pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Tak Ada Ventilasi Rumah, Gas Beracun Jadi Penyebab

Hasil Sementara Olah TKP di Rumah Korban Keracunan

MAKASSAR, BKM — Penyebab keracunan satu keluarga di Jalan Pelita Raya, akhirnya diketahui. Kejadian yang mengakibatkan meninggalnya dua orang anak itu diduga dipicu gas berbahaya karbon monoksida (CO).
Hasil sementara itu diperoleh dari olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang dilakukan aparat Polsek Rappocini bersama tim Laboratorium Forensik (Labfor), serta Polrestabes Makassar di rumah korban, Selasa (23/2) pukul 14.00 Wita.
Hasil Sementara Olah TKP di Rumah Korban KeracunanSebelumnya, satu keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri Herianto (33) dan Megawati (30), serta dua anaknya Abi Syahwan dan Muhammad Danis mengalami keracunan mengonsumsi pallubasa di Jalan Irian. Namun, ternyata makanan khas Makassar itu bukan menjadi penyebab keracunan.
Dari olah TKP terungkap, sesaat setelah menerima informasi ada peristiwa keracunan satu keluarga, polisi langsung menuju ke rumah korban. Petugas langsung melakukan pengecekan di dalam rumah tersebut.
Ternyata, rumah korban yang juga dijadikan tempat usaha percetakan tidak memiliki ventilasi. Selain itu, ada pula mesin genset yang biasa digunakan untuk menunjang kegiatan usaha ketika listrik PLN padam. Genset itu juga dipakai sebagai sumber listrik untuk penerangan dalam rumah ketika mati lampu.
Pada Minggu dinihari (21/2) pukul 01.00 Wita, Heriyanto menyalakan genset karena listrik padam. Pada saat bersamaan pendingin ruangan (AC) juga dinyalakan. Mesin genset dan AC menyala hingga pukul 04.00 Wita.
Sebelumnya, polisi sudah mengambil sampel muntahan korban untuk diuji di laboratorium. Hasilnya, tidak mengandung zat berbahaya.
Guna pengusutan lebih lanjut, polisi kemudian mengambil beberapa sampel di rumah korban. Seperti cat, tinta serta asap dari mesin genset. Dari sini terungkap bahwa dugaan sementara keracunan dipicu asap dari mesin genset yang kemudian bercampur dengan zat yang dikeluarkan pendingin ruangan.
‘”Setelah menerima hasil lab muntahan korban dari labfor, hasilnya tidak mengandung zat berbahaya. Karena itu kami kembali melakukan olah TKP. Hasilnya, terkuak dugaan sementara mengarah pada asap dari mesin genset yang dinyalakan dari pukul 01.00 hingga 04.00 Wita, Minggu (21/2),” jelas Kapolsek Rappocini Kompol Muari di sela-sela olah TKP bersama tim Labfor, kemarin.
Dijelaskan Muari, pengungkapan penyebab keracunan ini dilakukan secara bertahap. Polisi menemui kendala, karena pihak keluarga menolak dilakukan otopsi terhadap korban yang meninggal dunia.
”Untuk itu kami melakukan olah TKP untuk mencocokkan cairan tubuh dan darah korban pada racun yang menyerang korban, apakah dari asap gencet, cat ataukah tinta,” terang Kapolsek lagi.
Selain itu, tambah Muari, polisi juga mengambil dan memeriksa barang lain yang ada hubungannya dengan peristiwa keracunan ini. Salah satunya voucer listrik.
”Jadi voucer listrik juga kami dalami. Karena korban menyalakan genset lantaran malam itu mati lampu,” jelasnya.
Ditambahkan Muari, setelah melihat ruangan di rumah korban, ternyata tidak ada ventilasi. Kuat dugaan, asap yang dihasilkan mesin genset ketika dihidupkan, tidak keluar. Karbon monoksida (CO) yang dihasilkannya menjadi racun dan mengganggu pernafasan, lalu menimbulkan rasa mual. Selanjutnya menyerang jaringan saraf, hingga menyebabkan pembuluh darah pecah dan mengakibatkan kematian.
”Meski begitu, masih akan dilakukan uji labfor. Setelah ada hasilnya baru kita beberkan,” janji Muari.
Saat polisi melakukan olah TKP di rumah korban, ratusan warga datang menyaksikan. Sambil bercerita satu sama lain, ada diantaranya yang tidak sadar meneteskan air mata. Mereka sedih mengetahui dua kakak beradik dari satu keluarga ini meninggal akibat keracunan.
”Kasihan sekali orangtuanya. Karena mereka hanya punya dua anak, dan dua-duanya sudah meninggal. Masih kecil-kecil lagi,” ujar Salma (35), salah seorang warga berada di lokasi saat polisi melakukan olah TKP.
Dihubungi terpisah, dr Indra Gunawan dari Rumah Sakit Universitas Indonesia Timur (UIT), mengonfirmasi jika kematian korban diduga akibat keracunan karbon monoksida.
“Dari hasil sementara dokter Rumah Sakit UIT sejak menangani korban Heriyanto, dia terindikasi keracunan karbon monoksida,” ujarnya, kemarin.
Dijelaskan dr Indra Gunawan, korban Heriyanto dirujuk ke RS UIT dari RS Faisal pada Minggu malam (21/2). Ia langsung mendapat perawatan medis di Unit Gawat Darurat (UGD).
Dari hasil pemeriksaan klinis, tambah dr Indra, tidak ada tanda-tanda keracunan makanan pada tubuh korban. Karena itu pihaknya tidak melakukan prosedur penanganan keracunan.
“Malam itu sekitar pukul 12.00 Wita pasien sudah membaik, baru bisa dilakukan wawancara lebih jauh. Kemudian juga wawancara keluarga korban dan polisi yang menangani kasusnya,”jelas dr Indra Gunawan.
Gambaran yang diperoleh dari hasil wawancara terhadap pasien dan keluarganya, diduga besar kemungkinan mereka menghirup karbon monoksida (CO).
Dari hasil wawancara dengan keluarga korban, diketahui jika Heriyanto menggunakan mesin genset untuk menyalakan AC di rumahnya dalam kondisi ruangan tertutup. Sebab pada saat itu listrik PLN mati.
Pembuangan akhir (outdoor) AC tersebut berada di dapur rumah korban. Sehingga ada kemungkinan zat yang dari outdoor AC bercampur dengan gas mesin genset, namun tidak terurai dengan baik di udara. Dari situ muncul karbon monoksida.
Menurut dr Indra Gunawan, karbon monoksida yang dihirup dalam jumlah banyak dapat merusak sistem jaringan tubuh manusia. “Kemungkinannya dari sinilah penyebab keracunan gas monoksida terhadap korban,” ujarnya.
Dijelaskan, karbon monoksida merupakan zat yang tidak berwarna dan tidak mengeluarkam bau. Zat ini merupakan hasil pembakaran yang tidak sempurna, dan memiliki ikatan yang lebih kuat dari oksigen (O2).
“Apalagi genset menyala dalam rumah yang tertutup, sehingga pelepasan gas hanya akan terkonsentrasi di dalam ruangan. Tidak ada pertukaran udara yang maksimal,” terang dr Indra lagi.
Tentang kondisi terakhir Heriyanto, dr Indra mengatakan, hingga saat ini sudah semakin membaik. Sebelumnya, saat pertama ditangani, tangan Heriyanto dalam keadaan lumpuh total.
“Tadi malam (Senin malam) tinggal ibu jari sebelah kiri yang belum membaik. Jadi masih harus menjalani perawatan intensif,” terangnya.
Sementara Megawati Nurdin, tambahnya, sempat minta izin pulang untuk melihat pemakaman putranya. Tapi informasi terakhir, dia sudah kembali dirawat di RS UIT untuk menjalani perawatan. (ish/rus/a)



×


Tak Ada Ventilasi Rumah, Gas Beracun Jadi Penyebab

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar