagunaan, tentu dilarang keras. Kalau yang mau sewa harian, tetap didata,” ujarnya.
Sebenarnya, kata Anwar, peminat kosan harian tidak banyak dan tertentu saja. Di tempatnya, dalam seminggu hanya ada belasan orang yang datang menyewa.
Hal sama diungkapkan Daniel, pemilik kos di Jalan Perintis Kemerdekaan. Kos-kosan miliknya menerima sewa harian, khusus bagi pengunjung yang datang dari daerah.
“Biasa banyak sopir yang sewa harian untuk istirahat. Kalau mau menginap, kita minta KTP nya. Selama ini tidak ada pengunjung Dia menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menyiapkan tempat untuk berbuat mesum. ”Kalau ada yang kedapatan melakukan pelanggaran, itu risiko pengunjung. Kita siapkan tempat sewa kos harian bukan untuk mesum,” tandasnya.
Sementara Daniel, mengatakan pihaknya selalu berkoordinasi dengan pihak RT dan RW terkait keberadaan penghuni di rumah kosnya. “Kalau mereka kos per bulan, tetap dilaporkan ke RT dan RW. Masa’ yang menginap hanya sehari dilaporkan juga,” cetusnya. (*/rus/b)



×


”Kita Siapkan Tempat Bukan untuk Berbuat Mesum”

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar